Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Jangan Gila!


__ADS_3

Echa tersenyum kecut, tapi benar juga. Itu, sangat mungkin.


Kemungkinan terpahitnya.


"Jadi mules gue," desis Echa mencengkeram perutnya. "Bisa pulang gak sih?"


"Bisa," sahut suara tidak asing dari belakangnya yang membuat Echa berjengit.


Echa berbalik dan mendapati Givan tengah berjalan ke arahnya, memakai baju seragam putih dengan kaos putih yang tersampir di bahu, terlihat segar sambil menyugar rambutnya yang setengah basah dengan jari-jarinya.


Givan berhenti di depan Echa, berhasil membuat Echa merasa paru-parunya terhenti maraup oksigen.


Ganteng. Ganteng. Tolong.


"Ya udah, gue pulang." Echa tidak tahu harus melihat ke mana. Zia juga sudah tidak ada di sana, entah sejak kapan.


"Mana kunci motor lo?" tanya Givan sambil mengangsurkan tangannya ke depan Echa. "Biar gue yang nyetir."


"Bukannya lo bawa motor?"


"Bawa."


"Kenapa lo minta kunci motor gue?"


Givan memincingkan matanya tanpa melepas tatap dari Echa. "Apa lo bakal bawa motor sendiri? Malem-malem?"


"Kenapa enggak?" Echa bertanya balik. "Malem-malem motor tetep jalanya di jalanan, kan? Gak harus gue akrobat dengan jalanin motor di kabel-kabel. Bannya tetep bulet juga, gak jadi segitiga."


Ya, ya benar sih.


"Echa maksud gue---"


"Bawa motor lo sendiri," kata Echa menginterupsi. Kemudian membawa tasnya, menyampirkan ke bahu lalu berjalan pergi.


Melihat itu, Givan buru-buru mengambil tas serta jaketnya yang di tumpuk di sisi koridor dekat parkiran lalu menyurul Echa.


Begitu tepat berada di belakangnya, Givan menyampirkan jaketnya ke bahu Echa yang langsung berbalik melihatnya.


"Gue tau ini jaket yang gue pake semaleman kemarin, tapi dari pada lo gak pake apa-apa lagi," kata Givan sebelum Echa sempat mengatakan sepatah kata pun.


"Gue bawa."


"Bukan jaket, sweter? Atau apa pun yang tadi pagi lo pake itu tipis," kata Givan sambil meraih tangan Echa dan memasukkan tangannya ke lengan jaketnya. Begitu juga dengan tangan Echa yang satunya.


Givan benar-benar memakaikan jaketnya pada Echa sampai menarik resleting ke atas, dan memakaikan kupluknya ke kepala Echa.


Givan sedang menunjukkan perhatiannya atau bagaimana?


"Lo yakin lo bisa bawa motor sendiri sekarang?"


"Gak usah khawatirin gue," desis Echa lalu melanjutkan langkahnya kembali ke koridor.

__ADS_1


Setelah naik dan baru akan menstater, Givan datang dan memutar kunci motor Echa sampai motornya mati lagi.


Echa menghela napas. "Apa lagi sih yang salah Givan? Ini gue mau pulang lo tahan-tahan terus?"


"Gue bakal ikutin lo dari belakang," kata Givan.


Echa mengangguk. "Terserah lo."


Givan menepati janjinya, dia benar-benar mengikuti Echa di belakang. Saat Echa berbelok, mengambil jalan sedikit memutar, Givan tetap mengikutinya tanpa bertanya.


Dan jujur saja, selama perjalanan Echa masih memikirkan apa yang di katakan Zia. Tidak, lebih tepatnya itu mengganggunya sejak pertama kali ia dengar.


Apa maksudnya semua yang di lakukan Givan itu?


Givan sedang mempermainkannya atau bagaimana?


Echa yakin dia tidak akan bisa melewati malam ini dengan nyenyak jika apa yang menjadi keresahannya tidak mendapatkan kejelasan apa-apa.


Jadi begitu sampai di rumahnya, turun dari motornya, setelah melepaskan helm dia menghampiri Givan yang baru memarkir motornya di halaman rumahnya sendiri.


"Givan," panggil Echa.


"Mm?" Givan menggantungkan helmnya yang baru di buka ke spion motornya, lalu turun dan berdiri di depan Echa. "Lo mau balikin jaket?"


Echa menggeleng dengan tegas, dia menatap ke dua mata Givan bergantian sebelum akhirnya menembakkan pertanyaan tanpa aba-aba.


"Lo bener-bener suka sama gue?"


Givan membuka mulutnya sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Seperti ada sesuatu yang tertahan, menahannya untuk bersuara.


"Jangan bikin gue bingung, tolong jawab," desak Echa. Melihat Givan yang diam saja, Echa tidak bisa menahan diri lagi. Dia sudah sejauh ini, jadi sekalian saja. Dia menarik kedua kerah kemeja Givan, lalu berjinjit untuk mendekatkan diri, Givan tertekan tapi Echa tidak peduli. Dia ingin jawaban, kejelasan. "Gue gak akan lepasin bibir lo sebelum lo jawab."


"Jangan gila!" Givan meraih tangan Echa untuk menjauhkan dari kerahnya, tapi, Echa malah makin mencengkeramnya kuat.


"Satu." Echa mulai menghitungnya.


"Berhenti, Echa."


"Dua." Echa sudah berjinjit, tapi tidak ada tanda-tanda Givan akan menjawab. Lalu "Tiga."


Givan melepaskan tangan Echa dari kerah bajunya, kemudian bergerak mengambil satu langkah mundur.


Setelah itu, "Apa pentingnya buat lo?"


Pertanyaan yang baru saja di lontaran Givan membuat Echa membuka mulutnya lalu mengernyit. "Apa pentingnya?"


Givan menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menghela napasnya dan menatap Echa dengan tatapan datar. "Iya, apa pentingnya?" tanya Givan mengulangnya.


Echa merasa jengkel, sudah banyak emosi yang Echa rasakan seharian ini dari pagi.


Givan itu, pernah berpikir tentang perasaan orang lain tidak sih? Apa menurut Givan, perasaan orang lain itu tidak penting? Apa yang di rasakan Echa atas semua yang Givan lakukan padanya, itu, tidak penting?

__ADS_1


Atau lebih parah, Givan merasa tidak melakukan apa-apa selama ini?


Akhirnya Echa memutuskan untuk mengatakannya, meski pun tahu mungkin nanti, saat mengingat pernah mengatakan ini, Echa merasa ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok dengan keras.


"Givan, lo tau gak sih kalau gue itu suk---"


"Masuk ke rumah lo, udah malem." Givan menginterupsi, tatapnya yang datar berubah lembut. "Mau gue anter sampe pintu?"


"Givan, gue lagi ngomong."


"Besok lagi ngomongnya."


Saat Givan mulai menyeret sikutnya untuk melangkah, Echa tanpa berpikir ulang dua kali langsung mengatakannya.


"Gue suka sama lo Givan."


Hening dan beku.


Langkah mereka terhenti.


Sekarang tatap Echa menelusur wajah Givan dari samping mengamatinya lamat-lamat.


Laki-laki itu tampak tertegun.


Cengkeraman di sikutnya melepas.


Apa yang baru di dengan Givan ini bukan hal baru. Givan sudah tahu, sudah menyadarinya. Tapi dia tidak pernah berpikir kalau Echa benar-benar akan mengatakannya langsung. Seperti ini.


Saat Givan belum bisa mengatakan sepatah kata pun, Echa yang sudah berpindah ke depan Givan kembali berbicara, "Jadi, gue tanya apa lo juga suka sama gue? Atau cuma gue yang punya rasa suka sendirian sama lo?"


Givan melepaskan cengkeraman tangannya dari sikut Echa. Dia segera memaksakan otaknya untuk berpikir, apa yang harus dia lakukan dalam situasi ini?


"Apa cuma gue yang suka sama lo?" Echa terus berbicara, mendesak Givan agar menjawab.


Dan, hal pertama yang Givan lakukan adalah memberi gelengan pelan. "Enggak," katanya. "Enggak cuma lo."


Echa mengangkat satu alisnya, dia ingin Givan mengatakannya lebih jelas. Maksud 'Enggak cuma lo' itu, bisa di katakan tidak hanya Echa yang punya rasa suka? Givan juga? Givan juga suka sama Echa?


Iya atau gimana sih?


Givan tolong ngomong lagi. T.T


Situasi ini membuat Echa merasa frustrasi sampai ingin mengguncang-guncang leher laki-laki itu dengan keras.


"Givan---"


.


.


.

__ADS_1


...BERSAMBUNG .... ...


__ADS_2