
Echa mengangguk. Dia duduk di bangku, sementara Givan pergi ke warung-warung kecil dekat sana untuk membeli minum.
Echa duduk nunggu di sana sampai akhirnya tak lama Givan kembali dengan sebotol minum yang segelnya sudah di lepas. Givan menyodorkannya pada Echa, sebelum akhirnya duduk di samping gadis itu.
"Lo gak beli minum juga?" tanya Echa setelah minum beberapa teguk. "Gak haus?"
Bukannya menjawab, Givan mengambil botol di tangan Echa kemudian meminum sisanya sampai habis.
Apa sih ini Echa? Mengetahui kalau Givan tidak keberatan meneguk minum dari satu botol yang sama dengannya saja membuat pipi Echa terasa panas dan dia salah tingkah sendiri.
"Kepanasan?" tanya Givan tiba-tiba membuat Echa mengerjap. "Muka lo, kenapa jadi merah?"
Echa buru-buru mengalihkan pandangannya ke seberang arah dan menggeleng.
"Kok lo diem aja dari tadi?" tanya Givan. "Gue kira lo bakal misuh-misuh karena jalan kaki tujuh ratus meter."
"Tujuh apa?" Echa reflek melihat Givan lagi dengan mata yang membulat. "Tujuh ratus meter?"
"Gak sadar?" Givan tersenyum miring. "Harusnya tuh gue gak bawa lo jalan-jalan ke sini kalau lo cuma mau lihatin gue terus."
Apa lagi ini? Givan sadar kalau sejak tadi dia di perhatikan?
"Harusnya, duduk di bangku minimarket depan aja, jadi sambil makan mochi ice cream." Lalu, setelah mengatakannya Givan terkekeh sendiri.
"Emangnya tujuan lo ke sini?" Mau nembak bukan sih?
"Hitung pohon," jawab Givan.
"Ih."
"Emangnya mau apa?"
"Ya ampun, capean ngomong sama lo dari pada jalan kaki tujuh ratus meter. Gue udah pengen kayang aja sekarang," desis Echa lalu menghela napas keras.
Dan Givan terkekeh lagi mendengar itu. "Coba," katanya.
"Apa?"
"Kayang."
Echa memasang wajah datar. Bisa berhenti tidak sih Givan bersikap menyebalkannya? "Udah gak mau kayang sekarang."
"Maunya apa?" Givan terus bertanya.
"Mau niup ruh aja."
Lalu, Givan terkekeh lagi dan satu tangannya yang tidak memegang botol mengacak puncak kepala Echa.
Tolong, begini saja Echa sudah merasa lemah, padahal barusan tuh dia masih kesal.
"Jalan lagi?"
Echa menggeleng. "Ngesot aja bisa gak?"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Givan yang sudah berdiri. "Cape?"
Lebih ke lututnya sekarang jadi getar-getar gitu.
Lalu, Echa di buat mengernyit saat Givan tiba-tiba menyodorkan botol kosong yang tadi ke Echa. Ini maksudnya apa lagi? "Gue di suruh masuk ke botol kan, guenya?"
Givan menggeleng masih sambil tersenyum. "Bukanlah, emangnya muat?"
Ya, gak muat sih. Karena Givan menjawab begitu, Echa semakin merasa kalau kenyablakan mulutnya tidak tertolong.
"Pegang," kata Givan dengan senyum sambil menggerakkan botol yang ada di depan wajah Echa.
Tanpa bertanya apa-apa lagi, akhirnya Echa menerima botol itu dan ikut berdiri.
"Jangan di jatuhin botolnya," peringat Givan.
Oke, botolnya jangan jatuh, jadi Echa genggam erat-erat di tangan kirinya karena tangan kanannya memegang ponsel. Setelah itu, dia jadi penasaran juga, "Botolnya jangan jatuh, kalau gue yang jatuh boleh?"
"Jangan juga," jawab Givan dengan senyum yang berhasil ingin membuat Echa ingin menari balet seperti barbie, andai bisa.
Kemudian, Givan berdiri di depan Echa dengan posisi membelakangi. Semula Echa tidak tahu Givan mau apa, sampai akhirnya Givan sedikit membungkuk, menarik tangan Echa dengan membuat tubuh Echa jatuh ke punggungnya.
Givan berhasil menggendong Echa.
"Aman botolnya?" tanya Givan. Padahal Givan bisa melihat sendiri, karena tangan Echa melingkari lehernya. "Nanti buang kalau nemu tempat sampah."
"O, oke," jawab Echa dengan sedikit gugup.
Kenapa sih Echa bisa ...apa namanya? Memulai fase jantung berdebar keras seperti ini? Perasaan tidak pernah membaik, apa yang di rasakannya pada Givan, masih selalu memberikan sensasi yang luar biasa.
Seperti apa yang Givan bilang, saat melewati tempat sampah, Givan mendekatinya membuat Echa membuang botol bekas minumnya ke sana.
"Anak pinter," kata Givan.
"Kapan gue turun?" tanya Echa yang mulai merasa tidak enak, sekarang jalan setapak di depan mereka memiliki bidang yang sedikit menanjak. "Lo gendong gue bukan mau bikin gue gendong lo pas pulang, kan?"
"Bukan lah," kata Givan sambil tersenyum. "Gue lagi berusaha memperlakukan lo dengan baik."
"Oh." Cie, cie, Echa mengangguk. "Kenapa?"
"Karena gue kemarin-kemarin memperlakukan lo dengan buruk."
Echa tersenyum mendengar itu, Givan menyadarinya juga.
"Buruk itu gimana ya, Givandra Galaxy? Niscaya Rescha kepow nih." Echa mengatakannya dengan suara paling imut yang menggelikan.
"Kalau kata Zia, gue sering bersikap manis ke lo tapi dengan bumbu bangsat-bangsatnya gitu."
"Hah?"
Echa terkejut mendengarnya. "Kata Zia?"
"Iya, Zia." Givan memberi konfirmasi. "Gue ngobrol sama Zia semalem."
__ADS_1
Echa mengerjap. Givan ...apa?
"Atau lebih tepatnya denger Zia ngobrol," kata Givan ralat ucapannya sendiri. "Ngobrolin lo."
Jelas.
Echa menepuk-nepuk bahu Givan berulang kali. "Kiri, kiri, kiri. Eh, maksudnya berhenti."
Kiri? Maksudnya angkot?
"Turunin gue," pinta Echa.
Dan karena Echa tidak berhenti memukuli bahunya, akhirnya Givan menurun kan Echa juga,
Echa yang sudah turun langsung berdiri di depan Givan, dengan ekspresi wajah serius yang membuat Givan tertawa.
"Zia bilang apa?" tanya Echa langsung. "Bilang apa aja maksudnya, banyak, kan?"
Givan mengangguk, meraih tangan Echa dan menggenggamnya, sambil kembali membawa Echa melangkah di sisinya.
Menggenggam tangan Echa adalah hal sederhana yang ingin Givan lakukan sedari tadi tapi Givan menahan diri.
"Bisa di bilang, gue gak sengaja mancing," jelas Givan. "Mancing Zia gibahin lo."
Baru mendengar itu saja Echa sudah meringis.
"Semalem gue nelpon Zia buat tanya tentang lo, kesalahan apa aja yang gue perbuat ke lo supaya gua bisa minta maaf. Tapi dia ngasih tau lebih dari yang awalnya gue ingin tau."
Andai Echa adalah kura-kura yang punya tempurung, dia pasti sudah masuk ke tempurungnya sekarang saat mengingat apa-apa yang pernah dia katakan pada Zia tentang Givan.
"Lo tau kenapa gue tinggal sendiri?" tanya Givan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Karena lo mau mandiri?" tebak Echa.
Mendengar itu Givan tersenyum getir, dan menggeleng pelan. "Bukan, sayangnya."
"Terus?" Echa sedikit penasaran. Sebenarnya, dia tidak begitu ingin tahu. Bundanya selalu bilang kalau sebobrok apa pun mulutnya, dia tidak boleh melabrak privasi orang lain dengan pertanyaan bobroknya, jangan pernah bertanya tentang hal sensitif yang menyangkut privasi, kata Bunda.
"Gue tinggal sendiri karena ternyata gue gak punya keluarga."
Echa tidak bisa menahan diri untuk tidak terbelalak karena mendengar itu. Tidak punya?
"Selama ini gue hidup di antara orang-orang yang menolak kehadiran gue," kata Givan dengan tatapan menerawang yang sendu. "Mama dan Kak Yuda, dan mungkin juga Papa sebenarnya gak mengharapkan kehadiran gue, tapi gue memaksa ada."
Sebentar. "Gimana?" Echa tidak mengerti sama sekali.
.
.
.
...BERSAMBUNG .... ...
__ADS_1