Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Tapi Lo Lucu


__ADS_3

Mendengar pertanyaan yang agak random itu, Givan tersenyum. "Tiba-tiba?" Maksudnya tiba-tiba nanya gitu?


"Jawab aja," desak Echa.


"Lihat sini," kata Givan.


Ini, apa sih maksudnya?


Tapi, Echa melihatnya dan Givan melempar tatap seolah-olah sedang menilai wajah Echa. "Yuyun cantik," kata Givan masih sambil memerhatikan wajah Echa. "Tapi lo lucu."


"Iya lah, Bebek Kuning gitu loh, lucu," kata Echa dengan dengusannya. Harus ya, lucu?


Merasa sedikit tidak puas karena hanya Yuyun yang di sebut cantik.


"Lo juga, cantik."


"Bisa gak 'juga' nya di hilangin?"


"Lo cantik, jadi gitu?" ulang Givan. "Lo cantik."


"Gak usah deh, gak jadi." Echa keburu kesal.


"Lo dingin gak?" tanya Givan tiba-tiba, mengalihkan pembicaraannya. "Bawa jaket?"


Echa menggeleng.


"Mau pake jaket gue? Tapi mungkin bau keringet, atau mau pake jas hujan?"


Echa mendengus sambil menghentakkan kaki pada langkah berikutnya.


"Jas hujan terus, kenapa sih lo seneng banget nawarin jas hujan? Hah? Sales jas hujan?"


Givan terkikik sendiri melihat Echa yang mulai meledak-ledak. Seharian ini Givan jarang menemukan ledakan Echa seperti ini, ternyata saat melihatnya kembali, Givan mendapati kalau dia merindukan nya juga.


"Gue tarik kata-kata gue kemarin," kata Givan.


Echa yang mendengar itu, bertanya-tanya, yang mana nih yang mau di tarik? Tentang pernikahan itu boleh tidak sih yang di tarik? Misalnya memutuskan mau menikah gitu, suatu hari nanti?


"Lo sekarang gak keliatan ceria lagi kayak dulu waktu masih kecil, tapi seringnya kesel terus."


"Ya di bikin kesel, gimana ya Pak? Masa saya harus tertawa sambil matanya melotot?"


Givan tertawa. "Ketawa sambil melotot itu gimana?"


"Coba in aja sendiri." Echa mendengus.


Dan Givan masih tertawa.


Sampai ke parkiran, tawa Givan belum benar-benar reda. Hingga dia memakain helm ke kepalanya sendiri, lalu di kepala Echa, Givan masih tertawa saat bertemu pandang dengan Echa yang ada di depannya.

__ADS_1


"Gue bayangin banget lo ketawa sambil melotot," kata Givan. "Lucu kayak, cobain sekali."


Echa menggigit bibir bawahnya sambil melihat Givan dengan penuh kekesalan. "Enak aja cobain-cobain, emangnya Kiko?"


Setelah menutup kaca helmnya sendiri, Echa menutup kaca helm Givan sampai wajah laki-laki itu tenggelam tidak terlihat.


Tapi sedetik kemudian, Givan membuka kaca helmnya lagi dan bertanya pada Echa. "Mau beli nasi goreng dulu?" tawarnya.


Di ingatkan tentang makanan, Echa merasa perutnya keroncongan. Dia baru menyadari kalau terakhir menemukan makanan itu jam dua siang, dan sekarang dia kelaparan juga.


"Oke deh, karena di paksa."


Givan tertawa sedikit mendengarnya, siapa yang maksa sih? Kan itu nawarin. "Ya udah ayo, maksa banget nih gue pengen makan nasi goreng sama Echa."


Saat mereka hendak baik ke motor, tiba-tiba saja, "GIVAN!"


Suara teriakan seseorang terdengar. Givan dan Echa menoleh ke sumber suara dan Echa benar-benar langsung mengernyit saat melihat Yuyun berjalan di papah dua temannya yang lain.


Mereka mendekat ke Givan dan Echa.


"Givan bisa anterin Yuyun dulu gak?" tanya Yuni, salah satu teman Yuyun yang ikut memapahnya.


"Hah?" Kenapa sih?


"Kenapa?" tanya Givan mewakili kebingungan yang juga di rasakan Echa.


"Yuyun sakit," kata Yuni.


Letak sakitnya itu sebelah mana sih? Di saat wajahnya tidak pucat tapi seger banget seolah-olah habis di touch up-in MUA. Bibirnya juga masih merah.


Ingin sekali Echa membuat spanduk protes.


Di tambah lagi sejak tadi Yuyun itu cukup aktif bergerak ke sana kemari, centil-centilan ke Givan, dan ingat beberapa kali dia pergi bolak-balik kelas kantin untuk membelikan Givan minum mendukung aksi capernya?


"Bukanya ada Erul, Toni, sama anak cowok lain di kelas? Minta mereka aja, Givan kan mau anterin gue." Echa menyampaikan sedikit protesnya.


Yuni dan satu teman Yuyun lain saling bertukar pandang.


"Mereka gak bawa motor," kata Yuni pada akhirnya.


Halah, terus mereka ke sekolah naik apa? Terbang naik celana?


Sumpah Echa tidak percaya kalau alasannya itu, cowok kelas 2 SMA tuh udah gak mungkin di antar jemput orang tua naik motor matic. Apa lagi untuk kegiatan ekstra yang membuatnya sampai menginap di sekolah ini.


Echa melihat Givan di samping nya, berharap Givan menolak juga. Tapi, saat Givan menatapnya, tau apa yang Givan bilang?


"Echa lo bisa nunggu sebentar? Gue anter Yuyun dulu."


Echa merasa mencelos mendengarnya.

__ADS_1


Ucapkan selamat tinggal pada nasi goreng yang sudah ada dalam bayangannya alias, BUSET KAMPRET BANGET!


***


Echa akhirnya duduk menunggu di pos satpam dengan helmnya sementara Givan pergi mengantar Yuyun dulu, yang katanya sekarat, eh maaf sakit.


Dia benar-benar kesal pada Givan, bisa tidak sih cowok itu lihat mana yang pura-pura?


Perutnya baru saja berbunyi lagi. Echa lapar, gara-gara Givan membahas nasi goreng.


Echa meraih ponselnya dan menghubungi Givan.


[Kalau balik ke sini bawa pro mag, buat nimpuk cacing di perut gue.]


Echa memelototi layar ponsel untuk menunggu balasannya. Tapi, pesan balasannya itu tidak kunjung datang. Givan tidak membalas pesannya.


Berapa lama lagi dia harus menunggu? Emangnya di mana sih rumahnya Yuyun itu? Ini udah lumayan lama, jangan-jangan Givan di bawa tawaf keliling Bandung. Awas saja.


"Echa?"


Echa terkesiap saat ada yang memanggilnya, dia benar-benar langsung bernapas lega saat melihat ada wujud Kak Kaivan di depan sana.


Hah, untung Kak Kaivan. Bukan setan sekolah.


Echa berdiri dari kursi kemudian menghampiri Kak Kaivan, untuk sopan santun saja sih. Dia merasa tidak enak kalau tetap duduk sementara Kak Kaivan berdiri.


"Kok masih di sini?" tanya Kak Kaivan. "Dekor kelasnya belum beres ya?"


Echa mengangguk, dia merasa senang dan terkejut sebenarnya. Karena tidak mendapati debaran jantung yang gila saat berada di dekat Kak Kaivan seperti dulu.


Iya, mungkin karena sekarang jantungnya sudah berdebar untuk orang lain, yang dengan membagongkannya sedang mengantarkan orang lainnya lagi.


"Iya belum beres Kak," jawab Echa. "Tapi mau pulang sekarang."


Kak Kaivan melihat ke belakang Echa, tepatnya pada helm Echa yang ada di kursi depan pos satpam itu. "Bawa motor?" tanyanya.


Echa menggeleng. "Enggak, lagi nunggu temen," bngst.


"Masih lama gak? Mau di temenin?" tawarnya.


"Gak tau, kayaknya bentar lagi. Udah dari tadi juga sih," jawab Echa. Dia melihat ke gedung sekolah tanpa sadar saat mengingat kemungkinan Dita -pacar Kaka Kaivan- masih ada di sana.


"Ya udah di temenin aja," putus Kak Kaivan kemudian duduk di kursi duluan, di samping helm Echa.


Melihat itu Echa terbelalak, bingung, canggung, tapi kemudian memutuskan untuk duduk di sana juga.


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung......


__ADS_2