
Perkataan Echa terpotong saat gadis itu merasakan ada sesuatu yang menyusup ke samping lehernya, bergerak terus sampai berhenti di belakang tengkuknya.
Itu tangan Givan yang ....mau apa ke sana?
Echa hanya ingin kejelasan apa Givan menyukainya juga atau tidak, tapi Givan malah membuatnya rumit dengan hal-hal seperti ini.
Lalu saat Echa masih di buat bertanya-tanya tentang posisi tangan Givan itu, Echa melihat Givan mencondongkan tubuhnya. Sedang tangan Givan yang berada di tengkuknya memberi sedikit dorongan, lalu berperan menahan, membuat Echa tidak bisa ke mana-mana saat Givan maju semakin merapat dan menempelkan bibirnya sendiri ke bibir Echa.
Awalnya hanya itu, Echa kira akan selesai setelah beberapa detik berlalu. Sampai akhirnya Givan melakukan gerakan-gerakan lain di bibir yang berhasil membuat lutut Echa lemas dan tubuhnya ingin merosot ke bawah, sedang jantungnya semakin menendang-nendang dari dalam.
***
Seolah belum puas senyum-senyum selama mencuci muka dan menggosok gigi di dalam kamar mandi, saat kembali ke kamar Echa masih senyum-senyum tidak jelas.
Dia, tidak bisa untuk bereaksi biasa saja saat mengingat apa yang Givan lakukan untuk menjawab pertanyaannya.
Eh, itu jawaban bukan sih?
Givan bisa di bilang menyukainya, kan? Lebih dari suka kalau apa yang di lakukannya begitu. Benar? Benar?
Echa merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan melihat langit-langit di kamarnya. Semakin di pikirkan, semuanya terasa semakin menggelitik. Echa sedang berpikir untuk menghubungi siapa lebih dulu, untuk berbagi perasaan senangnya. Namun, Echa merasakan ponsel yang ternyata tertindih tubuhnya bergetar di bawah punggung.
Echa berguling ke samping untuk mengambil dan membuka ponselnya.
Ada satu pesan dari... "GIVAN!" Echa memekik dan langsung duduk dengan tegap sebelum jarinya menyentuh kembali layar ponselnya untuk membuka pesan itu.
[Lo punya waktu besok?]
Waktu? Waktu? Waktu? Givan menanyakan waktunya besok di hari Minggu?
Echa segera mengetikkan jawaban.
[Banyak.]
Terkirim.
Ya ampun salah. Harusnya Echa jangan menjawab begitu. Dia harus jual mahal dulu sedikit, karena mereka belum melakukan peresmian. Minimal, dengan bertanya dulu, 'Kenapa emangnya?' gitu.
Ini langsung ...ah sudahlah. Sudah, kan?
Semoga lebih baik ke depannya.
__ADS_1
Namun, saat ponselnya berbunyi lagi, Echa buru-buru melihatnya.
Ada pesan dari Givan lagi!
[Mau ikut gue?]
Dan Echa langsung amnesia lokal, lupa pada kesalahan pertamanya, lupa untuk jual mahal. Selesai membaca pesan itu, jarinya langsung bergerak mengetik jawaban dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
[Mau. Mau.]
Setelah mendengar suara ketukan yang menandakan pesannya sudah terkirim sekaligus terbaca, Echa baru meringis.
Harus ya, jawabannya 'mau mau'. Dua kali.
Kedengarannya sangat bersemangat sekali.
Dan tidak seperti Echa yang fast respons, Givan baru membalas setelah Echa bernapas selama dua menit.
[Oke, besok jam sepuluh?]
Echa mendengus sambil melihat ke arah jam di kamarnya, jadi pukul sepuluh, ya? Dan sekarang baru pukul sepuluh malam. Tersisa dua belas jam lagi.
"Masih lama!"
Echa sudah mengatakan langsung kalau dia menyukainya, lalu Givan sudah ...melakukan yang pasti berarti kalau Givan menyukainya juga? Jadi, apa lagi? Mereka pacaran, kan?
Terlepas dari Givan yang pernah mengatakan ini itu, sepertinya Givan telah berubah. Dia pasti sudah tergoda oleh ...pesonanya.
"Masa iya masih mau nahan-nahan kalau dia udah sosor, duluan, iya gak sih?" Echa berbicara pada langit-langit kamarnya.
Tapi, kalau ternyata Givan ...masih? Masih berpikir untuk tidak memulai hubungan karena tidak akan menikah?
Pemikiran yang menyusup itu membuat Echa merasa frustrasi menunggu besok tiba, besok jam sepuluh.
***
Givan masih tidak tahu apa yang membuatnya mengambil langkah lebih banyak dari yang sudah dia sepakati dengan dirinya sendiri.
Saat melihat tatap mata Echa yang menganggap kalau perasaan yang di miliki gadis itu bertepuk sebelah tangan, Givan hanya ingin Echa tidak merasa begitu. Givan ingin kalau Echa tahu kalau dia di sukai lebih banyak, dan dia tidak seburuk itu.
Ke tidak jelasan yang selalu dia tampakkan di depan Echa selama ini sudah menjadi masalah, sudah mempermainkan perasaan Echa yang menyukainya sekarang. Akan berengsek jika Givan terus diam seperti yang selama ini di lakukannya, mencari aman untuk dirinya sendiri seperti seorang pengecut.
__ADS_1
Jadi, Givan memutuskan kalau besok dia akan menjelaskan semuanya pada Echa. Apa yang menyebabkan semuanya tidak jelas selama ini, berkaitan dengan masa lalu, dirinya, dan terhubung dengan masa depan.
Segalanya, tentang sisi lain kehidupan Givandra Galaxy yang tidak pernah di ceritakan pada siapa pun.
Givan akan memberanikan diri menjelaskannya pada Echa. "Meskipun resikonya mungkin lo gak terima, gua akan kehilangan lo selamanya."
***
Givan itu suka tempat yang kental dengan nuansa alamnya, ya? Givan pernah mendadak membawa Echa ke Bukit Bintang, dan hari ini Givan membawa Echa ke salah satu tempat yang terkenal dengan hutan pinusnya, masih di kawasan Bandung, tepatnya Bandung Utara.
Udara di sana terasa sejuk dan sinar matahari yang terlihat menembus dedaunan tidak terlalu terik siang ini. Umumnya orang yang datang ke tempat-tempat seperti ini mendapat penyembuhan secara psikologis jiwa, perasaan, dan batin. Healing, istilahnya.
Harusnya Echa juga merasa begitu, merasa tenang saat berjalan di samping Givan, menapaki jalan dengan pohon pinus di kanan dan kirinya. Iya, harusnya merasa tenang. Bukan merasa menjadi orang paling sinting sendirian dengan degup jantung yang tidak beraturan.
Meski sejak turun dari motor, Echa tidak mengatakan apa pun, alias tidak banyak berbacot ria seperti biasa, tetapi pikirannya begitu berisik.
Isi pikiran Echa saat ini.
60% mengagumi penampilan Givan yang hari ini tampak sangat tampan sekali dalam balutan hoodie hitam.
Sedangkan, 30% bertanya-tanya tentang hubungan mereka sekarang. Tentang apa yang terjadi kemarin.
Apa sekarang mereka berpacaran atau tidak? Atau bagaimana?
Dan 5% sisanya, Echa penasaran dengan tujuan Givan membawanya ke sini. Mau apa ya? Meski sebenarnya, Echa tidak keberatan kalau dia hanya diam dan berkedip sambil melihat Givan yang ...omong-omong belum mengatakan apa-apa sedari tadi, hanya berjalan sambil sesekali memegangi tangan Echa, dengan catatan kalau Echa tersandung akar pohon yang mencuat dari tanah, kemudian melepaskannya lagi setelah Echa bisa kembali berjalan dengan benar.
"Echa?" panggil Givan yang langsung membuat Echa mengumpulkan fokusnya, dan melihat Givan.
"Kenapa?"
"Haus?" tanya Givan seraya berhenti melangkah, membuat Echa ikut berhenti juga.
Echa tidak yakin, karena dia tidak memikirkan dirinya.
"Duduk dulu, gue beliin minum," kata Givan sambil menunjuk bangku yang tidak jauh dari tempat Echa berdiri sekarang.
.
.
.
__ADS_1
...BERSAMBUNG .......