
Iya benar sih, tapi jangan di jelaskan juga. Belum apa-apa bulu kuduk Echa sudah meremang duluan.
"GIVAN!"
"Takut?" Givan malah terkekeh. "Sebelum pos pertama gak akan ada apa-apa, kata yang lain. Eh kita udah di apa-apain aja, di setengah jalan ke pos pertama. Jadi yang tadi apa, ya?"
Echa tidak ingin memikirkannya, tapi Givan membuatnya berpikir keras. Sesuatu itu melintas di antara kedua tangan mereka, hitam, menembus, dan pendek.
"Tuyul?" tanya Echa sambil melihat Givan.
"Mungkin? Coba tanya," kata Givan.
"Tanya sama apaan?"
"Yang ada di belakang lo."
Di belakang, di belakangnya memang ada siapa?
"GIVAN!"
***
Gara-gara Givan menakut-nakuti tentang apa yang ada di belakangnya, Echa tidak ingin belakangnya kosong. Jadi sekarang posisi mereka begini, Echa di depan, sementara Givan di belakang dengan tangan yang terulur melewati bahu Echa di pegangi erat oleh gadis itu.
"Tujuh kali," kata Givan.
"Apa?"
"Kaki gue lo injek."
"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Echa.
"Gak sakit?"
"Gak."
Givan terkekeh. Ini posisinya sadar tidak? Mereka jadi main kereta-keretaan.
"Perpus di mana sih? Jauh banget ya," kata Echa yang sudah merasa lelah dengan jalan di posisi seperti ini.
Echa saja lelah, apa lagi Givan yang terinjak-injak, ya?
"Lo mau tau apa yang ada di belakang lo tadi?" tanya Givan yang langsung di sambut dengan gelengan keras dari kepala Echa.
"Gak, gak. Tengkyu."
"Tadi tuh ada---"
"Givan, berhenti!" Echa berhenti, berbalik, dan menutup mulutnya langsung dengan telapak tangan. "Jangan ngomong itu, sumpah!"
__ADS_1
Echa masih merinding memikirkan apa yang melintasi mereka dengan cepat itu. Tapi tampaknya Givan baik-baik saja. Tidak terlihat takut sama sekali.
Setelah memastikan Givan mengunci mulutnya, Echa kembali berbalik menghadap ke depan. Mereka berjalan lagi sampai akhirnya, tiba di depan pintu perpustakaan.
Echa menghela napas. Dia tidak ingin Givan pergi dari belakangnya, tetapi juga terlalu takut untuk membuka pintu duluan. Jadi, bagaimana ya?
"Buka pintunya, Oca," kata Givan yang menyadari kalau beberapa detik sudah berlalu sejak mereka tiba di sana dan Echa tak kunjung membukakan pintu.
Memberanikan diri, Echa mengulurkan satu tangannya, memegang gagang pintu sementara tangan satunya lagi masih memegangi tangan Givan yang ada di bahunya.
Pintu terbuka bersama dengan suara decitan terdengar. Echa membuka mata dan bersyukur tidak ada jumpscare apa-apa.
"Mau lo duluan masuk atau gue?" tanya Givan.
"Bareng, tapi lo tetep di belakang gue."
"Jadi miring kayak kepiting?"
Echa mengangguk. "Iya."
Konyol sih, tapi Givan hanya menurut saja, menuruti Echa yang sedang di kuasai ketakutannya.
Satu langkah mereka baru saja melewati pintu, tiba-tiba terdengar suara, "Selamat datang."
"WAAAA!!"
Echa menjerit, berbalik, dan menangkup wajahnya di depan dada Givan yang menggelengkan kepala saat melihatnya.
"Echa."
"Mau udahan aja." Echa merengek sambil menutup telinganya.
"Echa, ini gue."
Mendengar itu, Echa langsung membuka matanya, dia menguntungkan sedikit ke belakang dan mengerjap saat benar-benar mendapati Kak Kaivan di sana.
Kak Kaivan dengan baju putih yang berdarah-darah, serta, wajahnya yang di buat pucat pasi dengan lebam ungu di tulang pipinya juga bola mata yang putih.
Penampilan yang cukup mengerikan.
Tak sadar, Echa memepetkan diri sekali lagi ke Givan untuk menjauh dari Kak Kaivan sedang cosplay menjadi hantu? Versi arwah penasaran?
Apa sih ini?
"Kakak lagi jadi apa?" tanya Echa dengan polosnya sambil memerhatikan ngeri.
"Zombie," jawab Kak Kaivan.
Oh zombie. Echa hanya mengangguk. "Kirain arwah maling yang meninggoy karena di hajar masa."
__ADS_1
"Emang gak mirip zombie ya?" tanya Kak Kaivan.
Echa menggeleng sambil menunduk. Dia memegangi erat tangan Givan di sisi tubuhnya, sementara tumitnya sudah naik ke atas sepatu Givan, menginjak jempol kaki Givan dari sana.
"Oca sampe kapan lo mau bikin kaki gue gepeng?"
Mendengar itu Echa baru sadar dan turun lagi.
"Jadi kita harus ngapain di sini?" tanya Echa yang penasaran.
Tugas Kaivan di sana harusnya menakut-nakuti anak-anak yang masuk perpustakaan. Supaya berlari terbirit-birit selama di sana. Tetapi karena Echa sudah takut duluan, jadi tugasnya beralih menjadi tour guide, yang mengantar Echa ke tujuan dengan selamat.
Pos satu itu terletak di paling ujung di dalam perpustakaan, dan ternyata di sana ada lagi yang menjaganya. Entah siapa, yang pasti dia memakai pakaian terusan putih dan wig panjang yang menutupi wajah, maksudnya ini sedang menjadi kuntilanak?
Echa memejamkan matanya sambil memeluk erat-erat tangan Givan di sampingnya. Kemudian, tangan ...kuntilanak? Itu terulur, memberikan sebuah amplop pada Givan dan Echa.
"Ambil, ambil," suruh Echa pada Givan. Dan laki-laki itu menurut untuk mengambilnya, membuka dan mendapati sebuah surat dari amplopnya.
Setelah memberikan amplop itu, kuntilanaknya pergi. Tetapi tidak dengan Kak Kaivan, yang masih ada di sana entah masih untuk apa lagi.
Tapi ya sudahlah, yang penting kuntilanaknya pergi.
Echa bisa bernapas lega, akhirnya.
Karena di sodorkan amplopnya oleh Givan, akhirnya Echa yang membaca peraturannya yang ada di kertas dari amplop itu.
"Ada salah satu teman kamu berinisial Y yang di culik Yeyegombel." Echa berhenti dan melihat Givan. "Harus ya Yeyegembel? Lagian Y siapa nih, Yuyun? Yoga? Kita harus bersusah payah buat bawa balik mereka gitu? Kalau bodo amat aja gimana."
Givan tersenyum sedikit mendengar itu. "Kalau gitu lo auto kalah," katanya mengingatkan. Dan kalau kalah, Yuyun pasti akan menyalahkannya habis-habisan.
"Lagian gimana sih ini gak menantang sama sekali?"
Kenapa juga sanderanya harus di sebutkan berinisial Y? Yang membuat Echa langsung teringat dengan Yuyun dan Yoga. Dua nama yang kalau ada sesuatu terjadi padanya tidak akan membuat Echa mau repot peduli, mau di culik Yeyegombel atau Yoyoygombel.
Echa kembali membaca peraturannya.
"Kamu harus menemukannya segera atau jiwanya tidak akan kembali." Echa mencibir. "Bawa aja jiwanya, gak apa-apa ikhlas."
Kaivan dan Givan terkekeh melihat reaksi Echa terhadap sesuatu yang bahkan belum di mulai ini.
Givan mengambil alih kertasnya dan melanjutkan untuk membaca peraturan di sana.
"Kamu harus mengumpul kan tujuh kunci dari tujuh hantu yang nanti akan muncul. Setiap kunci, tidak bisa kamu ambil dari mereka begitu saja, kamu harus menukarnya dengan sesuatu yang mereka minta. Hanya hantu dengan pita kuning di leher yang memegang kunci. Setelah semua kuncinya kamu dapatkan, kamu bisa segera pergi ke aula, dan bebas kan teman kamu yang di tahan."
.
.
.
__ADS_1
...BERSAMBUNG .... ...