Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
DEG! DEG! DEG!


__ADS_3

Seperti bakaran sampah yang di siram bensin, sikap Yuyun pada Givan hari ini semakin menjadi-jadi, dan berhasil membuat Echa kepanasan juga.


Yuyun terus melibatkan Givan dalam setiap apa pun yang di lakukan nya.


Seperti saat Yuyun ingin meraih kemoceng di atas lemari, lalu tangannya tidak sampai, dia akan berteriak dengan manjalita pada Givan yang membuat Echa ingin menajongnya dengan kekuatan tralala.


Begini, "Givan, tolong ambilin dong."


Begitu pula untuk hal lainnya.


Seperti, "Givan, gue lagi hapus papan tulis, tapi gak nyampe buat hapus bagian atasnya, tinggi banget. Tolong gue ya, plis."


Lalu, "Givan gue lagi bersihin jendela nih, atasnya gak kebersihin. Tolong ya."


Dan, "Givan, boleh minta tolong bukain tutup botol?"


Hal yang paling membuat Echa kesal adalah, mengetahui fakta bahwa Givan selalu meninggalkan pekerjaannya untuk membantu Yuyun yang terus meminta tolong.


"Rese banget gila!" cetus Echa yang sekarang sedang membuat pita-pita untuk dekorasi. "Tolong-tolong terus heran, korban bencana apa sih?"


Echa jadi curiga, kayaknya kalau terjadi hal konyol seperti kutang Si Yuyun tiba-tiba terbang, dia akan meminta tolong pada Givan juga.


"Cha," panggil Vira yang tiba-tiba menghampirinya dengan napas terengah. "Capek nih gue bolak-balik terus ke ruang guru, boleh gak gue minta bantuan lo?"


Echa menghembuskan napas kasar sambil memejamkan mata, lalu bertanya. "Apa yang bisa gue BANTING?"


Saat Echa meneriakkan kata itu, matanya tertuju pada Givan yang ada di ujung kelas, sedang membentangkan sebuah tali dan Yuyun di depannya yang sedang -dengan sok serius- menggunting talinya sesuai ukurang yang di tetapkan.


Entah karena mendengar suara Echa, Givan menoleh. Hanya untuk mengangkat sebelah alisnya, melihat Echa dengan bingung dari tempat tanpa memperlihatkan tanda-tanda akan mendekat.


Anteng terus ya, sama Yuyunnya.


"Cha!" Vira mengguncang bahunya. "Denger gak?"


Echa melihat Vira pada akhirnya. "Apa Vir?"


"Tolong ambilin banner ke gudang."


Echa menghembuskan napas kasar kedua kali, kalau bisa menyemburkan api, sepertinya dia akan. "Banner ya? Ke gudang?" tanya Echa dengan keras. "Sendirian nih gue ke gudang?"


Karena Zia baru saja pergi dengan Alkana keluar sekolah untuk membeli beberapa bahan, Echa tidak memiliki siapa-siapa untuk di mintai tolong.


"Mau di temenin Angga, Cha?" tawar Rido. "Diskon lima persen tarifnya."


"Di kasih gratis, di karetin dua juga tetap tidak mau dan tidak sudi," kata Echa memasang raut wajah enek seolah ingin muntah beneran. "Mending sendiri gue. Paling mampus ke tabrak tikus," kata Echa seraya berlalu.


Setelah itu Echa menyerahkan pekerjaannya pada Vira dan pergi dari kelas untuk ke gudang.

__ADS_1


Baru beberapa meter Echa meninggalkan pintu kelasnya, Echa mendengar suara derap langkah menyusul di belakang.


Lalu, Echa merasakan rangkulan tangan melingkar di leher dari belakang. "Kenapa gak minta anter sama gue?"


Itu Givan, yang bertanya dari sampingnya, tanpa melepaskan rangkulan tangan mereka.


"Lo mau anter gue emangnya?" tanya Echa dengan sarkastis, entah Givan akan menyadari atau tidak. "Lo kan lagi sibuk-sibuknya sama Si Yuyun."


Givan menghentikan langkahnya dan membuat Echa yang sedang ada dalam rangkulannya ikut menghentikan langkah juga, karena tubuhnya tertahan.


"Oca," panggil Givan masih dari sampingnya.


Ini, tau tidak sih posisinya bagaimana? Wajah Givan seperti benar-benar dekat dengan pipinya, sedikit saja Echa bergerak, atau menoleh, mereka akan langsung bersentuhan.


Dari jarak itu bahkan Echa merasakan helaan napas Givan yang menerpa pipinya.


Eh bisa tidak sih Yuyun tiba-tiba datang dan melihat posisi mereka? Pasti sudah kebakaran bulu ketiak!


"Apa Givan?"


"Cuma manggil doang," kata Givan pada akhirnya membuat Echa langsung melepaskan diri dari rangkulan laki-laki itu. Membuat posisi yang aman.


Cuma manggil, ya? Ha ha. Cuma manggil.


"Givan, kita tuh mau jalan ke gudang, ya." Bukan ke pelaminan, jadi plis, jangan bikin Echa deg-degan teruuus. Bisa tidak sih?


Echa ingin sekali bisa mengatakannya dengan lengkap.


Echa mengangguk dan berjalan duluan.


"Gudang yang waktu itu kita sembunyi dari kerjaan Pak Ridwan?" tanya Givan.


Eh, iya. Echa baru ingat.


"Kenapa sih lo ngerjain gue waktu itu?" tanya Echa penasaran masih sambil melangkah, begitu juga dengan Givan. "Bu Dewi gak nyuruh apa-apa tapi, lo ngada-ngada. Sok gue harus jadi tour guide lo."


Givan mengukir senyum mengingat itu. "Gue udah bilang?" tanya Givan sambil mengingat-ngingat. "Gue mau kenalan sama lo lagi."


Kenalan.


"Aneh banget," desis Echa "Kenalan tuh, 'Hallo. Gue Givan, lo Echa? Salam kenal. Semoga bisa berteman baik' gitu, bukan mengintimidasi pake senyum miring, dan bikin gue di hukum, malu-maluin terus---" ciuman di tangga.


Di ingat-ingat kembali, perkenalan mereka sangat brutal ternyata.


Echa meringis.


"Ada satu hal yang kelewat kayaknya, di hari pertama itu, yang belum lo sebut," kata Givan.

__ADS_1


"Gak usah di spill. Udah taoo."


"Apa coba?" tantang Givan.


Sumpah sekarang Echa sangat menghindarinya untuk mengatakan itu, karena kandungan kewarasannya dalam otaknya sedang tinggi sekarang. Lebih dari 60%.


"Cluenya aja, papan tulis."


"Mm." Givan seperti sedang memeriksa benar atau tidak jawaban Echa. "Bukan itu."


Lah, apa lagi? Echa rasa sudah semuanya di sebutkan.


Dan emangnya ... apa sih gunanya untuk mereka saat ini membahas itu kembali? Jalan ke gudang aja mau ambil banner, serasa berjalan di jalan kenangan yang membagongkan.


"Mau tau?" tanya Givan.


Saat Echa hendak menggeleng, dan mengatakan tidak. Bahunya sudah di pegang oleh Givan, lalu di dorong sampai punggungnya merapat ke tembok lalu Givan sendiri mendekat, menatapnya dari jarak dekat.


"Ini," kata Givan. "Hal yang lo lewatin, gak lo sebut."


DEG! DEG! DEG!


"Waktu gue mepetin lo kayak gini, pemicu Pak Ridwan ngejar."


Oh iya itu yang terlewat. Iya iya itu.


"Van, bisa gak lo sih ngomongin aja gak usah sambil reka ulang adegan?"


Givan menyunggingkan senyum tipis melihat wajah Echa yang tertekan. Dia tetap di sana, tidak mundur.


"Gak bisa," kata Givan, laki-laki itu masih menikmati waktunya saat ini menggoda Echa.


Echa menempatkan masing-masing tangannya di kedua bahu Givan, mendorongnya menjauh tapi Givan tetap tidak gerak.


"Terus, lo tanggung jawab gak?" tanya Echa dengan resah. "Kalau gue jadi mau HAP lo?"


Givan tidak menjawab tetapi meraih tangan Echa.


Masih dengan tatap mata yang memaku Echa di sana, Givan mendekatkan punggung tangan Echa ke depan bibirnya.


Dalam jeda waktu seper-sekian detik, Echa berpikir, apa Givan akan melakukan hal romantis seperti meninggalkan kecupan ringan di sana? Sebelum akhirnya Echa melihat sendiri saat tangannya, di---


KREK!


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung... ...


__ADS_2