
"Mau beli bensin, gara-gara lo jadi gak jadi. Besok, gue nebeng di motor---"
["AAAAAA."]
"Oca?" Givan memanggilnya.
["Iya, iya, terusin aja."]
Givan mengangguk tanpa sadar, padahal Echa tidak melihatnya. "Besok gue berangkat sama lo, gak mungkin gue beli bengsin pagi-pagi. Antrenya panjang."
["AAAAA oke,"] jawab Echa di seberang sana. ["Impas ya, pinjem kompor lo malam ini."]
"Iya," kata Givan. Lalu, tidak ada suara sahutan Echa lagi. Sampai akhirnya.
["AAAAA."]
"Tutup kapan?" tanya Givan. "Gue ganggu lo."
["Gak kok."]
"Lo lagi apa emang?"
["Rebahan,"] kata Echa dengan suara yang terdengar tertekan.
"Mau VC gak?"
["Enggak, enggak, jangan, jangan."]
"Takut ketahuan ya?"
["Ketahuan apa?"]
["AAAAAA."]
"Lo lagi di kamar mandi kan?" tanya Givan.
["KATA SIAPA?!"] Mulai deh, Echa mode nyolot.
Tapi kali ini, Givan malah bahagia mendengar kenyolotan itu. "Jujur, dari tadi gue denger suara 'plung' sama 'brett' di tengah suara teriakan AAAAAA lo itu. Masih gak mau ngaku?"
***
Pagi ini, Echa menunggu Givan di depan rumahnya. Berdiri di samping motor, sambil mengenakan helm yang kacanya di turunkan menutupi wajah.
Sumpah demi Babon!
Dia gak akan menyetorkan wajah sepagi ini ke Givan andai lupa kalau semalam dia tidak membuat dirinya berhutang budi, meminjam kompornya dengan alasan dusta, setelah rentetan kejadian memalukan yang membuatnya ingin mengubur diri.
__ADS_1
Penampilan specialnya pagi ini berhasil membuat Givan langsung tertawa saat melihatnya.
"Tok, tok," kata Givan membuat suara sambil mengetuk kata helm merah muda yang di pakai di kepala Echa. "Permisi, pesan paket manusia Givan atas nama Niscala Rescha?"
Echa mendengus, Givan pasti akan meledeknya seharian meski tidak langsung. "Gak usah ngomong sama gue!" Kate Echa sambil menyerahkan kunci motornya ke Givan.
Laki-laki itu tertawa dan mengambil kunci motor dari Echa.
"Ayo berangkat," kata Givan yang naik ke motor Echa.
Gadis itu menghela napas lalu naik ke motornya, menyimpan tas di antara punggung Givan dan tubuhnya, kemudian berpegangan pada behel motor di belakang saat Givan melaju.
Echa sudah mewanti-wanti ke Givan di chat -dengan pesan sepanjang tiga ribu karakter- agar Givan jangan membahasnya lagi, tentang ke tololan yang menjijikkan nya semalam.
Demi apapun, itu lebih memalukan dari apa yang di lakukan nya di tangga. Rasanya bukan ingin masuk ke lapisan terdalam bumi lagi. Lebih parah, Echa berharap ingin ada seseorang yang menendangnya sampai tiba di planet lain yang terjauh dari bumi.
***
"Capek banget gak sih, jadi gue?" tanya Echa dengan raut wajah yang lelah.
Echa sekarang sedang berada di pinggir lapangan basket bersama Zia, tepatnya di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon dengan cabang yang lebar.
"Di baperin, di sungsepin, di baperin lagi, nyungsep lagi. Kayak, syalalan sekali gitu jalan takdir ini."
Zia menarik pipi Echa kemudian menggoyang-goyangkan nya saat berkata, "Siapa sih yang bikin lo ceudih, eum? Pengen gue kasih duit-duitan segepok. Ha. Ha. Ha."
Echa menepis tangan Zia dan mendengus.
"Bukan," jawabnya dengan datar. "Pohon pisang."
Zia tertawa kecil melihat Echa yang mengatakannya tanpa emosi, tatap kosong, dan mengenaskan.
"Kenapa Givan? Kayak pohon pisang?" tanya Zia di sela tawanya. "Punya PISANG, tapi gak punya hati."
Echa menatapnya, mengedikkan bahu dengan malas. "Mantap, gak trevelin juga tuh."
Zia mengangguk-angguk masih sambil tertawa di depan Echa sejak tidak bisa di ajak bercanda. "Kepo deh," kata Zia. "Kenapa tadi emosi banget tiap Givan ngelirik sampe lo colok-colok pake penggaris?" tanya Zia mengingat tingkah mereka berdua di kelas.
Echa jadi mengangguk sekarang. "Bener juga kata lo. Givan tuh kayak pohon pisang."
"Yah, kan emang." Setelah berkata begitu, Zia dengan santainya memasukkan sedotan minuman ke mulut, sedang menyedot minuman nya saat mendengar Echa bilang ....
"Masa gue cium dua kali tetep aja lempeng tuh, kayak batang pisang."
"UHUK." Zia tersedak, minuman yang harusnya masuk tertelan ke tenggorokannya, rasa-rasanya baru saja naik ke hidung. "Lo, lo apa?"
"CIUM," kata Echa dengan bibir yang di bentuk mengikuti kata yang baru di sebutnya. "C I U M." Echa mengejanya. "Kisseu, kisseu, popohe."
__ADS_1
Zia membuka mulutnya, lalu di tutup dengan tangannya sendiri, memberikan reaksi hebohnya. "Serius?"
"Tanya aja," kata Echa dengan santainya. "Sama anaknya langsung."
Zia benar-benar tidak bisa mempercayainya. "WOW, AMAZING DARLING SINTING!" kata Zia. "Gimana ceritanya?" Zia semakin menagih cerita Echa.
"Pertama di tangga, gara-gara ke tabrak papan tulis, kecelakaan. Kedua, di-- kemarin, tangga juga karena kewarasan gue hilang," kata Echa. "Kenapa tangga terus ya, dan kenapa juga gue cerita sama lo?" kata Echa setelahnya, terdengar linglung lalu geleng-geleng.
Echa masih tidak waras mungkin, karena mie pedas semalam? Atau karena otaknya sudah resign dari kepala sejak dia memutuskan untuk ... suka sama Givan. "Gue tuh kenapa ya lupa lagi, kok bisa suka sama dia?"
"Udah ngaku nih, ye."
"Gak ngaku sih, cuma menerima kodrat."
"Karena ganteng gak sih?" tanya Zia.
Echa mengangguki nya. "Oh iya." Dia tiba-tiba tersenyum sendiri membayangkan wajah Givan. "Ganteng, tapi sifatnya kayak maling kencleng mesjid."
"Apa tuh?"
"Bngct."
***
Kata Zia, alasan Givan tidak bisa baper setelah dua kali ciuman itu katanya begini, bisa saja karena Echa melakukannya dengan tidak pro.
"Ya masa cuma lo tempel doang, stiker kali. Gak ada bedanya kayak nempelin lontong ke bibir. Gak berasa," kutipan dari Zia yang belum pernah pacaran dari bayi.
Tapi karena perkataannya itu, Echa jadi over thinking seharian ini, apa benar? Apa karena dia tidak melakukannya sampai kepala mereka muter-muter kayak bianglala, Givan jadi tidak merasa apa-apa?
"Apa sih ah, pikiran gue kotor banget." cetus Echa sambil memukul-mukul kepalanya.
"Kenapa?" tanya Givan yang berjalan di sampingnya, mereka sedang berjalan menuju ke parkiran untuk pulang. Kenapa Givan tidak membawa motor, mereka berangkat bersama dan tentu pulang juga bersama juga.
Tentang obrolan di telepon kemarin, Echa sudah berdamai dengan itu. Dia tidak menyalahkan mie pedasnya yang membuat Echa langsung masuk ke kamar mandi usai pulang dari rumah Givan, dia hanya menyalahkan dirinya yang tolol karena menelepon Givan saking takutnya Givan pergi dengan Yuyun.
"Suka banget ya lihatin gue?" tanya Givan saat Echa tak kunjung menjawab dan hanya melihatnya dalam diam dengan wajah komuk.
"Iya, suka," kata Echa pada akhirnya.
Kemudian entah dari mata datangnya, tau-tau ada Angga di tengah-tengah mereka, yang langsung mengait erat tangan Givan dan Echa.
.
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung... ...