
"Gue mau pulang sama Zia," jawab Echa tanpa melihatnya bola mata gadis itu berputar-putar tidak jelas dan membuat Givan menahan tawa lagi, itu lucu.
"Weh, sapa yang mau angkut temen nge-bug kayak lo?" kata Zia sambil mengidikkkan bahu.
"An---"
"Givan, lo hari ini ada waktu gak?" tanya Yuyun yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Diam-diam, Echa memasang telinganya.
Sementara itu, Givan melihat Yuyun dengan satu alis terangkat. "Hari ini? Jam berapa?"
Lah, Givan malah bertanya?
"Pulang sekolah," jawab Yuyun.
Echa mencuri lirik sedikit, pada Givan. Laki-laki itu tampak menggeleng, dengan penyesalan yang di buat-buat. "Sorry," katanya. "Gue harus beli dada McD."
Alkana yang ada di sebelahnya melepaskan tawa. "Harus banget 'dada McD' nya," kata Alkana lalu menggeleng-geleng.
Setelah itu Alkana berdiri dan menyampirkan tasnya ke bahu. "Gue dulian ya, ada rapat ketua kelas buat Fight 8 Fun yang tiga hari lagi nih."
Begitu Alkana pergi, Yuyun langsung mengisi kursi nya. Duduk di sana. "Sama gue aja belinya," bujuknya pada Givan.
"Gue gak bisa," katanya dengan senyum. "Soalnya yang mau dada McD nya bukan gue, tapi anak itu." Givan menunjuk Echa dengan dagunya.
Mendengar itu, Yuyun mencebik. "Tapi, kalau malem ada waktu, kan?"
Yuyun rupanya masih belum menyerah.
"Gue liat nanti ya," katanya.
Akhirnya Yuyun mengangguk dan pergi.
Setelah itu, fokus Givan kembali pada Echa yang ada di sana, yang sejak tadi memperhatikan keduanya dalam diam. "Ayo."
"Pertarungan sengit memperebutkan Gayung Lope di mulai," kata Zia yang berdiri, kemudian dia menepuk-nepuk bahu Echa. "Gunain kesempatan sebaik-baiknya, ya, ChaCha~ Inget! Gak dapet Gayung Lopenya, gak cebok ginjal lo."
Echa meringis. Masih saja Zia membahas perumpamaan yang kotor itu.
Karena tubuhnya terus di dorong-dorong, akhirnya Echa menyingkir memberi jalan untuk Zia.
Namun, sebelum Zia pergi.
"Gayung Lope, apa?" tanya Givan menyahut.
__ADS_1
"Gayung Lope itu lo," jawab Zia sambil menunjuk Givan. "Panggilan sayang dari Si Echa ini, lo Gayung Lope katanya."
Givan terkekeh. "Jadi gue Gayung Lope? Kok, bisa?" lalu mata Givan memincing pada Echa. "Lo suka mikirin gue waktu lagi mandi?" tanya nya dengan senyum yang penuh arti.
Mata Echa terbelalak mendengar itu, melotot pada Givan sampai lupa kalau sedari tadi Echa menghindari nya.
"GAK LAH, GAK GITU YA, GAK GITU!"
"Iya, enggak," kata Zia yang terdengar seperti sebuah pembelaan awalnya. Nyaris Echa akan bersyukur dan mencium tangan Zia, sebelum akhirnya Echa mendengar sendiri Zia menambahkan, "Gak mikirin pas lagi mandi, sih. Tapi mikirin nya pas lagi Ee."
***
Bagaimana rasanya makan dada ayam McD di depan orang yang tadi pamer dadanya sampai membuat Echa tidak bisa berdiri?
Echa merasa makanan yang masuk ke mulutnya hanya numpang lewat-lewat saja sedari tadi, sampai tau-tau kenyang.
"Mau es krim?" tanya Givan saat Echa baru saja selesai meneguk minuman sodanya.
Givan menawari es krim dengan senyum semanis itu?
Echa menggeleng cepat. SADAR! HEI!
"Enggak mau?"
Gelengan itu bukan jawaban yang artinya 'tidak', melainkan gelengan untuk dirinya sendiri.
Givan tertawa kecil. "Oke," kata Givan sambil berdiri. "Mau rasa apa?"
"Terserah lo, gue pemakan segala."
Givan tertawa lagi. "Omnivioca?" ejeknya sambil berlalu.
Sepeninggalnya Givan, Echa termenung sebentar, mengingat-ngingat apa yang di dengarnya barusan dari mulut Givan. "Omnivioca?" ulangnya, merasa tidak asing. "Omnivora gak sih, maksudnya?"
Echa menggeleng-geleng.
Kemudian menghembuskan napas dan mengusap-ngusap dadanya satu arah ke bawah. "Gue tau kok, jantung berdegup itu tanda nya gue hidup, tapi beatnya gak kayak Dj Bonbon Remix gini dong~ ah." Echa berdecak setelah berbicara sendiri.
Lalu, karena gabut, Echa mengedarkan pandangan nya dan melihat Givan yang sedang mengantre di depan outlet es krim, di dekat penjual es krim itu ada sebuah meja bulan yang di isi dua orang remaja. Sepasang kekasih? Karena mereka memakai hoodie hitam yang sama, juga mereka terlihat bercanda mesra sambil makan es krim.
Setelah melihat dua orang itu, tatap Echa tertuju lagi ke Givan. Dia tidak percaya kalau cowok pertama yang mengajaknya makan es krim itu adalah Givan. Laki-laki yang sudah dia kutuk ratusan kali, bahkan hampir dia kutuk jadi ikan pari.
Sangat-sangat tidak terduga, tapi ... ya sudah. Tak apa-apa, boleh kok kalau mau lagi.
Tak lama, Givan kembali bersama dengan dua es krim di tangan, yang satunya dia serahkan pada Echa dengan ... cara yang jahil.
__ADS_1
Begini, Givan mengangsurkan nya ke hidung Echa, membuat es krimnya nyaris masuk ke hidung Echa kalau saja Echa tidak segera mundur. Hawa dinginnya sudah terasa di hidung Echa.
"Astaga," Echa terkejut sendiri. "Lo ada dendam apa sih sama gue?" tanya Echa yang sedikit kesal. "Ikhlas gak sih lo bayar makanan buat gue?"
"Gue suka liat lo kesel," kata Givan dengan senyumnya yang sekarang terasa menyebalkan untuk Echa.
'Iya, lo suka. Tapi masalahnya gue gak suka nih, mohon maaf bngct!'
Alias, "Terima kasih Givan."
Lagi-lagi yang keluar dari mulut Echa berbanding terbalik dengan apa yang hatinya koar-koarkan.
Echa menerima es krimnya dengan tersenyum -paksa.
Echa kira, Givan akan duduk lagi tapi ternyata tidak, laki-laki itu bergerak ke kursinya yang tadi di duduki untuk mengambil jaket dan tas nya kemudian berdiri di samping Echa.
"Kita udah kelamaan di sini," kata Givan.
Echa mengernyit, lalu? Kalau sudah lama.
"Ini jam makan siang, kasihan yang belum kebagian meja untuk makan, restoran juga bakal rugi kalau lo duduk di sini lebih lama."
Tapi kan mereka baru membeli es krim tambahan?
"Ayo, masih ada tempat lain," kata Givan.
Akhirnya Echa berdiri dan mengikuti ke mana Givan pergi.
Sambil berjalan di samping Givan, sambil menjilat es krim, Echa berpikir begini, Givan cukup pengertian juga, ya? Maksudnya tidak seegois yang Echa pikir. Memperhatikan hal yang tidak Echa perhatikan, tentang ... orang-orang.
Seperti yang pernah Echa ungkit, Givan ini memiliki sisi yang baik dan menyebalkan saat yang sama. Sekarang sisi baiknya yang sedang tampak.
Perhatian, baik, tampan, dan memiliki tubuh yang ...
Sebelum Echa terhanyut, Echa berhenti untuk memejam kan mata dan menggeleng. "Jangan baper!" kata nya pada diri sendiri.
Dan tanpa Echa tahu, saat mata Echa terpejam karena sedang fokus mengontrol diri nya, ada sesuatu yang mendekat pada nya.
Lalu, "Oca awas ada Zebra!"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung......