
Echa sudah lelah bahkan hanya dengan mendengar penuturannya saja. "Hantunya tuh apa? Kuntilanak-kuntilanakkan kayak tadi?" tanya Echa pada ... Kak Kaivan yang sedari tak lepas menatapnya.
Lagi nakut-nakutin bukan sih?
"Kak?"
"Iya, apa?"
Kak Kaivan tadi tidak dengar?
"Hantunya tuh, bentuknya apa? Kuntilanak atau atau apa? Yang ada pita kuning di lehernya."
Kak Kaivan mengangguk-angguk. "Macam-macam, bisa kuntilanak bisa bukan. Jadi setiap ada hantu yang kamu lihat, kamu deketin dan lihat lehernya."
Deketin dong, itu bahasanya deketin. Deketin hantu.
"Batas waktunya tiga puluh menit, kita harus cepet Oca," kata Givan yang terlihat bersemangat.
Echa mengangguk dengan enggan.
"Ayo," katanya menggamit tangan kanan Echa.
Echa melihatnya dengan malas. "Semangat banget ya yang mau menyelamatkan Si Yuyun."
Givan tersenyum. "Bukan, semangat mau liat lo jerit-jerit." Terus nanti peluk-peluk Givan gitu? Karena rasanya, Echa pasti akan melakukan itu kalau nanti ketakutan kembali menguasainya dan membuat dia tidak waras.
"Duluan ya Kak," kata Echa yang kemudian merasa aneh, kenapa harus pamit pada manusia yang sedang beralih fungsi jadi zombie ini, sih?
Tapi Kak Kaivan nampak baik-baik saja dengan itu.
"Iya, hati-hati. Oh ya," kata Kak Kaivan sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gelang yang menyala-nyala itu memasangkannya ke tangan kiri Echa.
Echa menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Harus ya pake gelang nyala kayak gini?"
"Iya," kata Kak Kaivan. Kemudian tangan Kaivan terulur, mengacak pelan puncak kepala Echa serasa tersenyum kemudian berkata, "Good luck."
"Oh, ya. Thanks." Echa jadi canggung sendiri. Givan masih ada di sampingnya dan melihat semua itu, meskipun mungkin bukan apa-apa tapi cukup membuat Echa merasa tidak nyaman juga. Terlebih saat merasakan Givan menekan kuat tangan kanan yang ada dalam genggamannya, Echa langsung meringis. "Sakit, sakit, Givan."
"Kenapa?" Givan langsung melihatnya dengan satu alis terangkat.
Echa menggeleng dan menelan kata-kata yang hampir di ucapkannya dengan penuh kenyolotan. "Ayo ah."
Givan menganggukinya dan mereka pergi.
Begitu keluar dari perpustakaan. Echa menahan langkahnya, dan membuat Givan berhenti juga.
"Tangan gue kenapa lo pencet-pencet sih?" tanyanya.
Givan mengangkat tangan Echa tanpa melepas genggamannya. "Ini?" kata Givan, lalu me dekatkan tangan Echa ke hidungnya. "Wangi apa yang ini gue suka?"
Apa lagi ini? Mau apa sih Givan? Tolong jangan mulai, dong.
__ADS_1
"Lotion gue kali," kata Echa sambil menarik tangannya ke bawah agar terlepas, tapi malah Givan menahannya.
"Bukan kayaknya." Givan menempelkan punggung tangan Echa ke hidungnya, Echa sudah di fase ingin berjongkok saja karena lututnya serasa lemas tidak jelas. "Ini wangi ..."
"Terus wangi apa?" desak Echa dengan cepat.
Givan tidak menjawab, hanya menurunkan sedikit tangan Echa dari hidung ke dekat dagunya lalu menempelkan bibirnya di sana. Menahannya lama, sebelum akhirnya, Givan mendongak dan memanggil, "Oca." Dengan tatap yang tertuju lurus pada Echa.
"Iya, apa?" Echa sudah menahan napas.
"Gue suka."
***
Mereka menyusuri koridor sekolah yang gelap, baru memulai perjalanannya untuk menuntaskan misi setelah mendapatkan aturan mainnya dari perpustakaan.
Selepas apa yang terjadi di depan pintu perpustakaan, tidak ada apa-apa lagi yang di bicarakan. Setelah -bisa di sebut- Givan mencium punggung tangan Echa, laki-laki itu hanya tersenyum, merangkulnya, lalu membawa Echa berjalan.
Dan sekarang masih seperti itu, Echa masih berjalan dalam rangkulan Givan.
Echa tidak akan mencoba mengartikan tentang ungkapan 'suka yang di katakan Givan, yang tidak ada objek jelasnya tentang suka terhadap apa.
Tidak mau karena bisa saja salah.
Sampai di perempatan koridor mereka berhenti.
"Kita gak di kasih peta ya tadi?" tanya Givan.
Echa menggeleng, dan mereka sedikit tersengat saat merasakan suapan pelan Givan di bahunya. Sadar tidak sih Givan kalau dia melakukannya? Hal kecil yang membuat Echa salah tingkah.
"Dari mana lo tau?" tanya Echa yang sedikit terseret karena Givan mulai melangkah tanpa memberi tahu.
"Ada lilin di sana," katanya menunjuk cahaya kecil di tengah koridor.
Echa mengangguk-angguk. "Oooh."
Jadi lilin adalah petunjuk arahnya.
Setelah melewati lilin itu, di cabang koridor selanjutnya mereka menemukan lilin lain. Ketika sedang berjalan santai dengan perasaan aman karena sedari tadi tidak menemukan apa-apa, tiba-tiba saja sesuatu jatuh di depan mereka.
DUMP!
Dan Echa menjerit sambil menyembunyikan wajahnya ke Givan.
"Gue lihat yang putih ada rambutnya banyak," kata Echa dengan suara gemetar. "Apa sih kok dari atas?"
Sementara itu, Givan terkekeh.
"Oh, ya? Lo lihat itu? Gue gak lihat apa-apa."
Perkataan Givan berhasil membuat merasa Echa bulu kuduknya meremang. Dengan perlahan, Echa mengangkat wajahnya dari Givan, dia melihat lagi ke depan, dan itu masih ada. Kain putih dengan rambut yang menjuntai, masih menggantung di depannya.
__ADS_1
Echa bersembunyi lagi ke Givan.
"Ayo jalan lagi Oca."
Echa menggeleng. "Terus gue lihat apaan itu?"
"Masa depan?" tanya Givan dengan menyebalkannya.
Echa langsung memukul perutnya, dan bersembunyi lagi.
"Ayo Oca, waktunya gak banyak."
"Bilang lo lihat."
"Iya, gue lihat. Boneka kuntilanak?"
Tanpa beban sekali Givan menyebutnya.
Namun, tak di pungkiri karena mendengar Givan juga melihat, Echa akhirnya bisa menekan sedikit ke takutnya. Dia membuka matanya dan melihat sekali ada yang ada di depannya.
Ternyata, jika di lihat lebih jelas itu adalah sebuah bola yang di berikan kain putih dan di tutupi wig palsu yang di gantung tali ke atas.
Meskipun sudah tau, tetap saja mengingat kemunculannya tadi yang tiba-tiba, itu cukup mengerikan.
Echa baru saja menghela napas sesudah melewatinya. Dia baru membuka mata dan melihat lapang basket di depannya.
Dan, "AAAaaa."
Lagi-lagi Echa berteriak saat melihat ada yang berjalan-jalan di tengah lapang. Memakai baju putih dengan rambut yang menjuntai ke depan.
"Lo lihat kan?" tanya Echa yang kembali menyembunyikan wajahnya ke Givan. "Yang di lapang?"
Givan belum menjawab karena sibuk dengan telinganya. "Lo mau pindah ke kanan gue gak? Kasihan telinga kiri gue di teriakin terus."
"Maaf."
Akhirnya Echa memutari tubuh Givan untuk berpindah ke sisi kananya. Memosisikan tangan Givan untuk merangkulnya lagi.
"Yang di lapang, lo lihat? Bilang lo lihat!" Echa mengulang pertanyaannya sekali lagi dengan mendesak.
"Iya, Oca. Gue lihat, kuntilanak jalan-jalan?"
Baru setelah itu, Echa bisa merasa lega.
"Kita masuk lapang Basket sekarang?" Echa terdengar ragu.
"Enggak." Givan menggeleng dengan serius. "Tapi sekarang masuk ke saku celana gue, mau?"
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG .... ...