
"Nunggu Alkana nganter Zia?" tanya Kak Kaivan terdengar basa-basi.
Echa menggeleng. "Bukan, nunggu Givan anterin dulu ... Yuyun." Echa benar-benar enggan menyebut namanya.
"Oh, jadi sekarang satu circlenya sama Yuyun?"
Echa bergidik, ingin sekali menjelaskan dengan super powernya, kalau sangat amit-amit sekali dia berteman dengan Yuyun Si Centil yang sedang menjadi Ratu Drama itu.
"Enggak sih, aku masih temenan sama Zia, sama Alkana juga."
"Oh, ya? Terus sama ... Givan?"
Duh, apa sih di tanya-tanya begini. Echa juga jadi bingung menjelaskannya.
"Dia..." Echa berpikir, bagaimana dia harus menjelaskan tentang Givan. "Dia tetangga depan rumah Kak. Jadi kita mau barengan pulang karena searah, gitu."
Kaivan mengangguk-anggukan kepalanya. "Pacaran?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh, bukan sih," kata Echa sambil meringis mengingat status hubungannya itu.
Sepuluh menit berlalu dan Givan belum kembali.
Di titik ini Echa benar-benar ingin tahu rumahnya Yuyun itu ada di belahan bumi bagian mana sih, hah? Jauh banget, gak nyampe-nyampe.
Dan sepertinya Kak Kaivan menyadari Echa yang sudah mulai kesal menunggu itu.
"Masih lama ya?" katanya. "Mau di anter gak nih? Bilang aja sama temennya kalau udah di anterin."
Itu adalah pilihan yang menggiurkan, terlebih sekarang perut Echa sudah sangat-sangat keroncongan. Echa menyempatkan untuk melihat ke ponselnya, memeriksa apa ada jawaban dari Givan atau tidak, dan ... tidak ada.
Echa baru saja menyempatkan waktu memeriksa balasan pesan dari orang yang tidak menyempatkan waktu untuk membalas pesannya.
Dan karena sudah terlanjur, biarkan Echa membuang waktunya sekali lagi. Echa mengetik satu pesan lagi untuk di kirimkan pada Givan.
[GAK USAH JEMBBUT GUE KE SEKOLAH, GUE UDAH DI ANTER DEDEMIT.]
Send.
Lalu, Echa terbelalak sendiri saat melihat salah ketik di pesannya, ya mana di tulis dengan kapital semua.
[*typo JEMPUT.]
Dan mengirimkannya lagi. Jadi dua pesan ternyata, bukan satu. Ya sudahlah anggap saja bonus yang satunya.
Setelah memasukkan ponsel ke saku, Echa berdiri. Dia belum berkata apa-apa, belum memberikan persetujuan, saat tiba-tiba teringat lagi dengan, Dita.
__ADS_1
"Enggak masalah sama Dita, kan? Kalau Kakak anter aku?" tanya Echa dengan hati-hati.
Kak Kaivan menepuk pahanya sambil berdiri, lalu tersenyum dan menggeleng. "Enggak," jawabnya.
Syukur kalau begitu, Echa mengambil helmnya. "Bukan tipe pencemburu ya Dita tuh?" Sedetik setelah mengatakan itu Echa ingin menimpuk mulutnya sendiri dengan helm di tangannya.
Dita itu, pintar, cantik, the most wanted girl SMA Nusa Bhakti. Buat apa cemburu sama remahan kue ape kayak Echa ini?
Kak Kaivan pasti ingin tertawa ngakak mendengar itu.
Melihat senyum Kak Kaivan, Echa jadi semakin yakin kalau dia di tertawakan di dalam hatinya oleh Kak Kaivan. Tapi sedetik kemudian, keyakinannya di patahkan ketika dia mendengar Kak Kaivan mengatakan, "Kita udah putus kok." Dengan senyum.
Echa jadi syok. "Beneran?"
***
Echa tidak tau harus membicarakan apa dengan Kak Kaivan selama Kak Kaivan mengantarnya pulang malam ini dari sekolah ke rumah.
Karena bingung, Echa jadi dia menyibukkan diri dan pikirannya dengan cara menghitung tukang nasi goreng di jalan.
Dan yang baru di lewatinya adalah roda nasi goreng yang ke, "Tiga belas," gumam Echa tepat saat Kak Kaivan berhenti dengan mulus di lampu merah.
"Apa?" tanya Kak Kaivan yang mendengar samar.
"Oh, hahaha." Kak Kaivan tertawa keras. "Kok di hitung, kamu mau?"
Eh, kamu? KAMU?
"Enggak," kata Echa berbohong.
Dia sedikit terkejut mendengar panggilan yang biasanya hanya di pakai orang yang berpacaran itu.
Mungkin Kak Kaivan masih bingung, karena baru putus? Masih terbawa hawa-hawa membonceng pacar?
Itu penjelasan yang Echa buat untuk dirinya sendiri.
Lalu, entah ini kebiasaan Kak Kaivan atau bukan, Kak Kaivan mengendarai motornya dengan laju kecepatan yang pelan sekali, seperti keong. Echa sampai mengantuk di jalan, tau-tau melewati gerbang kompleks dan sampai di depan rumahnya.
"Thanks Kak, udah anter," kata Echa setelah turun. Dia menahan diri untuk tidak menguap sekarang. "Mau masuk dulu?"
Kak Kaivan menggeleng. "Kakak mau ke sekolah lagi, lanjutin dekor kelas."
Mendengar itu, Echa membuka matanya lebar. "Gak pulang?" tanyanya. "Jadi ke gerbang bukan mau pulang?"
Kak Kaivan menggeleng. "Bukan, tapi mau keluar buat beli bahan dekor yang kurang."
__ADS_1
Echa semakin di buat terbelalak. "Kak, kok gak bilang?" Echa sudah benar-benar mengira kalau Kak Kaivan akan pulang.
"Tadi gak di tanyain juga, kan?" kata Kak Kaivan seraya tersenyum.
Echa semakin di buat tidak bisa berkata apa-apa.
"Makasih sekali lagi Kak," kata Echa. "Mmm, nanti aku traktir kapan-kapan."
"Oke," kata Kak Kaivan seraya memutar kunci dan menyalakan motornya. "Duluan ya."
Setelah mengatakan itu, Kak Kaivan benar-benar pergi meninggalkan Echa yang merasa sedikit tidak enak. Tau Kak Kaivan tidak akan pulang, ngapain Echa minta di antar.
"Malu banget," desis Echa. "Mau nyelem aja."
Echa berbalik untuk masuk ke rumahnya. Tapi di saat yang sama, dia mendengar suara motor yang mendekat, suara motor yang tidak asing. Saat Echa berbalik lagi untuk melihat, benar saja, tepat seperti dugaannya itu Givan yang melewatinya begitu saja dan langsung memarkirkan motornya di depan rumahnya sendiri.
Kelihatan tidak sih, Echa ada di sana?
Merasa bersalah, tidak sih?
Melupakan perutnya yang keroncongan, Echa berlari masih dengan helm yang masih terpasang di kepalanya. Dia pergi ke depan halaman rumah Givan, dan langsung menyemprotnya begitu Givan membuka helm dan turun dari motornya.
"Nganterin Yuyun ke mana sih? Planet Hoka-Hoka?" tanya Echa sambil melihat Givan yang balas menatapnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan. "Kalau mau lama minimal bales chat gue kek, jangan bikin gue nungguin lo lama-lama tanpa kepastian."
"Maaf," kata Givan setengah bersandar di motornya menghadap Echa.
"Maaf?" Echa merasa muak mendengar kata itu. "Sok-sokan banget mau 'jagain gue' yang bakal pulang malem, kalo nyatanya jadi 'jagain orang'." Kenapa sih lo iya-iya aja pas Yuyun mau minta anter, hah? Ngeselin tau gak sih, lo itu. Bikin gue berharap sama ---"Lo."--- Nasi goreng, tapi nyatanya halah. Kayak permen kojek lo tuh, manis doang di mulut. Gampang di bangsat di kenyataan!"
"Echa---"
"Apa?!" Echa nyolot dengan mata melotot.
Tapi tatap lembut Givan berhasil membuat Echa berhenti melakukannya.
Setelah Echa di buat terpaku, Givan menegakkan tubuhnya kemudian melepaskan helm dari kepala Echa lalu menggantungkannya di spion motornya sendiri.
.
.
.
...Bersambung......
MOHON DUKUNGANNYA 🤗🤗
__ADS_1