Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Roti, Roti, Roti.


__ADS_3

"Gak juga," kata Echa. "Gue pesen ke abang-abangnya minta topingnya pake kerikil."


"Terus abang-abangnya jawab?" Givan bertanya sambil tangannya terus bergerak mengeluarkan kotak martabak dari plastiknya.


"Katanya, bisa-bisa. Terus di bikinin."


Givan tertawa mendengarnya. Dia semakin penasaran dengan martabak yang di pesan dengan toping kerikil itu.


Givan pergi sebentar untuk mencuci tangan, dan kembali dengan dua gelas air minum. Setelah itu membuka kembali martabak dari Echa, Givan mengambil dan melihatnya, "Pinter abangnya," kata Givan.


"Beneran kerikil isinya?"


Givan mengangguk. "Iya ...semacam?"


Echa ikut melongok melihat, ke dalam kotak itu, dan dia melihat kalau topingnya bisa di sebut semacam kerikil, memiliki terktur yang dama. Martabak kacang.


"Bukan pinter lagi ini. Jenius abangnya," kata Echa sambil tersenyum puas dan duduk kembali di tempatnya. "Bintang lima."


"Kalau gue bitang berapa?" tanya Givan.


"Bikin tujuh," kata Echa. "Bikin gue sakit kepala."


Givan mengernyit. "Bukannya bintang tujuh itu obat?"


"Itu Bintang Toe-djoe," kata Echa. "Lo obat bukan?"


"Gue Givan," kata Givan dengan senyum yang benar-benar membuat Echa pusing. "Givan yang lo suka?" katanya lagi menggoda.


"Cih." Tapi, BENAR! Echa merasakan sendiri pipinya bersemu merah.


"Mau? Gue suapin, gue udah cuci tangan," kata Givan.


Echa menggeleng. "Kalau mau mendingan gue cuci tangan dulu dan makan sendiri." Dari pada di suapin dan jadi harus cuci otak yang di buat oleng-oleng oleh Givan.


Tapi, Givan malah pindah duduk ke sofa yang Echa duduki, duduk di samping Echa sambil membawa martabak itu ke dekatnya.


Mengambil satu lalu di sodorkan, ke depan mulut Echa. "Aaa," kata Givan, maksudnya meminta Echa membuka mulut. Namun, Echa tidak melakukannya, hanya melihat martabak yang ada di tangan Givan.


"Gak ah, gue cuci tangan sendiri aja."


Echa berdiri. Baru detetik lututnya tegak, tangannya langsung di tarik ke bawah oleh Givan hingga kembali duduk.


Echa tidak bisa kembali berdiri karena Givan masih menahan tangannya, malah terasa cengkeramannya itu semakin kuat.


Sebelum Echa sempat membuka mulutnya, Givan sudah menempelkan satu sisi martabak itu ke depan bibirnya.


"Yah ...di cium," kata Givan yang terdengar menyesal sudah membuat bibir Echa menempel di martabak. "Mangkanya buka mulut, aaa."


Akhirnya Echa membuka mulut, dan menggigit martabak itu. Lalu tanpa terduga, Givan mendekat, menggigit sisa bagian martabak yang masih ada di mulut Echa.

__ADS_1


Mematung seketika.


Karena ... Echa merasakannya.


Bibir Givan menyentuh bibirnya.


Sebelum akhirnya laki-laki itu mundur setelah selesai melahap habis martabak itu.


Dari tempatnya, Echa melihat Givan yang sedang mengunyah dan mulutnya penuh. Itu lucu, Echa ingin mencubit dan menarik pipinya sambil bilang, "Kiyowo, kiyowo." Tapi, Echa tidak bisa karena dia merasa sekarang, isi kepalanya seperti bergoyang-goyang.


Setelah itu, Givan terlihat senang, mungkin karena berhasil membuat Echa masuk dalam situasi glicth modenya.


Setelah Givan menelan martabak yang ada di mulutnya, Givan bertanya, "Gue gak lihat lo ngunyah. Langsung di telen?"


Tidak. Bukan, bukan itu, Echa merasa otaknya masih eror karena sentuhan Givan barusan.


"Oca, kunyah."


Dan ...seperti robot yang remote kendalinya baru saja di tekan, akhirnya Echa menuruti apa yang baru saja Givan katakan, mengunyah martabak yang ada di mulutnya dan menelan dengan baik.


Dan sumpah setelah itu, boleh tidak sih Echa mengangkat tangan saja untuk mengatakan kalau dia menyerah? Mengingat bagaimana Givan bergerak begitu mulusnya tadi.


"Givan," panggilnya.


"Udah di telen?"


Echa mengangguk.


Echa menggeleng. "Enggak."


"Oke." Givan melepaskan tangannya dari gelas. "Terus, kenapa?"


"Kayaknya ada yang baru saja pergi?" kata Echa dengan ekspresi wajah yang datar.


"Siapa? Ke mana?"


"Kewarasan gue (lagi)," kata Echa. "Keluar angkasa."


Givan terkekeh mendengar itu.


"Gue balikin," kata Givan. Lalu tangan Givan bergerak seperti menangkap sesuatu di udara, kemudian menepuk-nepuk puncak kepala Echa seolah tengah memasukkan sesuatu -kewarasan Echa- ke sana.


Yah, yah. Sentuhan di kepala itu.


"Gue mau pulang aja," kata Echa terdengar memohon. "Tapi gak sanggup jalan, lo mau gendong bisa gak? Atau gue ngesot aja?"


"Gue gak mau gendong. Jadi lo ngesot aja," jawab Givan sambil tertawa dan membuat Echa merasa makjleb dalam kewarasan yang sudah kembali hilang.


***

__ADS_1


Echa tidak tahu dan sudah tidak peduli lagi apa semalam Givan sudah memaafkannya atau belum. Padahal sebenarnya semalam tujuan Echa membawa martabak ke rumah Givan itu -selain untuk bertemu- dia sebenarnya ingin meminta maaf.


Tapi, di pikir-pikir juga memangnya Givan marah? Atau maksudnya em, cemburu? Karena Echa jalan-- mentraktir Kak Kaivan untuk membalas budi.


Tidak, kan?


Atau iya?


Ah, Echa selalu merasa seperti tersesat dalam pikirannya sendiri setiap kali memikirkan itu. Jadi, sekarang mari buang itu dulu dari kepalanya dan fokus melanjutkan langkah menuju ke kantin dengan pikiran bersih, senyuman manis, dan langkah ringan.


Echa memutuskan kalau dia ingin berangkat sendiri pagi ini ke sekolah, untuk membuat jantungnya beristirahat dulu dari Givan yang pasti akan memancing debaran gilanya.


Semalam, semalam itu, tau tidak apa yang Givan lakukan saat Echa berpikir kalau dia hanya mampu untuk mengesot ke rumahnya?


Givan, Givan nyaris benar-benar membawa Echa ke gendongannya ala-ala bridal style gitu. Untungnya Echa segera berguling ke kanan sebelum Givan benar-benar mengangkatnya.


Kedua lututnya menabrak lantai sementara kedua sikunya menahan sisi dudukan sofa.


Sakit sih dan terlihat memar membiru juga, tapi tidak apa-apa Echa masih hidup.


Sesampainya di kantin Echa memandarkan pandangannya ke etalase kaca di sana. "Roti, roti, roti."


Echa menggumamkan apa yang du carinya. "Bu roti ada?" Akhirnya dia bertanya.


"Oh, ada Neng. Sebentar ya."


Echa mengangguk dan tersenyum.


Akhirnya Ibu Kantin itu menaikkan keranjang roti ke atas etalase.


Echa melihat-lihatnya, dia sedang ingin roti rasa ...blueberry. Tapi, semua roti-roti yang ada di sana hanya rasa cokelat dan ...kacang.


"Bu, rasa blueberry mana ya?"


"Gak ada, Neng, yang best seller itu kan cokelat sama kacang, jadi Ibu sediain yang banyak di suka anak-anak aja. Biar laku semua."


Iya, tapi masalahnya kacang dan cokelat itu dua-duanya membuat Echa teringat dengan Givan.


"Kalau bosen sama cokelat, kacang aja atuh Neng. Enak loh roti rasa kacang itu, gurih-gurih, bisa di gigit gitu Neng. Di jamin yum-yum di mulut."


Aduh apa lagi itu, apanya yang di jamin akan yum-yum?


"Euh, yang ini aja deh, Bu." Echa mengangkat roti cokelat ke atas dan menyimpan roti kacang. "Makasih, Bu," kata Echa setelah memberikan yang dan menerima rotinya.


.


.


.

__ADS_1


...BERSAMBUNG .... ...


__ADS_2