
"Hai, Van," sapanya.
"Centil banget," desis Echa.
"Lo kok berani tidur di UKS sendiri? Padahal kan baru-baru ini ada yang ...itu, yang bikin nampan bengkok."
Givan tersenyum mendengarnya, dan Echa tidak menyukai itu. Pasalnya, Givan itu tersenyum sambil melihat lurus ke Yuyun yang artinya senyum itu untuk Yuyun.
"Dedemit?" tanya Givan. "Gue kenal kok sama Dedemitnya."
Echa berdecak keras-keras tapi tidak ada yang peduli.
"Lo bikin gue merinding," kata Yuyun. "Oh ya, ini." Yuyun menyerahkan sekotak susu cokelat ke Givan. "Buat lo, di minum ya. Thanks udah nganterin gue kemarin."
Dan ...tau tidak apa yang menyebalkan? Givan menerima susu kotak dari Yuyun, menusuknya langsung dengan sedotan lalu benar-benar meminumnya di depan Yuyun.
"Thanks," kata Givan sambil menunjuk susu kotaknya.
Yuyun mengangguk.
Sementara Echa, dia sedang mati-matian menahan rasa kecewa yang luar biasa yang membuatnya ingin menonjok dua orang di hadapannya ini. Terutama Givan.
Bisa-bisanya, roti panggang buatan Echa hanya di pegang lalu di kembali sementara susu kotak dari Yuyun langsung di minum saat Yuyun memintanya.
Ironi sekali ....
Perasaan macam apa sih ini? Kutukan karena dia menyukai laki-laki yang dia labeli Cowok Sialan?
Bahkan setelah Echa menyadari sepenuhnya kalau dia menyukai laki-laki ini, Givandra Galaxy. Echa masuh ingin banyak merutukinya, karena sikapnya yang terus labil-labilan begini.
Kadang manis.
Kadang membuat Echa baper.
Kadang minta maaf.
Lalu berlaku membagongkan lagi seperti sekarang.
Dasar, 'Cowok Sialan.'
"Givan," panggil Echa membuat Givan menoleh.
"Apa?"
"Kepala lo bisa di copot gak sih? Pengen gue blender rasanya."
***
__ADS_1
Givan tahu Echa kesal.
Tahu juga apa yang menyebabkannya.
Givan hanya tidak ingin mendapatkan lebih banyak hal-hal yang tidak bisa di lepaskan, seperti syal itu, dan roti panggangnya.
Givan hanya ingin berada di dekat Echa pada batas-batasnya yang di buat sendiri, hanya ingin dia yang mendekat, sementara Echa jangan.
Givan hanya ...bersikap egois dengan mementingkan dirinya sendiri dan menutup mata atas Echa.
"Cewek itu ribet banget gak sih? Masih pagi juga, omongannya udah ke mana-mana," ketus Yuyun yang ada di depannya setelah kepergian Echa.
Givan tidak menjawab tatapnya masih tertuju ke sisi kiri koridor, ke arah Echa pergi.
"Iya, kan? Cewek itu ribet?" tanya Yuyun sambil mengguncang sedikit tangan Givan, membuat Givan tersadar dan mengalihkan tatapnya pada Yuyun.
"Enggak," kata Givan membuat Yuyun mengernyit tidak terima. "Thanks sekali lagi buat ini." Givan menunjukkan susu kotak di tangannya ke Yuyun. "Gue duluan," kata Givan setelahnya lalu berlari untuk menyusul Echa.
Dia akan meminta maaf, mungkin. Dia akan berjanji untuk lebih ...baik? Kedepan nya. Lebih membuat Echa mengerti dengan berbicara, apa pun yang selama ini membuat Givan tidak jelas, lebih tidak egois. Givan akan mencoba memberanikan diri mengambil satu langkah maju untuk mendekat pada Echa, satu saja dulu.
Namun, yang di lakukannya begitu melihat Echa adalah ...berhenti. Langkahnya berhenti saat melihat Echa ada di koridor bersama cowok itu, Kaivan, yang berdiri di depan Echa dan tangan mengusap pelan kepalanya, entah apa yang keduanya bicarakan, Kaivan tampak tersenyum sambil menatap Echa yang ada di depannya.
Sekali lagi dengan tidak tahu diri, Givan merasakan perasaan itu. Dia tidak ingin melihat Echa bersama orang lain, lebih tepatnya laki-laki lain.
***
Setelah pergi dari UKS, Echa berniat untuk pergi ke kelasnya. Untuk ...untuk apa pun. Melakukan apa pun yang membuatnya lupa pada kekesalannya, sesederhana bernapas dan berkedip.
Tapi di jalan, Echa malah berpapasan dengan Kak Kaivan, yang menyapanya dengan senyum, lalu menahan langkah Echa di sana dengan bertanya siapa yang berpartisipasi dengan G Hunters dari kelasnya -yang membuatnya kembali menyebut nama Givan. Lalu Echa di beri semangat sambil kepalanya di usap pelan.
Itu pertama kali Kak Kaivan melakukannya pada Echa, mengusap kepalanya. Di pikirkan berapa kali pun setelah Kak Kaivan melakukan itu, Echa tetap tidak merasa apa-apa. Dia tetap merasa biasa saja.
Berbeda saat Givan melakukannya waktu dekat taman.
Ah, tuh kan. Bisa-bisanya sekarang ketika ada di samping Kak Kaivan yang mengantarnya ke kelas, Echa masih memikirkan Givan.
Jadi Echa curiga, dia di pelet ya?
"Echa," panggil Kak Kaivan yang membuat Echa terkesiap.
"Iya, Kak?"
"Udah sampe kelasnya, di sini kan?"
Echa berhenti dan dia melihat ke sebelahnya, ada papan panjang tertuliskan 'Selamat datang di kelas SESAT' yang baru di tempel kemarin.
Kepala Echa mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya. Lupa." Ternyata sedari tadi dia hanya menggerakkan kakinya tanpa benar-benar fokus.
Pikirannya terbang ke mana sih?
Ke Givan lah, tentu saja.
"Atau mau jalan keliling sekolah sekali lagi sama Kakak?"
Echa sedikit terkejut mendengar itu, tapi segera mengontrol raut wajahnya dan menggeleng pelan, meskipun hatinya bertanya-tanya, apa ya maksudnya tadi?
"SMA Nusa Bhakti luas, takutnya kaki aku copot."
Karena apa yang di katakan asal oleh Echa itu, Kak Kaivan tertawa. Receh sekali.
Setelah itu Echa masuk, meninggalkan Kak Kaivan yang pada akhirnya pergi juga dari depan kelasnya.
Lama Echa ada di dalam kelas, duduk di bangkunya dan tidak melakukan apa-apa selain hanya memainkan ponsel, sampai akhirnya Alkana datang dan menyimpan satu buah spidol di depan Echa.
"Bikin Graffiti sana buat isi papan tulis."
Echa mendengus dan menjauhkan spidol itu dari dekatnya. "Gak mau, lagi males. Gak di semangatin Ayank."
Alkana mengambil kembali spidol itu, menyodorkannya lagi pada Echa. "Nanti gue bocorin apa yang gue omongin sama Givan," bujuk Alkana. "Gue tanya kemarin apa dia suka sama lo, dan dia jawab."
"Jawab apa?" tanya Echa dengan mata melebar.
"Ya nanti jawabannya, kalau lo udah beres bikin Graffiti gue kasih tau lo."
Echa berdecak. Namun, karena Echa penasaran Echa mengambil spidolnya dan berdiri. "Tulisannya apa?" tanya Echa.
"Terserah lo aja, yang penting isinya rame. Gak melompong."
"Panjang ya Pak?" kata Echa sambil mengocok-ngocok spidolnya. "Terserah lo aja, yang penting isinya rame. Gak melompong. Itu yang gue tulis?"
"Aduh, Cha. Lo tuh, aduh."
Alkana geregetan sendiri, ekspresinya terlihat seperti ingin mengunyah kepala Echa sekarang juga. "Gini deh tulisannya 'Kami anak SESAT, siap menyambut' itu kecil tulisannya, terus di tulisan gede 'Fight 8 Fun'. Ngerti?"
"Enggak."
.
.
.
...BERSAMBUNG ... ...
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA:( BIAR OTOR MAKIN SEMANGAT BUAT UP TIAP HARINYA:)