
"Lo punya kehidupan yang gue gak punya. Temen, sosok keluarga, dan lo punya sesuatu yang bikin orang merasa hangat kalau di dekat lo," papar Givan yang hanya di angguki beberapa anggukan pelan oleh Echa. "Oca."
Panggilan Givan membuat Echa menarik napas dalam dalam sebelum akhir nya menyahut, "Iya. Givandra Galaxy?"
"Meski pun gue ada di dekat lo, nanti atau besok." kepala Givan menggeleng pelan. "Lo jangan, jangan pernah suka sama gue."
Ini peringatan maksudnya?
Satu.
Dua.
Tiga.
Echa mencerna. Lalu bertanya tanya. Dan kemudian mendapati merasa diri nya tidak terima. Bukan karena dia berencana akan suka pada Givan, tapi maksudnya, kenapa Givan mengaturnya? Sesuatu yang menurut Echa terlalu pribadi ini menyangkut perasaan.
"Kenapa?"
"Karena ...."
Givan tidak menjawab, tetapi malah mendekat kan wajah nya. Echa masih tidak tahu apa yang akan Givan lakukan, sampai Givan tersenyum simpul di depan wajah nya, kemudian berkata, "Karena lo bodoh dan gue pinter."
Jadi, Echa baru saja menjatuh kan diri nya untuk di hina?
Givan menjauh kan diri nya lagi, kembali membuat jarak yang benar.
"Wah." Echa tidak percaya dia sudah menyiakan beberapa detik nya menunggu Givan mengata kan itu. "Lo mau bilang kalau dengan otak yang ada di dalam kepala gue, gue gak pantas buat lo, gitu?"
"Bercanda."
Tapi Echa sudah kepalang kesal, dia mendarat kan telapak tangan nya di punggung Givan, memukul dengan keras. "Lagian siapa juga yang mau suka sama lo?! Hah?" Kemudian, Echa mendorong dorong Givan yang aneh nya, Givan malah tertawa setelah mendapat kan pukulan, dorongan dan mendengar hardikan itu.
"Oca, bentar."
"Gak usah ngomong lagi, gak usah!"
"Ini serius." Givan menahan tangan Echa. "Ayo belajar lagi. Lo belum berhasil pecahin satu soal pun." kata Givan yang tawanya sudah mereda.
"Ledekin aja terooos."
"Gak ngeledek." Kemudian Givan menunjuk ke belakang Echa dengan dagu nya. "Tolong itu."
"Apa?" sahut nya dengan sedikit nyolot.
__ADS_1
Di saat Echa masih kesal. Givan -tanpa menjelas kan apa apa- mencondong kan tubuh nya ke sana, membuat dada nya menabrak bahu Echa dan berhasil membuat gadis itu membeku seketika. Echa tidak bisa bergerak, tidak bisa menghindar dari perasaan gugup karena keadaan saat ini, posisi seperti ini.
Aduh.
Givan ini konsep nya mau bagai mana sih? Dikit dikit bikin Echa meleyot, kemudian nyolot. Dan dikit dikit bikin Echa meleyot lagi.
'Cepet jauh dong. Tolong! Tolong!'
Dan akhir nya Givan kembali duduk ke tempat nya semula, dia menunjuk kan satu pensil yang baru saja di ambil nya.
Jadi. Cuma untuk ambil pensil ya tadi?
Tapi, dramanya ... astaga
***
Givan baru saja menutup pintu rumah nya di belakang, dia langsung di sambut oleh Oca yang mendekat, sambil mengeong lalu menggesekan diri di kaki nya.
"Oca."
Givan berjongkok dan mengusap kepala Ola -kucing dengan bulu abu yang tidak pernah pergi dari rumah nya sejak dia datang.
Tidak pernah ada rencana untuk memiliki peliharaan, kucing atau apa pun. Tapi karena Oca tidak pernah pergi, jadi Givan memutus kan untuk mengurus nya, termasuk memberi makanan dan bertanggung jawab dengan ke bersihan nya.
Mengenai nama nya Oca ... tidak ada alasan jelas untuk itu. Givan hanya ingat menyebut 'Oca' banyak banyak, jadi begitu lah.
Semua percakapan nya tadi terputar dalam kepala Givan sekarang. Ada satu yang tidak bisa dia katakan jujur, satu ke salapahaman yang tidak bisa di lurus kan.
Tentang Echa yang berpikir kalau diri nya tidak pantas untuk Givan.
"Bukan cewek itu yang gak pantas sama gue, tapi gue," kata Givan sambil menaikan Oca kucing ke pangkuan nya. "Gue yang terlalu gak pantas buat dia."
Givan tau Oca kucing tidak mengerti tapi dia tetap ingin berbicara di depan kucing itu. "Lagi pula dia gak akan." Suka. "Dia sebenci itu, kan?"
Givan tersenyum tipis, selagi semua pertanyaan barusan hanya di tanggapi suara meong dari Oca kucing.
***
Echa menatap tajam Givan yang baru saja selesai mengerja kan soal Matematika di papan tulis. Givan juga membalas tatap nya dengan mengangkat satu alis.
"Kenapa liatin gue?" tanya Givan setelah duduk di bangku nya, di depan Echa.
"Kata siapa? Gue liat jam dinding."
__ADS_1
"Oh ya?" Givan menyangsi kan nya. "Jam dinding nya di belakang, di sana." Givan menunjuk ke dinding di belakang, tempat jam dinding di gantung.
Echa mengikuti arah yang di tunjuk Givan, benar sih jam dinding nya ada di sana. Sejak kapan pindah? Kemudian kembali melihat Givan. "Oh itu ya? Gue kira ini---" Echa membuat kedua tangan nya membentuk huruf V membingkai wajah Givan tanpa menempel. "Ini jam dingin juga, habis mirip."
Givan menahan tawanya. "Liat ke papan tulis sekarang, biar pinter." Kemudian Givan membelakangi nya dan membuat Echa mendengus.
"Lo kenapa sih?" bisik Zia dari samping nya. "Lagian benar Givan, sadar gak sih lo dari tadi pagi lihatin Givan terus?"
Tidak. Echa tidak merasa, tetapi dia tidak bisa menjawab juga untuk membela diri.
"Lo kayak dateng ke sekolah Cuma buat memaku tatap ke Givan doang." tambah Zia.
"Mulut lo, astaga! Harus di paku tuh." Echa menggeleng geleng. "Tatapan nya tatapan apa dulu, liat dong."
"Tatapan?" tanya Zia sambil terkikik. "Itu lo ngaca sana, bola mata lo udah gak bulet lagi tapi jadi bentuk Lope. Sadar gak? Kebanyakan lihatin Givan tuh."
Echa berdecak keras. "Minta di gibeng ya?"
***
Apa perkataan Givan kemarin berpengaruh begitu banyak pada Echa? Sampai hari ini Echa melewat kan waktu istirahat nya demi mengunjungi Bu Dewi di ruang guru, untuk menanya kan di mana mata pelajaran apa saja Echa mendapat kan nilai pas-pasan.
Tidak, bukan berarti dia ingin memantas kan diri untuk Givan. Bukan itu. Echa hanya ingin dia tidak di rendah kan.
Itu saja.
Echa melakukan nya untuk diri nya sendiri. Untuk Echa yang lebih baik.
Api semangat nya membara sebelum memasuki ruang guru. Tetapi saat keluar dengan selembar kertas dari Bu Dewi yang merupakan laporan grafik nilai nya, api semangat membara itu berubah menjadi lilin kecil, yang naas nya lagi, api nya baru saja di tiup oleh napas Givan.
Fyuuh. Hilang.
"Jadi selama ini, nilai gue Cuma beda satu - dua angka dari rata rata kelas?" Artinya semua nya pas-pasan, ada banyak yang harus di pelajari. Echa menurun kan kertas laporan itu dan mengayun kan langkah nya dengan gontai, memutus kan untuk ke kantin, berniat menghibur diri dengan mengisi perut nya.
Tinggal satu belokan, dia malah menabrak seseorang -yang dengan sigap langsung menahan kedua sikut nya agar tidak jatuh.
Saat Echa mendongak, dia langsung menghembus kan napas kasar nya dan mundur. "Lo lagi."
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung... ...
HAYOO KIRA-KIRA SIAPA YAH, LANJUT BESOK😂