
Masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun, sampai akhirnya, Echa yang kesal menarik syal itu dari wajahnya lalu, "AAaaa!!" berteriak sendiri. "Ih kok, kok---" Kecewa, kaget, bercampur jijik, Echa tidak tahu apa yang mau lebih dulu dia rasakan.
"Kok lo sih?"
Orang yang sedari tadi dia bangunkan, dia guncang-guncangkan, yang di pikir adalah Givan, ternyata--- bukan, ternyata .... Angga, yang sekarang masih menggeliat-geliat tidak jelas.
"Jadi tadi gue lihat---" Echa benar-benar ingin muntah saat teringat dengan rambut-rambut sialan itu. Kemudian syalnya, syal manis warna cokelat susu hasil rajutan tangannya sendiri itu ...di Angga? Baru saja Echa buat terunyek-unyek di ketiak Angga? "Ah, najong."
"Cha, aduh, bales banget mimpiin Echa," gumam Angga dengan tidak jelas, matanya terbuka sedikit untuk melihat Echa sebentar lalu tak lama terpejam lagi dan bergerak membelakangi Echa.
"Givan mana?" tanya Echa.
"Haa esss."
"Hah? Givan di mana?"
"Hua es."
"Ngomong yang jelas gue injek lo!"
Angga menyibak syal rajutnya, duduk dengan cepat dan berteriak dengan mata terpejam. "UKS CHA! UKS! GIVAN DI UKS LO NGERTI TIDAK SIH?"
"Ohok! Ohok!" Echa terbatuk-batuk karena Angga benar-benar berteriak di depan wajahnya, dan Echa mencium langsung dan banyak napasnya yang ...maaf, bau sekali ToT.
"Lo nginep di sekolah gak nemu Aqua? Terus minum air comberan? Astaga!" Echa menangkup hidung dan mulutnya. "Pengen gue masukin kamper ke mulut lo."
"Udah belum nih? Gue mau tidur lagi," kata Angga dengan mata setengah terpejam.
"Kenapa lo pake syal rajut itu?" Ini pertanyaan terakhir, Echa janji karena Echa sendiri tidak mau berbicara lebih lama dengan Angga, dan menghirup lebih banyak.
Angga mencubit ujung syalnya, "Ini?" tanyanya sambil mengangkatnya ke atas. "Semalem gue di selimutin Givan, kenapa? Cemburu?" tanya Angga sambil membuka syal itu dan melemparnya ke Echa yang langsung di tepis kasar, tidak sudi Echa menyentuh syal yang sudah bergesekkan dengan ketiak Angga yang jahanam.
Echa sendiri, membuka paper bagnya dan memberikan beberapa makanan dari Bunda ke Angga. "Sarapan dulu," kata Echa terdengar penuh perhatian. "Udah ity lo pergi ke minimarket deket sekolah, beli odol terus telen semua tuh odol semua sama tutup-tutupnya."
Setelah membagikan makanan untuk sarapan ke teman-teman yang lain, Echa pergi ke UKS.
Koridor cukup lenggang pagi ini, belum banyak orang yang dateng ke sekolah terutama hari ini semua kegiatan di mulai pukul delapan pagi.
Sesampainya di pintu Echa mengetuk nya sekali kemudian mendorongnya sampai terbuka.
__ADS_1
Echa berjalan masuk, menuju ke ranjang UKS berada, dan dia benar-benar lega saat mendapati Givan di sana, terbaring memejamkan mata dengan hoodie yang menutupi kepalanya dan tangan yang berlipat di dada.
Iya benar-benar Givan, sekarang Echa melihat jelas wajahnya. "Van," Echa mengguncang tubuhnya sedikit, berhasil membuat Givan terbangun dan melihat Echa dengan mata menyipit.
"Oca," gumamnya dengan berat.
"Lo di sini sendiri?"
"Mm," jawabnya sambil mengubah posisi menjadi duduk. Kemudian Givan meraih tangan Echa dari bahunya, meletakkan tangan itu di samping pipinya sendiri saat laki-laki itu berbaring miring. "Bentar lagi," katanya dengan mata terpejam.
Dan karena itu Echa benar-benar berhasil di buat menunggu dengan suka rela tanpa batas waktu 'bentar lagi' itu usai.
Givan bangkit dan duduk dari tempat duduknya, dengan wajah mengantuk, dia tersenyum pada Echa yang sedari jantungnya di buat berdetak brutal, sejak Givan tertidur memegangi tangannya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Givan.
Echa mengerjap, buru-buru membuka ponselnya dan melihat jam. "Jam tujuh kurang dua puluh menit."
Givan mengangguk. "Gue ke toilet dulu," kata Givan seraya menurunkan kakinya dan duduk di tepi ranjang, di samping Echa duduk.
Sebelum memakai sepatutnya, Givan tampak termenung lama. Seperti jiwanya belum terkumpul semua. Kemudian, dia melihat ke Echa lagi, yang tidak memiliki persiapan untuk di lihat Givan.
"Ke sekolah bawa motor?" tanyanya.
"Jam berapa berangkat?"
"Jam enam pagi."
"Pagi banget."
'Karena lo nginep di sini, Givan! Peka tidak sih?!'
"Di suruh Bunda buat nganterin sarapan anak-anak yang nginep. Buat lo juga, gue bawain roti." Roti ini khusus Echa buat untuk Givan, bahkan Echa yang memanggangnya sendiri.
Echa membawa tas punggungnya ke depan, membuka resleting tasnya, kemudian mengambil kotak makanan berisi roti buatannya dari sana.
Kemudian memberikan itu ke Givan. "Buat lo," katanya dengan senyum manis.
"Gak di racun, kan?" tanya Givan dengan senyum miring.
__ADS_1
"Enggaklah." Echa mendengus.
"Simpen aja dulu, nanti gue makan habis mandi."
Mendengar itu, Echa mengangguk kemudian memasukkan kembali kotak makanannya ke dalam tas. Agak sedikit kecewa karena ekspektasinya Givan akan langsung memakannya dan ternyata tidak, tapi ya sudah. Tidak nyaman juga mungkin, kalau bangun tidur, mulutnya langsung di jejali makanan.
"By the way---"
"Gue pake lotionnya," kata Givan, menggulung lengan bajunya dan menempelkan itu ke hidung Echa. "Wangi?"
Echa mengangguk, tapi bukan itu yang ingin Echa tanyakan. "Syal rajut yang kemarin gue kasih di paper bag kuning, kenapa lo kasih ke Angga?" Bukannya Echa sudah bilang kalau semua yang ada di paper bag itu untuk Givan? Atau Echa tidak bilang? Masa juga sih Givan tidak mengerti?
Gerakan Givan yang baru akan meraih sepatu terhenti, dia tampak diam selama beberapa saat dan Echa menunggu. Sampai akhirnya Givan berkata sambil memakai sepatu. "Kasihan Angga kemarin, ketiduran gak pake baju."
Echa mengangguk lagi, tapi, "Lo tau gak sih?" tanya Echa. "Itu syal rajut buatan tangan gue sendiri."
Givan yang baru selesai memakai sepatunya kembali melihat Echa. "Buatan lo?"
"Ada nama Niscala Rescha di ujungnya, lo gak lihat?"
Givan menggeleng. "Maaf," katanya saat melihat raut kecewa di wajah Echa. Dia masih menatap Echa.
"Gak apa-apa, lo gak tahu," kata Echa. Untuk mengalihkan pembicaraan, dan untuk meluapkan kekecewaannya yang kedua pagi ini, Echa bertanya, "Lo tidur jam berapa?"
"Jam tiga pagi," jawab Givan seraya berdiri, dia berbalik, mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut dengan baik oleh Echa saat berdiri juga.
"Lo baru tidur, sekitar tiga jam?"
Givan tersenyum dan mengangguk.
"Lo mau tidur lagi sekarang?" tanya Echa yang merasa jadi tidak enak karena sudah membangunkan Givan.
"Gue mau mandi sekarang," kata Givan setelah itu dia melangkah keluar dari UKS, Echa buru-buru mengikutinya.
Namun, tepat di pintu UKS, Givan berhenti tiba-tiba dan membuat Echa ikut berhenti. Kemudian, Echa mengintip ke depan, dan terbelalak lalu mendengus sendiri saat melihat Yuyun di sana, tersenyum lebar ke Givan.
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG... ...