Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Jedag-Jedug


__ADS_3

Echa mendengar jelas suara Givan, tapi tidak bisa mencerna dengan baik peringatan apa yang di maksudnya.


Ada Zebra di Mall? Kuda Zebra? Yang belang-belang?


Saat Echa membuka mata, dia melihat Givan yang mendekat ke arahnya. Lalu ... kejadiannya cepat sekali, tau-tau Echa di tarik merapat ke tubuh Givan, sisa kesadaran berhasil membuat Echa mengontrol untuk menjaga es krim yang di pegangnya agar tidak menabrak baju Givan.


Iya, es krimnya tidak menabrak, tapi pipinya menabrak dada Givan. Ya ampun dada lagi.


Dan, hal lain yang Echa sadari adalah kalau sekarang, dia ada dalam dekapan Givan.


1... 2... 3...


Selamat datang lagi, di Echa mode nge-bug.


"Lo gak apa-apa?" tan Givan setelah menjauhkan tubuhnya sedikit, dia melihat Echa yang masih belum mendapat fokus nya kembali. "Oca?"


Echa mendongak sedikit, melihat wajah Givan yang cukup dekat. "Katanya ada Zebra," kata Echa. "Gue gak liat Zebra, tapi gue liat dada lo," paparnya, kemudian Echa melihat ke mata Givan bergantian. "Sekarang gue lagi lihatin lo."


Givan lagi-lagi di buat tersenyum karena mendengar perkataan Echa. "Mau lihat Zebra?"


Echa mengangguk, iya harus. Echa merasa harus melihat Zebra itu sendiri agar tidak berpikir kalau Givan mengada-ngada karena ingin memeluknya.


Dan melihat anggukan itu akhirnya Givan membalikkan tubuh Echa, kemudian menunjuk kuda Zebra yang bergerak dengan roda.


Echa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, ternyata bukan kuda Zebra seperti apa yang ada dalam bayangannya. Bukan, jauuuh sekali.


Yang Givan sebut akan menabrak Echa adalah kuda Zebra versi odong-odong yang biasa di naiki anak-anak keliling Mall.


"Gue mau ke tabrak itu ya tadi?" tanya Echa.


"Iya."


Echa berbalik. "Wah terima kasih, aku berhutang nyawa kepadamu," katanya dengan datar dar berlalu.


Givan mengikutinya, tapi tidak berjalan di samping Echa atau mendahului nya seperti tadi. Setelah membuat Echa memegang es krim miliknya, Givan berjalan di belakang Echa dan memegang kedua bahunya.


"Kok kayak main ular-ularan sih?" tanya Echa yang merasa aneh dengan posisi jalan seperti ini.


"Takutnya ke tabrak Zebra lagi, atau ilang," jawab Givan. "Kalau gini kan, kalau mau ke tabrak tinggal gini," kata Givan sambil menarik sedikit bahu Echa, membuat langkahnya terhenti. "Terus gini," Givan melingkarkan tangan di lehernya, membuat punggung Echa menempel ke dadanya.


Aduh, terus aja terus. Bikin Echa meleleh sama es krim - es krimnya.


***


Givan mengajaknya untuk menikmati es krim di tangga melingkar yang ada di luar ruangan. Setelah mereka sama-sama duduk, rasa canggung langsung Echa rasakan.


Echa tidak tahu apa yang harus di lakukan nya selain menjilat es krimnya, berkedip, dan bernapas.


Tidak terpikirkan apa-apa, sampai teringat dengan Yuyun.

__ADS_1


"Lo bakal keluar sama Yuyun nanti malem?"


Setelah mengatakan itu, Echa mencuri lirik ke sampingnya, ke Givan.


"Boleh, gak?"


Hah, kok nanya sih?


"Kenapa harus izin sama gue?"


"Gue kan, Gayung Lopenya lo," kata Givan berhasil membuat Echa meringis malu, masih aja di ingat. "Kenapa jadi 'Gayung Lope'?"


"Gak tau," desis Echa.


"Oca," panggil Givan.


Echa hanya menyahut lewat gumaman.


"Lihat gue dong," pintanya membuat Echa menoleh sebentar, lalu karena tidak kuat Echa melihat ke depan lagi.


"Bayar berapa mau di lihatin gue?" katanya sambil mendengus.


"Kalau ambil paket gratis berarti harus buka baju lagi kayak tadi, ya?"


Hah? Apa? Apa?!


PLAK! Echa memukul punggung Givan dengan keras, tapi yang di pukul malah tertawa. Dan tidak kapok. "Lo tadi lihatin gue, kan?" Givan melempar tuduhannya.


"Lihat."


"Enggak, ih!"


"Oh iya enggak," kata Givan sambil mengangguk-angguk akhirnya. "Enggak di lihat. Cuma di pelototin aja."


"Van ... ah gue pulang!" Echa sudah bersiap-siap untuk berdiri dan pergi, tetapi Givan menarik tangannya dan kembali membuat Echa duduk di sana, Givan tidak melepaskan tangannya bahkan saat melihat Echa duduk dengan damai.


"Oca," katanya setelah Echa duduk.


"Apa? Apa? Apa?" Echa mulai nyolot.


"Gue suka panggil nama lo. Itu asal-usulnya kenapa gue namain kucingnya Oca," papar Givan yang membuat jiwa-jiwa kenyolotan Echa ter-jinakkan sedikit. "Lo belum tau ya, kalau alasan gue balik ke sini, maksudnya tinggal di kompleks itu ... karena lo? Niscala Rescha?"


Maksudnya 'karena'? Echa menjadi alasan atas keputusan Givan?


"Ada masalah sebelum gue datang ke sini, sesuatu yang bisa aja bikin gue hancur," papar Givan dengan tatapan menerawang, mengingat kembali permasalahan yang dia tinggalkan di belakang. "Tapi gue baik-baik aja karena lo."


Akhirnya Givan bisa mengatakan itu, langsung pada Echa. Dan tentu saja seperti apa yang ada dalam bayangan nya, Echa terdiam saat Givan memaparkan semua itu.


"Karena---"

__ADS_1


"Givan bisa berhenti dulu sebentar?" kata Echa sambil menutup kedua telinganya. "Jangan ngomong lagi."


Givan mengangkat sebelah alisnya.


"Apa lo gak pernah merasa apa-apa dengan ngomong kayak gitu?" Masih dengan menutup telinganya, Echa melihat Givan dengan serius. "Lo sama sekali gak merasa apa-apa?"


"Emangnya gue harus merasa apa?" tanya Givan dengan tidak mengerti.


Echa tidak tahu bagaimana harus menjelaskan nya, perasaan yang jedag jedug tidak jelas itu. "Pokoknya perasaan Dj Bonbon Remix."


Givan semakin mengernyit. "Apa sih?" Dan Givan tertawa.


"Berdiri," pinta Echa pada akhirnya sambil dia sendiri berdiri.


Dan Givan menurutinya untuk ikut berdiri.


Setelah itu, Echa naik ke satu tangga yang lebih tinggi, membuat posisi wajah keduanya sejajar sekarang.


"Gue mau tau, apa lo gak merasa apa-apa?" Echa terlihat serius sekarang, dengan tatap yang tertuju lurus ke sepasang mata Givan.


"Apa yang lo maksud?" Givan tidak mengerti.


Bukannya menjawab, Echa malah membuat Givan memegang es krimnya, sebelum akhirnya kembali melihat Givan.


"Apa lo benar-benar gak berasa apa-apa. Bahkan ketika ini terjadi.


Setelah mengatakan itu, Echa menyimpan satu tangannya di dada Givan, sementara satu tangannya hinggap di bahu laki-laki itu, berperan sebagai tumpuan.


Kemudian, setelah kedua tangannya ada di tempat yang tepat -menurutnya, Echa bergerak maju, untuk ... menempelkan bibirnya sendiri ke bibir Givan.


Seketika, keduanya terpaku dalam beku.


Dengan apa yang di lakukannya ini Echa bermaksud ingin tahu. Apa Givan merasakan getaran jedag jedug di dadanya karena ini? Atau tidak, sama sekali?


Tetapi sebelum Echa mendapatkan hasil dari tujuannya, yang lagi-lagi Echa dapatkan adalah dirinya sendiri. Dia yang malah berdebar-debar gila, seperti ada kuda lumping beraksi di dalam dadanya.


Ini akan tidak benar kalau di teruskan.


Echa berhenti dan menarik dirinya kembali, lalu dia mendapati Givan menatapnya dengan datar, dan -tanpa di duga- bertanya, "Masih lapar?"


Echa mengerjap.


Satu sudut bibir Givan tertarik. "Gue gak tau kalau Omnivioca kelaparan, bisa makan bibir gue juga."


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung......


MOHON DUKUNGANNYA BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT,😊


__ADS_2