
"Pelit banget lo sama temen juga, itungan banget sih?"
Zia hanya terkekeh. "Gue udah nyaman banget sama kursi ini, gimana dong?"
Lalu Zia mengeluarkan surat kontraknya dari tas, lembar kontrak yang sudah di laminating yang selalu dia bawa setiap hari, surat kontak resmi perjanjian pertukaran kursi yang juga sudah di tanda tangani Echa -serta saksinya Alkana.
"Gue kasih lagi kursi ini ke lo, sekaligus sama jatah gue semester dua. Asal lo mau bayar punishment-nya."
"Apa?" tanya Echa.
"Baca dong." Zia menyodorkan surat perjanjian mereka.
Echa menghela napas kemudian mulai membacanya untuk pertama kali. Matanya membulat sempurna membaca kalimat terakhir.
"Lo, gila?" pelik Echa dengan serius. "Punishmentnya, kalau gue mau dapetin kursi gue kali, gue harus---" Echa memasang wajah jijik. "Hirup aroma ketek Angga selama lima menit?"
Zia mengangguk dengan wajah puas melihat reaksi Echa yang menanggapi itu.
"Lo gila gak sih?" tanya Echa dengan nada tinggi dan serius. "Batalin, ah!" Echa memiringkan surat kontrak itu, berniat membaginya menjadi dua bagian, tetapi karena kertasnya di laminating oleh teman kampretnya itu ... kertasnya tidak bisa di sobek, tetap utuh.
"Gak bisa gitu dong." Zia merebut surat kontraknya yang berharga sebelum rusak di tangan Echa. "Lo bilang terserah, waktu itu kan lo udah baca juga sebelum TTD."
Echa mendengus. "Demi apa sih gue tetep temenan sama manusia picik kayak lo?"
Zia tidak tersinggung sama sekali, dia mengipas-kipas dirinya dengan surat kontrak itu dengan senyum puas. "Lagian aroma ketek orang yang di suka itu, uhuy-uhuy."
Echa tidak bisa menahan kekesalannya lagi. "Siapa sih maksud lo? Masih mikir gue suka sama Angga?"
"Emang gitu, kan."
"ENGGAK!" Suara Echa cukup keras sampai memancing perhatian seluruh penghuni kelas SESAT yang sudah datang pagi itu.
Mereka semua terdiam menyimak keduanya.
"Gue udah bilang enggak, ngerti gak sih lo?" tegas Echa.
"Terus siapa yang lo suka kalau bukan Angga? Bisa spill gak?" tantang Zia membuat Echa mengepalkan tangannya.
"Cowok yang bilang kalau gue gak boleh suka sama dia karena gue bodoh, puas?"
Echa mengatakan itu tanpa berpikir, dengan penuh emosi, dia bahkan lupa untuk mengendalikan nada suara dan tatapan nya pada Zia.
Setelah itu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Echa keluar dari kursinya dan berjalan cepat keluar kelas. Berniat pergi kemana pun untuk menenangkan diri dari apa pun yang membuatnya merasa kalut seperti ini.
Tetapi, tepat sebelum melewati pintu, langkahnya terhenti, tubuhnya di buat terpaku saat melihat Givan yang berdiri di sana, menatapnya lurus lurus.
__ADS_1
Satu pertanyaan yang terlintas di kepala Echa, sejak kapan Givan di sana?
Di tempatnya berdiri, Givan sempat bertemu pandang dengan Echa sebelum gadis itu menghindari tatapnya dengan menunduk. Satu hal yang Givan sadari dari melihat kedua mata gadis itu, dia sedang tidak baik-baik saja.
Laki-laki itu menjadi orang pertama yang mengambil langkah maju, dan benar-benar berhenti setelah sampai di depan Echa. Dia mengeluarkan topi dari tasnya kemudian memakaikan nya ke kepala Echa, menariknya ke depan untuk menutupi wajah gadis itu.
"Mau bolos?" bisik Givan di telinga Echa.
Givan menahan posisinya, sambil menghitung mundur sampai tiga, menunggu jawaban Echa. Sampai hitungan habis, Echa tidak memberikan jawaban.
Baik, berarti jawabannya tidak.
Saat Givan menyimpulkan begitu, tepat sebelum Givan hendak membalikkan badan dan Echa untuk membuat gadis itu kembali ke bangkunya, di luar dugaan Echa malah mengangkat kepala dan berkata pada Givan, "Mau. Ajak gue pergi dari sini."
Givan tersenyum, lalu mengangguk. "Oke."
***
Boleh tidak sih kecewa?
Echa pikir saat Givan mengajaknya bolos, mereka akan keluar dari sekolah diam-diam dan melakukan hal seru seharian di luar sekolah, mm ... berdua.
Ke mana pun.
Bukan pergi ke atap sekolah dan hanya bolos di jam pelajaran pertama. Meski benar sih itu terhitung bolos juga.
Givan menyimpan susu kotak cokelat di tembok pembatas depan mereka.
"Lo minum ini dulu," katanya pada Echa yang sejak tadi berdiri di sana, menikmati hembusan angin yang menerpa sebagian wajahnya.
"Kita ngapain sih di sini? Nunggu helikopter?"
Echa menoleh untuk melihat Givan yang juga sedang melihat kepadanya.
Tatapan laki-laki itu, aduh. Bikin pusing.
Echa segera mengalihkan tatap ke depan sambil bergeser sedikit.
"Jam pelajaran kedua ada ulangan PKn, terus nanti istirahat ada yang mau di diskusikan di kelas katanya," jelas Givan.
Mendengar itu, Echa mengangguk saja.
"Lo Kang Nyimak banget pasti, ya? Jarang nimbrung, tapi suka baca satu-satu chatnya?" Sampai tahu ada pengumuman ulangan dan diskusi itu di tengah chat tidak jelas yang bejibun. "Gak juling mata lo?"
Givan menggeleng, tetapi Echa tidak melihatnya. Kemudian Givan menjelaskan dengan berkata, "Gue dapet japri dari Yuyun."
__ADS_1
Mendengar itu Echa menoleh lagi ke samping, pada Givan langsung.
Jadi, masih berlanjut ternyata. Misi pendekatan Yuyun pada Givan, meski sudah menyatakan perasaan dan hasilnya di abaikan? Di gantung?
"Apa lo tipe cowok yang suka ngasih harapan palsu?" tanya Echa dengan serius. "Lo suka 'kan kalau ada cewek berharap sama lo? Kayak di kasih energi gitu, buat tebar-tebar pesona?"
Echa merasakannya sendiri, dia sedikit emosional saat mengatakan itu.
"Gue gak ngasih harapan ke siapa pun," tanggap Givan. "Sebaliknya gue straight forward, kalau gue bilang iya ya iya, enggak ya enggak, dan jangan ya jangan."
Termasuk bilang ke Echa kalau Echa jangan sampai menyukai nya? Itu adalah bentuk 'straight forward' yang Givan maksud?
"Gue mau tanya dan lo harus jawab jujur," kata Echa pada akhirnya. "Lo denger?"
"Denger." Givan mengatakan nya dengan yakin. "Telinga gue masih ada."
Echa menghembuskan napas nya dengan kasar.
"Bukan itu ... tapi yang tadi di kelas."
Tepatnya yang Echa katakan ke Zia sambil berteriak-teriak dengan emosinya. Echa ingin tahu, apa Givan mendengarnya? "Kenapa lo berdiri di pintu kelas tadi dan gak masuk?" tanya Echa. "Lo denger apa yang gue bilang?"
"Tentang?" Givan malah bertanya kembali. "Lo bilang apa emang? Ada hal penting yang gue harus denger?"
Echa menincingkan mata, mencoba membaca lewat raut wajah Givan. Laki-laki ini mendengarnya tidak, sih?
Givan menyimpan sikut kanannya di pembatas tembok, membuat posisinya sekarang benar-benar menghadap Echa.
"Sini, kalau ngomong tuh menghadap sini. Lo ngomong sama angin?"
Echa merasakan bahunya di tekan untuk di buat menghadap Givan, tapi dia menahan diri bertahan untuk tidak.
"Niscala Rescha?"
Namanya malah di panggil lengkap begitu lagi.
"Apa sih Givan? Tinggal jawab iya atau enggak juga, susah banget ya?" Harus bikin Echa meleyot-meleyot dulu?
Baru Givan akan membuka mulut, ponsel yang ada di saku celananya berbunyi. Dia mengambil dan mengernyit saat melihat ada nama Bi Surti tertulis di sana.
"Bentar," kata Givan pada Echa.
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung......