Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Think-Think Hard


__ADS_3

Kalau Givan bisa bermain-main dan membuat tetangga empedunya bingung, kenapa Echa tidak? Kenapa Echa saja yang harus mengikuti arus permainan Givan dengan baper berkepanjangan?


Tidak bisa begitu terus.


Demi ubur-ubur sekeluarga. Echa bertekad hari ini akan membalas dendam. Dia akan membuat Givan baper sampai jedag jedug juga karenanya, terlepas otaknya masih bodoh atau tidak. Dia akan---


"Givan!" Echa yang baru saja turun dari motor Zia segera berlari dan menghampiri Givan yang baru turun dari motornya. "Selamat pagi," kata Echa dengan senyumnya yang -di buat- paling manis.


Echa masih memakai helm nya.


"Pagi," balas Givan sambil menatap aneh ke Echa, lalu tak sengaja tatap nya bertemu dengan Zia di belakang sana yang masih membenarkan motornya, Zia yang memberikan kode bingung ke Givan, bertanya 'kenapa?' tanpa suara.


Kenapa Echa begitu turun dari motor langsung menghampirinya? Pakai helm pula.


"Lo gak buka helmnya?" tanya Givan.


"Bukain dong," kata Echa sambil mengangkat dagunya, menunjukkan pengait helm di sana.


Givan menurut dan membukanya.


"Thanks," kata Echa setelah Givan mengangkat helm dari kepalanya.


"Simpen di mana?" tanya Givan.


"Motor lo aja, gue gak bawa motor."


Secara tidak langsung, nanti Echa akan pulang bersamanya? Setelah kemarin, Echa menolak sangat keras?


Tidak masalah sih. "Lo kenap---"


Perkataan Givan tidak tuntas karena tiba-tiba saja, tau apa yang terjadi? Echa menempelkan kedua telapak tangannya di dada Givan.


Benar-benar di depan dada Givan, 'plok' gitu. Bagaimana menjelaskannya? Pokoknya ... terbayang? Aneh sekali. Givan juga benar-benar merasa bingung melihat itu.


"Wow," decak Echa dengan kagum, dalam posisi yang terlihat aneh dan canggung itu. "Lebar ya? Wow, wow, wow."


Aduh, ini apa sih?


"Lo kenapa?" tanya Givan "Lo sadar, lo aneh banget?"


Echa sadar, sangat sadar. Jauuuh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Echa juga meringis dengan apa yang sedang di lakukannya, ini apa sih tangannya jadi pegang-pegang dada Givan?


Tapi, keinginan untuk membalas dendam lebih kuat. Dia ingin membuat Givan merasakan apa yang di rasakannya, baper atau perasaan jedag jedug gitu, syukur-syukur dalam versi lebih parah.


"Dada lo, lebar ya?" kata Echa lagi.


"Lo udah bilang itu sama 'wow' nya tiga kali."


Iya benar, sudah ya. Selanjutnya apa materi yang sudah di siapkan Echa untuk membuat Givan terjeblos setelah di terbangkan oleh Echa setelah memuji-muji dadanya?


"Jadi pengen," kata Echa sambil mendongak melihat Givan yang mengangkat sebelah alisnya. "Jadi pengen dadanya McD."

__ADS_1


Echa benar-benar mengharapkan raut kekecewaan di wajah Givan, tapi yang di harapkan nya itu tidak ada. Givan malah menahan tawa nya mendengar itu.


"Ada krispinya gitu, dada gue?"


Kok di balas sih?


"Mau liat gak?"


Aduh, kalau begini bukannya Echa yang berhasil membuat Givan terbang, tapi Echa sendiri. Sekarang saja Echa merasa di punggung nya baru saja muncul dua sayap ayam berbalut tepung krispi yang siap mengepak-ngepak untuk mengantarnya terbang ke langit.


Echa menelan salivanya dan menarik tangannya, kembali menyimpan kedua tangannya di samping tubuh. "Hehe," katanya.


Echa benar-benar ingin membuat Givan baper juga, tolong buat berhasil sekali saja.


"ECHA GUE KE KELAS DULUAN YA. LO ANEH BANGET AH! BIKIN GATEL-GATEL GUE LIHATNYA!" teriak Zia dari kejauhan membuat Echa malu luar biasa.


Bertahan, ayo bertahan Echa.


"Mau ke kelas?" tanya Givan.


Echa mengangguk.


"Kalau gitu ayo." Givan meraih tangan Echa dan menyelipkan jemarinya di antara jemari Echa, sebelum akhirnya berjalan bersama dengan tangan yang bertaut itu.


Kalau begini bukan Echa yang berhasil membuat Givan baper, tapi jiwanya yang berhasil di buat juralitan sampai muter-muter.


Echa berusaha mengatur napasnya. Dia harus rileks, meski di bawah sana lututnya sudah gemetaran tidak jelas dan menuntut untuk di tekuk sebentar.


"Lo semalem kenapa matiin telepon?" tanya Givan membuat Echa teringat dengan apa yang membuatnya memutuskan menggila hari ini.


"Gak kuat?" tanya Givan.


"Bikin gue pengen nelen hp."


"Kok gitu?"


Kok nanya sih? Ya udah lah terima aja.


Echa tidak ingin sekali berkata begitu, tapi malah tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Omong-omong, ini Givan kapan melepaskan tangannya? Apa mereka akan berpegangan tangan seperti ini sampai kelas? Kalau iya, wah!


"Van," kata Echa sambil melihat Givan yang berjalan di samping. "Bisa lepasin tangannya gak?"


Echa memutuskan untuk menyerah dulu sepertinya, menyerah dari misi membuat Givan baper, karena ... lihat sekarang? Baru begini saja Echa yang sudah lemah duluan.


"Kenapa?" tanya Givan.


"Mau benerin jantung gue dulu."


"Kenapa jantungnya?" tanya Givan yang menghentikan langkah dan membuat mereka berdiri berhadapan.

__ADS_1


"Kayaknya jantung gue merosot dikit ke usus."


***


Gimana sih cara bikin Givan baper?


Susah sekali rasanya.


Serangan yang Echa berikan pagi ini tidak ada yang berhasil. Sebaliknya, semua serangan malah berbalik kepadanya.


Echa menghela napas kesekian kalinya. Dia sedang ada di tribun lapangan indoor, melihat Givan yang sedang bermain futsal.


Semakin di lihat, Echa semakin menyadarinya. Kalau Givan itu selalu bisa membuat dirinya memesona di setiap keadaan. Termasuk dengan tubuh penuh keringat seperti sekarang, Givan masih tetap -dan jadi sangat- memesona.


"Pengen jadi bola," kata Echa. "Biar di kejar."


"Untuk di tendang ke gawang?" tanya Zia yang ada di sampingnya.


Echa tidak menjawab.


"Ngapain sih gue di sini?" tanya Zia yang merasa mal fungsi.


"Kantin kan penuh, jadi di sini istirahatnya," kata Echa dengan pandangan yang terus mengikuti ke mana Givan bergerak di bawah sana.


"Soal G Hunters itu," kata Zia sambil mengunyah rotinya. "Fix Ghost Hunters kepanjangannya gue denger dari anak lain."


Echa hanya mengangguk-angguk.


"Jadi lo akan cari hantu sama Givan?"


Echa mengangguk lagi.


"Lo bakal peluk-pelukan dengan menjijikan, kayak yang di bilang Angga?"


Echa menoleh. "Yang menjijikkan maksud lo itu apanya, guenya?"


"Iya lo-nya." Zia malah mengakui itu. "Tau tidak sih Anda, tadi pagi gue bengong di depan wastafel itu gue ngapain?"


"Ngapain?" tanya Echa lebih ke menghargai, Zia berkata begitu ingin di tanya, kan?


"Gue think-think hard," kata Zia. "Kalau iya lo suka sama Givan. Kayak gue merasa---" Zia memasang ekspresi yang sulit di jelaskan. "Heh? Gitu."


"Gak pantes maksudnya?" Echa bertanya dengan malas.


"Bukan gak pantes, kayak, gue mempertanyakan kewarasan lo aja," kata Zia membuat Echa yang mendengarnya, mendengus malas. "Kok bisa lo---"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung......


SORRY BARU SEMPET UP🙏🙏


__ADS_2