Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Lihatin Lo ... Napas


__ADS_3

"Lo mau ke kantin?"


"Bukan. Mau ke perpustakaan dong, biar pinter," jawab nya dengan penuh nada sarkastis.


Laki laki dalam balutan kaos futsal itu menunujuk ke belakang nya. "Tadi di sana kantin, perpustakaan nya ada di sana." Dia menunjuk arah sebalik nya.


"Mau ngambil rute muter, emang gak boleh ya Givandra Galaxy?" Echa tidak tahan untuk tidak nyolot.


"Boleh kok, muter nya mau sambil gue gendong?"


"Idih." Echa mengidik kan kedua bahu nya. "Mending gue ngesot."


Echa berbalik dan melangkah ke arah perpustakaan. Dia sedikit mencuri lirik ke belakang, memasti kan Givan tidak ada di sana. Tapi sial nya, lebih buruk lagi Givan malah mengikuti nya. Bahkan sekarang, cowok itu berusaha menyejajar kan langkah dengan nya.


"Nanti gue nyusul," kata nya.


"Gak perlu, makasih."


"Sama sama, tapi mau," balas Givan. "Gue ganti baju dulu."


Echa menghenti kan langkah nya dan melihat Givan dengan tajam. "Aduh lo, bisa gue geprek gak sih?"


"Gak bisa," kata Givan sambil dengan iseng menyentuh poni Echa dengan telunjuk nya. "Tunggu ya, Oca. Atau mau ikut gue ke ruang ganti?"


"Enak aja!"


"Gak enak kok, kan cuma ikut bukan lihatin gue ganti baju. Atau kalau lo mau---"


"GIVAN." Echa benar benar sudah tidak tahan. "Diem ya, atau gue slepet nih bibir lo!"


"Aaaaa~" Givan malah sengaja tidak menurut untuk diam. "Ini gue bersuara, mana yang mau slepet?"


***


Di meja perpustakaan yang terletak paling ujung, Echa baru saja menutup buku paket Sosiologi yang sedari tadi di baca -dan berusaha di cerna nya.


Echa bukan benci membaca, dia suka. Tapi hanya bacaan fiksi, seperti novel remaja dengan cerita yang ringan dan semacam nya. Bagi Echa bacaan nonfiksi yang cukup berat seperti buku pelajaran itu ... cukup menguras otak dan tenaga nya -juga membosan kan.


Terbukti setelah membaca beberapa bab saja dia menguap kemudian mengucek mata nya.


Saat membuka mata dan melihat lurus ke depan, Echa terkejut karena mendapati Givan yang duduk di seberang meja, dan sedang menatap nya. Sejak kapan?


"Ngapain lo, di sana?"

__ADS_1


"Lihatin lo ... napas," jawab Givan.


Jawaban macam apa itu?


"Lo serius nanggapin kata kata gue kemarin?" tanya Givan lagi masih dari tempat nya, kepala nya sedikit miring sekarang. "Apa lo belajar karena gue bilang bodoh, dan supaya gue suka sama lo?"


"Bukan!" Echa menegas kan itu pada Givan dan pada diri nya sendiri. "Bukan lah gila! Ngapain?!"


"Kali aja," kata Givan dengan kekehan nya.


Sudah tidak aneh melihat laki laki itu terkekeh kan? Sudah sering soal nya akhir akhir ini, kalau saja Givan rambut nya panjang sepunggung sudah mirip kayak nya dia jadi Kuntilanak versi terlihat.


Dan karena itu Echa jadi curiga juga, apa Givan menuruti saran nya tempo hari dengan benar benar menyimpan pantat nya di atas kompor?


Karena sejak saat itu rasa nya Givan banyak berubah. Tidak kaku, jadi lebih manusiawi, lebih banyak terkekeh, lebih ... bersikap hangat? Seolah Gunung Es yang ada di dalam diri nya -yang selama selama ini membuat Givan bersikap dingin- sudah mencair.


Tanpa menanggapi ucapan Givan, Echa berdiri dan mengambil buku buku yang di pinjam nya untuk di kembali kan ke rak. Givan ikut berdiri juga, bahkan saat Echa berjalan di antara rak buku, Givan mengikuti Echa dengan berjalan di belakang nya.


"Ngapain ngikutin? Ngeri banget gue, serasa di tempelin setan nih," kata Echa tanpa menatap nya, dia mengambil satu buku dari dalam pelukan nya, kemudian menyimpan buku itu ke rak.


Karena terlalu tinggi, Echa berjinjit. Melihat itu Givan berdiri merapat di belakang Echa dan membawa buku dari tangan Echa untuk di simpan kan ke rak atas.


"Wah, wah, wah," decak Echa sambil menepi ke pinggir, menjauh dari depan Givan dan melapas kan tangan nya dari laki laki itu. "Kok mepet mepet sih?"


"Oh iya, lupa. Bukan nya tadi gue ya, yang mau di slepet?"


"Ayo mumpung sepi," desak Givan sambil tertawa.


Dan tebak selanjut nya apa? Beberapa buku yang tersisa di tangan Echa menabrak keras punggung Givan. "Gue pukul lagi nih sampai tulang lo mencar mencar semua."


***


Grup SESAT (SEbelas Sosial SAtu)


Angga Dharmawangsa


[Tes, tes, tes.]


[Ada yang mood gibah?]


[Kode rahasia nya mepet slepet.]


Astaga si Lambe Lambean kelas itu, selalu ada di sudut mana pun tempat sumber gosip berada.

__ADS_1


Echa mendengus kesal.


Malam ini dia sedang ada di minimarket dekat rumah nya, sedang memeluk satu bungkus pembalut, berdiri di dalam antrian kasir yang masih panjang.


Echa padahal benar benar sadar kalau kemarin itu tidak ada Angga di perpustakaan -maksud nya tidak melihat nya, tepat saat percakapan itu terjadi. "Jadi kemarin anak itu nguping dalam bentuk apa sih? Nyamuk?"


Saat melihat tulisan keterangan 'Angga sedang mengetik....' Echa buru buru mengirim emot kepala alien sebanyak banyak nya.


Peringatan asal saja, tapi Rido menyahuti nya dengan pemahaman krea(k)tifnya.


Rido Ilahi


[Mau gue translate gak arti pesan Caca ini?]


[Artinya lo bakal di paketin keluar angkasa, di jadiin pakan alien. HA. HA. HA.]


[Mending kalau ada bahan gibah tuh, lo japri gue deh. Nanti gue SS kirim ke sini.]


[Gak usah kebanyakan intro.]


Angga dan Rido memang tidak ada beda nya. Kalau Angga itu Lambe nya SESAT, Rido itu kompor nya SESAT. Apa pun yang Angga dapat kan, akan di panas panasi oleh Rido hingga jadi huru hara seisi kelas.


Seketika Grup SESAT jadi ramai. Banyak pesan dari teman teman yang bersahutan, rata rata meminta Angga menjelas kan lebih banyak tentang bahan gibah yang baru di spill judul nya saja itu.


"Harus nya grup kelas itu ganti, jadi Sesat X Gibah. Biar lebih menjurus gitu dosa nya, dan di buku catatan malaikat bisa lebih menjurus," dumel Echa sambil mengaktif kan senyap untuk grup chat kelas nya.


Namun, saat Echa baru akan memasuk kan ponsel nya ke saku. Banyak suara notifikasi masuk dan membuat dia mengeluar kan ponsel nya lagi dan kembali mengecek grup.


Yang paling atas menyebut nama nya.


Givandra Galaxy


[@Niscala Rescha hujan nih, mau gue jemput?]


Apa lagi ini?


Pesan itu memancing pesan lain berdatangan, dan hampir semua nya menyebut Echa hingga membuat ponsel Echa terus berdenting dan memancing perhatian beberapa pengunjung.


Echa dengan cepat membungkuk, meminta maaf karena sudah mengganggu kenyamanan. Kemudian mematikan daya ponsel nya cepat cepat dan memasuk kan ponsel nya ke saku.


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung......


__ADS_2