Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Berjiwa Koin Gope


__ADS_3

Setelah mengangguk dengan senyum puas, Kak Kaivan pergi. Dan tepat saat itu, ketika pandangan Echa dengan mengekori Kak Kaivan, dia melihat Givan yang berdiri di tangga tribun yang tidak jauh darinya.


Dan melihat bagaimana Givan menatapnya sekarang, Echa merasa bersalah. Echa segera menggerakkan kakinya, berlari mendekati Givan yang selagi Echa menuruni tribun, Givan memutar tubuhnya untuk kembali turun.


"Van, bentar." Echa berhasil menghentikan Givan dengan memotong langkahnya.


Givan tidak menjawab, hanya menatap Echa dengan datar.


Echa tidak tahu apa dia harus menjelaskan apa yang di bicarakannya pada Kak Kaivan. "Lo---" Cemburu? Bisa tidak Echa bertanya begitu?


"Kenapa?" Suara Givan barusan terasa dingin, berbeda jauh dengan bagaimana Givan berbicara dengannya tadi pagi.


Echa menggeleng pelan, kemudian menyodorkan minuman di tangannya ke Givan. "Buat lo."


Dan Givan tidak mengambil botol yang di sodorkan Echa, dia hanya menggeleng, menampilkan senyum paling terpaksanya dan berkata, "Gue punya minuman sendiri." Lalu, melewati Echa dan meneruskan langkahnya untuk kembali ke bawah.


Echa menghela napas keras di sana sepeninggalnya Givan.


"Ck, Kak Kaivan. Bisa gak sih traktirannya gue go-foodin aja?"


***


Seolah sudah menahan hajat sejak berakhirnya jam istirahat, Givan bergegas pergi keluar dari kelas tanpa mengatakan apa-apa saat bel pulang berbunyi.


Dan Echa, jika bukan karena harus melipir ke toilet -karena kebanyakan mengkonsumsi air, Echa pasti sudah mendapatkan Givan, sudah menghentikannya.


"Jadi Givan bener-bener go away?" tanya Echa di panggilan telepon pada Zia yang katanya ada di tempat parkir. Sedangkan, Echa sekarang masih berjalan di koridor, berjalan dengan langkah cepat.


["Iya, baru keluar dari gerbang."]


Ya ampun memang tidak ber-flavour ya cowok itu.


Tadi saat Echa bilang kalau pulang sekolah dia akan pergi dengan Kak Kaivan, Echa hanya mendapat jawaban singkat dari Givan.


"Yes, sure girl." Begitu.


Hanya itu yang di katakan Givan dengan deep voicenya yang terdengar meledek dan menyebalkan.


["Lo tadi berangkat sama givan, kan?"] Suara Zia terdengar lagi.


"Iya?"


["Oke jadi gini ya situasinya, di ketahui Echa berangkat dengan Givan ke sekolah. Namun, saat pulang Givan pergi duluan karena suatu alasan. Pertanyaannya di mana tepatnya titik koordinat helm Echa di tinggalkan?] kata Zia terdengar seolah sedang membacakan soal ujian sambil menahan tawa.


Jadi, helmnya?


Setelah panggilan berakhir, Echa memasukkan ponselnya ke saku, kemudian berlari cepat untuk menuju ke tempat parkir, sampai ke area di mana motor Givan terparkir tadi, Echa membuka mulutnya saat melihat helmnya di tinggal begitu saja di sana dengan mengenaskan, tergeletak sendirian begitu saja di antara dia motor yang terparkir di kedua sisinya.


Keterlaluan tidak sih, Givan?


Echa mengambilnya dengan wajah cemberut.


"Apa tidak kasihan sama helm gue? Manusia itu bener-bener tidak berperi ke helm-an," kata Echa yang sudah memeluk helmnya sendiri dan mengusap-usap bagian atasnya seolah sedang mengusap kepala seseorang.

__ADS_1


"Hai, Echa."


Suara seorang dari belakang, membuat Echa menoleh. Ada Kak Kaivan di sana yang ke datangannya sama sekali tidak membuat suasana hati Echa membaik.


"Kok di belai-belai helmnya?" tanya Kak Kaivan.


Belai dong bahasanya.


Echa melihat ke helmnya, kemudian mengingat kembali saat helmnya di tinggalkan di sana.


"Gak apa-apa cuma mau sayang-sayang aja Kak," kata Echa seolah mengadu.


"Kenapa di sayang-syang?" tanya Kak Kaivan sambil mendekat dan menahan senyum melihat ekspresi wajah Echa yang cemberut, seolah benar-benar sedang menunjukkan rasa sayang yang tulus nan murni pada helmnya.


"Sayang aja." Atau lebih ke kasihan sih, karena udah di tinggal Givan kayak gue.


Sementara itu, Kak Kaivan mengangguk-angguk sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Kita pergi sekarang? Motor kamu di mana?"


Echa menggeleng. "Aku gak bawa motor," katanya.


"Terus? Kok pegang helm? Kamu gak bawa motor tapi bawa helm?"


Echa mengangguk. "Iya."


"Kok bisa?"


"Iya bisa aja, kenapa gak bisa? Helm kan buat melindungi kepala dari benturan, ya?" kata Echa sambil memasangkan helmnya ke kepala. "Aku lagi melindungi kepala aku, dari benturan kenyataan yang menyakitkan."


Kak Kaivan tergelak mendengar itu, bisa aja masuknya. "Lucu ya kamu?" katanya dengan tawa yang masih tersisa.


'Baru tau kalau Kak Kaivan itu cowok berjiwa koin gope, alias receh banget sih.'


***


Echa kira setelah dia membayar makan siang, urusannya dengan Kak Kaivan akan selesai. Dia akan di antar pulang ke rumahnya, tapi ...tidak.


Kak Kaivan tidak mengantarnya. Malah mengajak Echa berputar-putar di Mall sambil menawari Echa apa pun yang di lihatnya.


Ada kedai es krim, Kak Kaivan langsung bertanya, "Echa mau es krim?" Yang langsung di balas gelengan singkat oleh Echa.


Lalu, "Suka kue macaron gak?"


Echa menggeleng lagi. "Enggak Kak." Karena saya berlambung gembel, lanjut Echa dalam hatinya.


"Terus mau apa?"


Mau pulang, bisa tidak sih? Echa benar-benar tidak nyaman dan terus merasa canggung sepanjang waktu.


"Kak, kapan pulang, ya?"


Kak Kaivan melirik jam tangannya selepas mendengar itu. "Oh iya, udah sore ternyata. Udah di minta pulang sama Mama kamu?"


Bunda tidak bertanya apa-apa tentang ke pulangannya sih. Sepertinya juga Bunda tidak sadar kalau dia belum ada di rumah.

__ADS_1


Tapi demi bisa pulang, akhirnya Echa mengangguk. "Iya, Bunda udah nanyain. Kalau gak pulang sekarang, kayaknya bakal di suruh tidur di kardus Indomie."


Oke, sudah terlalu lebay.


"Oh gitu? Iya, iya, pulang sekarang ya."


Akhirnya.


Echa benar-benar merasa senang. Dia terlihat paling bersemangat saat mengayun langkah ke pintu luar.


Dalam perjalanan pulang, tidak banyak hal yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya, di lampu merah Echa mendapati gerobak martabak dan teringat dengan ... Givan, yang pernah modus dengan martabak.


Mari melakukan hal yang sama.


"Kak, boleh ke pinggir dulu gak?" tanya Echa.


"Oh boleh, kenapa?"


Echa menunjuk gerobak martabak. "Mau beli itu."


Kak Kaivan tidak menjawab lagi. Hanya menepikan motornya dan berhenti di depan gerobak martabak.


Dia melihat daftar rasanya di kaca samping, kemudian menelepon Givan.


Kalau ada yang curiga Echa akan menyogok Givan dengan martabak, jawabannya benar. Itu yang ingin Echa lakukan, dia akan memberikan martabak itu ke Givan seolah memberikan oleh-oleh untuk anak kecil, berharap Givan tidak marah lagi, dan selain itu mereka bisa bertemu, atau lebih tepatnya Echa mendapatkan alasan untuk bertemu dengan Givan.


Satu nada hubung, terdengar.


Lalu nada hubung ke dua.


Kemudian, terdengar suara lain yang menyatakan kalau panggilannya di tolak.


Echa tidak menyerah. Menghubunginya lagi, meski kembali di tolak.


Akhirnya Echa mengirim pesan.


[Lagi apa sih Anda Suranda tuh?]


Lalu, jawabannya datang tak lama kemudian.


Pesan dari Givan.


[Membuat paru-paru berkerja kembang kempis.]


Echa mengernyit, apa sih maksudnya?


.


.


.


...BERSAMBUNG .......

__ADS_1


...SELAMAT TAHUN BARU 2023🤗...


INI OTOR UP JAM 00:01 LOH😁


__ADS_2