
"Apa kata nya?" Echa penasaran. "Ada gak kancing nya?"
Tetapi Zia cepat cepat menyimpan telunjuk nya ke depan bibir. "Hah? Ke mana? Tukang jahit di mana? ... Eh buset, jauh banget. Ya udah deh, gue tunggu."
Setelah itu Zia menutup telepon nya.
"Tau gak Angga ke mana?" tanya Zia. "Pergi ke tukang jahit deket rumah nya, demi dapet kancing buat lo."
Echa sempat terdiam saat mengingat ngingat di mana rumah Angga. Daerah Cibiru yang jarak nya tujuh kilometer dari sekolah. Iya juga, jauh. Kasihan.
"Ya salah nya sih, pake narik narik," kata Echa yang menolak merasa bersalah.
"Iya, iya juga kalau gitu. Tapi, btw." Zia merapat kan kedua kaki nya. "Gue kebelet," kata nya sambil menggigit bibir bawah nya.
Echa tau kemana maksud Zia. "Lo mau gue keluar dari sini, nganter lo ke toilet, sambil pegangin baju gini?"
Zia menggeleng segera. "Lo bisa di sini kalau mau. Gue cepet kok."
"Sendiri?" Echa masih sangat ingat dengan mitos horor tentang UKS ini.
"Mau gue panggil Alkana?"
Mereka tidak banyak dekat dengan teman perempuan lain, jadi, Echa mengangguk. "Boleh deh."
Zia mengangguk cepat. "Gue panggil sambil jalan ya? Gak kuat, bye!"
Tanpa mendengar kan Echa yang berteriak teriak, Zia berlari keluar dari UKS dalam keadaan setengah tidak waras karena sudah menahan sedari tadi.
Dia lupa janji nya pada Echa untuk memanggil Alkana, yang ada dalam pikiran nya sekarang hanya cepat sampai ke toilet. Udah, itu saja.
Ketika berbelok ke tikungan, Zia bertabrakan dengan seseorang dari arah lain.
Tanpa benar benar melihat siapa yang menabrak, Zia membungkuk bungkuk. "Maaf, maaf."
Zia akan kembali berlari, saat bagian belakang baju nya di tarik membuat gadis itu tidak bisa pergi.
"Aduh, apa sih?" Zia akhir nya melihat orang itu, yang ternyata Givan.
"Echa mana?" tanya nya.
Tidak terlintas satu pertanyaan pun di kepala Zia saat mendengar Givan menanya kan keberadaan teman nya itu.
Zia menjawab tanpa pikir panjang. "UKS."
"Sendiri?" tanya Givan lagi saat Zia hendak pergi.
Zia mengangguk, saat merasa kan baju bagian belakang nya di lepas kan, dia langsung berlari.
Givan sempat berpikir, kemudian melangkah kan kaki nya pergi ke UKS. Tanpa mengetuk pintu, Givan mendorong pintu UKS sampai terbuka dan menutup nya kembali.
__ADS_1
Mendengar ada seseorang yang datang, Echa langsung berdiri, masih menggenggam baju seragam di bagian bagian dada nya erat erat. "Alkana, bisa gak sih gue---" Echa menggantung kata kata nya saat melihat siapa yang datang. "Ngapain lo di sini?"
"Dari tadi gue cari cari lo," kata Givan membuat Echa mengernyit, kenapa dia di cari? Ingin menanya kan itu, tetapi saat melihat Givan terus melangkah mendekat, Echa tidak melontar kan satu kata pun dari mulut nya. "Ternyata lo di sini."
Jadi situasi nya begini sekarang, mereka berdua ada di UKS yang pintu nya baru saja di tutup. Tegas kan lagi, berdua di ruang tertutup. Hanya berdua!
Dengan kondisi, dua kancing atas seragam Echa terlepas.
Kira kira apa isi pikiran Givan sekarang?
Echa hanya memikir kan semua hal buruk yang bisa di lakukan Givan dari A sampai Z. Lalu, saat tangan Givan menyentuh kancing atas nya sendiri, dan Echa dengan jelas melihat Givan baru saja melepas kan kaitan kancing nya.
Wah, wah? WAH!
Echa bergerak cepat meraih nampan stainless di meja.
Semula, Echa berniat mengguna kan itu sebagai perisai untuk melindungi diri nya sendiri. Tetapi saat Givan maju, Echa jadi panik.
Pikiran buruk nya langsung menyerbu.
Tahu apa selanjut nya? Nampan itu langsung Echa hantam kan dengan keras ke wajah Givan yang ke bingungan.
PRANG!
"Maaf banget, maaf."
"Mm."
"Mau cobain? Biar tau sendiri."
Echa menggigit bibir bawah nya dan menggeleng. Saat menunduk, Echa kembali berkata, "Maafin gue." Ke sekian kali nya.
Givan mencabut tissu dari hidung nya yang tadi di jejal kan Echa untuk menghenti kan darah yang mengalir dari sana. Iya benar, hidung Givan berdarah karena hantaman nampan itu.
Jadi bisa di bayang kan sekeras apa Echa menabrak kan nampan nya ke wajah Givan?
Keras sekali.
Setelah membuang tissu nya ke tempat sampah, Givan mengedar kan pandangan ke seluruh penjuru UKS.
"Gue percaya kalau di sini ada setan nya," kata Givan tiba tiba, kemudian tatap nya tertuju ke Echa. "Karena barusan orang di depan gue ini baru aja kesurupan."
Echa tau 'orang kesurupan' yang di maksud nya itu, diri nya sendiri.
"Gak nanggung lagi kesurupan nya. Bukan kesurupan arwah penasaran yang minta tolong," Givan masih memaku tatap nya pada Echa yang ada di depan nya. "Tapi kesurupan reog."
Echa semakin menunduk kan kepala nya. Kalau dengan me-roasting-nya Givan merasa puas, maka silahkan...
"Gue pikir kita impas," kata Givan akhir nya membuat menberani kan Echa mendongak kan kepala. "Gue pernah lempar wajah lo pake bola futsal, dan lo baru aja bales pukul wajah gue pake ...." arah pandangan mata Givan tertuju ke nampan yang tergeletak dekat kaki nya, dia membungkuk mengambil itu dan kembali berdiri sambil menunjuk kan nampan itu pada Echa. "Wow, sampe bengkok."
__ADS_1
Echa meringis. Seperti nya dia nyaris membuat wajah Givan tercetak sempurna di nampan itu. "Gue minta ma---"
"Gue bilang udah impas." Givan menginterupsi sebelum dia mendengar Echa mengata kan perminta maafan nya lagi.
"Ok." Echa mengangguk. Sekarang, dia hanya perlu mengenyah kan rasa bersalah nya saja.
"Oca," panggil Givan.
"Hem?"
"Liat gue," pinta nya.
Echa menekan saliva nya dengan susah payah, sebelum mengangkat wajah untuk melihat Givan.
Gadis itu menyakin kan diri. Dan Givan benar benar sudah menganggap nya impas, bukan? Dia tidak akan membalas lagi dengan menghantam kan nampan itu ke wajah Echa?
"Apa yang lo pikirin tadi tentang ini?"
Echa melihat Givan kembali menyentuh kancing paling atas nya lagi. "Lo berpikir gue mau ngelakuin perbuatan asusila?" tanya Givan sambil mengangkat alis nya.
"Semacam," kata Echa mengakui nya, masih sambil meringis. "Lagian apa lagi?"
"Ck." Givan mencabut kancing paling atas kemudian meraih tangan gadis itu, membuka telapak nya dan menyimpan kancing nya di sana. "Ini. Sebelum lo bikin gue ciuman sama nampan, tadi gue mau kasih lo kancing ini."
Echa melihat ke telapak tangan nya.
Jadi, Givan akan memberikan nya kancing? Bukan akan melakukan --- astaga, sekotor apa tadi isi otak nya?
"Lo bisa pasang kancing nya sendiri?" tanya Givan.
Echa mengangguk.
"Gue tunggu di luar." kata Givan sambil berdehem. "Kalau lo nanti kesurupan lagi dan mau berpikir mau nelen nampan---" Givan masih dendam tidak sih? Nampan nya di sebut terus. "Kasih tau gue, gue di depan pintu. Nanti gue kunyahin dulu."
Echa tidak tahu harus berkata apa, dia lagi lagi mengangguk.
"Pasangin kancing nya dan keluar kalau udah beres."
Setelah mengata kan itu, Givan benar benar melangkah keluar dan menutup pintu nya.
Echa duduk di ranjang UKS dengan lemas. Dia melihat ke nampan yang Givan simpan di meja.
"Niscala Rescha." Echa memanggil nama nya sendiri. "Besok kalau mau sekolah jangan cuma sikat gigi, tapi sikat juga otak nya." Echa mengata kan nya dengan putus asa. "Kenapa sih ah? Kotor banget pikiran nya."
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung... ...