Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Aku Mau Jadi Pensil


__ADS_3

"Gak gitu konsepnya," Echa berdecak. "Sana nyapu lagi, ah, sekalian sapuin otak lo dari pikiran kotor."


Zia hanya terkikik dan itu membuat Echa berdecak.


"Awas kalau lo bilang itu ke orang-orang! Gue copot pala lo," ancam Echa.


Zia mengangguk, kemudian membuat gerakan seolah baru saja merapat kan resleting di mulutnya. "Rahasia lo aman, jadi lo bisa santai."


"Gak ada rahasia-rahasia Zia, ah lo." Echa hendak meraih kepala Zia, tapi gadis itu lebih dulu lari.


"Jangan ngejar gue ya, gue sorok nih lo pake sapu."


"Pede banget. Gak akan." Echa masuk ke bangkunya dan duduk, membuka tasnya lalu membuka kotak makanan yang dia isi dengan roti-roti dari rumahnya.


Echa memakannya, sambil menghadap ke depan. Tidak ada yang salah dengan itu. Sampai saat merasakan manis dari selai cokelat di lidahnya, rasa manis juga di rasakan di bagian lain, manis karena teringat senyum Givan yang ... manis -yang biasanya selalu Echa lihat dari tempat itu saat Givan duduk di depan menoleh ke padanya.


"Aish." Echa menggigit rotinya sekali dan memutuskan untuk menghabiskan nya sambil menunduk dalam dalam. Dia tidak akan melihat ke depan lagi dan ... membayangkan Givan lagi.


Setelah roti habis, Echa merasakan lehernya kaku karena terus menunduk. Jadi ini akan lebih buruk, kan? Seandainya seharian ini dia menunduk demi tidak melihat ke depan? Ke Givan?


"Zia," panggil Echa dengan putus asa. "Mau tukeran kursi gak?"


Zia yang sudah menyapu seisi kelas langsung mendekat pada Echa. "Serius?" Zia sudah mendambakan kursi Echa sejal lama.


Percayalah, kursi dekat tembok itu seperti kursi tahta. Kursi favoritnya semua murid. Selagi menyimak pelajaran, bisa menempelkan punggung dengan nyaman ke dinding yang terasa sejuk.


"Kenapa nih, tiba-tiba?" tanya Zia dengan cengirannya.


"Mau suasana yang beda aja."


Zia masih tidak percaya.


Awal semester kemarin, mereka nyari musuhan untuk merebutkan kursi itu, untung Alkana menengahinya dengan membuat perjanjian begini: Zia dan Echa bisa duduk di kursi dekat tembok itu bergiliran, selama dua semester.


Karena Echa menang suit, dia bisa menduduki kursi itu selama semester satu, enam bulan pertama kelas Sebelas. Sedangkan Zia harus menunggu semester dua nanti, karena mengeluarkan gunting saat Echa mengeluarkan batu.


Sekarang? Belum pertengahan semester, Echa sudah minta bertukar? Kan jadi mencurigakan, ya?


"Meperin upil ke tembok, gak?" tanya Zia.


"Gak lah emang bocah."


"Terus?" Zia sok jual mahal dan membuat Echa jengkel juga.


Echa tidak mau menjelaskan alasan sebenarnya pindah. "Ya udah kalau gak mau."


"Mau, mau. Tapi kita bikin perjanjian lagi," kata Zia siap dengan mengeluarkan alat tulisnya, kemudian mencabut kertas dua lembar dari buku. Dengan bersemangat, Zia menulis kertas itu.

__ADS_1


Yang di tulis Zia: [ Saya (Niscala Rescha) yang bertanda tangan di bawah ini. Dengan ini menyatakan untuk membatalkan perjanjian sebelumnya untuk menyerahkan kursi pada pihak ke dua (Elzia Kanifa) sebelum waktu perjanjian pertama usai.


Tanpa paksaan dari pihak manapun.


Jika suatu hari saya melanggar perjanjian tanpa persetujuan pihak kedua, maka saya akan---]


Zia menghentikan gerakan pulpennya, kemudian melihat ke Echa. "Punishmentnya apa kalau lo langgar?" tanya Zia.


"Apa aja terserah lo." kata Echa yang malas, dia ingin bertukar bangku saja harus teken kontrak dulu. Dasar kaun SESAT.


Zia tersenyum lalu kembali menulis lagi. Setelah selesai, dia menyodorkan kertas itu ke Echa, tapi tak lama menariknya lagi. "Eh nunggu Alkana dulu kali ya? Buat saksi?"


"Terserah lo Zia, terserah."


Zia menganguk-angguk. "Boleh gue tes dulu gak kursinya?"


Echa mengangguk dengan gerakan malas, dia berdiri dan berpindah, membiarkan Zia duduk di sana untuk melihat-lihat. "Udah kayak beli rumah tukeran kursi doang, astaga."


Begitu pindah ke calon kursinya, Zia memeriksa ke semua sudut, memastikan tidak ada yang salah. Sampai menyalakan senter ponselnya agar bisa melihat lebih jelas.


"Kenapa lo senter-senterin kursi Echa? Ada kecoa?" tanya Alkana yang sudah datang. Alkana melihat ke Echa yang mengangkat bahu, kemudian pada Zia.


"Bilang kalau ada kecoa, gue ambilin."


"Bukan, gue mau tukeran kursi sama Echa," jawab Zia dengan senyumnya.


Echa mengangguk. "Jangan tanya kenapa," kata Echa segera sebelum Alkana membuka mulut.


"Oh, oke, oke." Alkana mengangguk.


Zia merasa cukup untuk memeriksanya, mumpung ada Alkana di sana, dia teringat dengan perjanjian yang harus segera di resmikan.


"Kita bikin perjanjian lagi," kata Zia menunjukkan kertasnya pada Alkana. "Lo jadi saksinya ya."


Alkana terkekeh. "Siap." Memang sudah terbiasa dengan dua teman perempuannya yang sangat aneh-aneh ini.


"Ayo tanda tangan." Zia menyodorkan kertasnya pada Echa.


Echa menandatanganinya tanpa benar-benar membaca. Tentu saja, itu kemudahan untuk Zia. Dia segera menandatangani bagiannya, kemudian menyerahkan nya pada Alkana untuk membuat perjanjian itu kuat, karena memiliki saksi.


Berbeda dengan Echa, Alkana membacanya dengan seksama. Dia terkejut sendiri saat melihat kalimat terakhir, apa yang menjadi hukuman jika Echa melanggar janji.


"Lo yakin udah baca perjanjiannya?" tanya Alkana pada Echa.


Echa mengangguk.


"Oke." Alkana menekan pulpennya. "Gue setujuin ya."

__ADS_1


Dan Alkana pun membubuh kan tanda tangannya di sana.


"Siapa nih yang mau simpen?" tanya Alkana sambil mengacungkan kertasnya.


"Gue, gue." Zia menunjuk diri. "Mau gue laminating."


Benar saja sebelum kelas di mulai, Zia pergi ke koperasi sekolah untuk melaminating perjanjian konyol itu.


"Lo udah bener-bener baca kan, sebelum tanda tangan?" tanya Alkana memastikan lagi pada Echa.


"Udah," jawabnya. "Lagian gue gak akan pindah lagi kok."


"Kenapa?"


"Gak akan aja."


Akhirnya Alkana mengangguk.


Echa seyakin itu. Sampai kelai di mulai, Zia baru kembali dengan kertas perjanjian yang sudah di laminating dan Givan duduk di bangkunya.


Echa baru menyadari kalau dari kursi itu, dia malah melihat GIVAN SEMAKIN JELAS!


Echa memang tidak melihat punggung Givan, tapi lebih parah Echa melihat wajah Givan dari samping, yang membuat fokusnya mencar-mencar.


Dia melihat bagaimana Givan menempel-nempelkan pensilnya ke dekat bawah bibir sambil menyimak Bu Friska -Guru BK- yang sedang menjelaskan tentang 'pentingnya cita-cita' yang tidak terlalu Echa dengar.


Kursi itu jauh lebih berbahaya, Echa rasa.


Lihat, sekarang Echa di buat terpaku sendiri, dengan tatap yang tertuju pada Givan yang masih memainkan pensilnya?


Kenapa sih Echa?


Tidak tahu.


Echa hanya tidak bisa melepas tatapnya, seperti serpihan magnet di dekatnya dengan panci. Fokus Echa di buat menempel erat pada Givan.


Sampai saat Bu Friska bertanya, "Coba Niscala Rescha, kamu mau jadi apa?"


Tanpa berpikir, masih sambil melihat Givan, Echa menjawab. "Aku mau jadi pensil aja, Bu."


.


.


.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2