Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Di Kutuk Gak Sih?


__ADS_3

"Pernah naik hoverboard berdua terus di puter-puter gak?" tanya Echa membuat Zia mengernyit.


"Lo pernah gitu, serius sama Givan?"


"Pernah di usap-usap gak pala lo ini---" Echa menunjuk kepala Zia. "Tapi lo ngerasa ada yang ngelitik-ngelitik di sini." Echa menunjuk ke perut Zia. "Kayak ginjal lo berubah jadi tai yang di kerubuti lalat."


Zia meringis sendiri mendengar perumpamaan yang di katakan Echa. "Harus banget, tai ya Cha? Ah, otak sama mulut lo kotor banget. Kenapa sih gue temenan sama lo?"


Echa tidak menjawab pertanyaan Zia. "Pokoknya sensasinya itu, geli-geli membagongkan."


Zia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kasihan banget ya, gak bertepuk sebelah tangan, malah bengek banget kisah cinta lo." Zia tertawa puas sendiri. "Selamat berjuang dapetin Gayung Lopenya, ya Cha~ biar ginjal lo bisa cebokan."


Suara peluit terdengar menandakan permainan futsal itu selesai.


Echa segera berdiri dari duduknya sambil membawa minuman jeruk dalam botol, kemudian menuruni tangga tribun untuk pergi ke pinggir lapangan, menghampiri Givan.


"Mau ke mana?" tanya Zia yang masih mengunyah roti keduanya yang baru di buka.


"Mau ngasih ini, ke Gayung Lope," kata Echa sambil menujukkan minuman yang akan di berikannya pada Givan.


Zia berdecak, dia tidak akan berada di sini kalau bukan karena Echa. Jadi kalau Echa pergi, dia jadi semakin merasa kalau dia tidak memiliki fungsi apa-apa di sana.


"Ikut deh," katanya sambil membawa sisa makannya pergi. "Jadi konsepnya lo mau caper-caper menjijikkan gitu?" tanya Zia masih sambil mengunyah roti cokelatnya.


"Terus aja menjijikkan-menjijikkan. Enak banget emang ya bilang gitu sambil makan? Kalau gue sih udah serasa ngunyah tai."


"Jangan bikin gue mau muntah deh Cha. Kalau udah kerasa mual-mual gue muntahin ke wajah lo ya."


"Ya, habisnya ya kaum kadal ini."


Tinggal lima tangga lagi menuju ke tangga terakhir di tribun, tiba-tiba saja Echa menghentikan langkah dengan tatap mata yang tertuju lurus ke depan, pada Givan di lapang.


"Kenapa lo?" tanya Zia yang merasa aneh saat melihat Echa mematung tiba-tiba. "Heh? Di kutuk gak sih?"


Karena penasaran, Zia melihat ke mana tatap Echa tertuju dan terjawab. Dia menemukan penyebab Echa nge-bug seperti ini.


Zia terkekeh jahat.


"Mampus lo," desis Zia. "Mau meninggoy gak tuh?"

__ADS_1


Jadi di tengah lapangan futsal sekarang, Givan yang baru saja selesai futsal, melepaskan kaos futsalnya, memamerkan tubuh bagian atasnya yang berkeringat yang ternyata ... WAH GILA WOW BANGET! GILA! GILA! GILA!


Dadanya yang bidang yang tadi Echa pegang-pegang di parkiran, sekarang Echa lihat langsung tanpa terhalang apa-apa. Top less. Kemudian, lengannya yang sedikit berotot, serta perut putihnya yang rata dengan bentuk-bentuk yang ... wah, membuat kewarasan Echa hilang.


Terlebih, saat Givan menerima sebotol air mineral dari temannya dan mengguyur rambutnya sendiri dari atas dengan air botol itu, Echa langsung di buat tidak sanggup lagi berdiri.


Bruk!


Gadis itu berjongkok begitu saja di tengah-tengah tangga tribun, sambil memeluk botol minuman jeruk yang tadinya ingin dia berikan kepada Givan.


"Cha, astaga malah jongkok." Zia yang masih berdiri di sampingnya menggeleng-geleng. "Cha, berdiri gak? Gue keresekin ya kepala lo! Cha, heh. Niscaya Rescha!"


Echa tidak mendengar Zia, dia seperti baru saja meninggalkan kesadarannya di dunia ini dan pergi ke dunia lain miliknya sendiri yang isinya hanya ada Givan beterbangan.


"Dia masih blasteran surga atau gimana sih?" tanya Echa masih dengan tatap yang tertuju lurus ke sana. "Kenapa indah banget ya Tuhan?"


Zia yang kesal karena di abaikan akhirnya bertindak. "WOY GIVAN!"


Teriakan itu tak hanya membuat Givan menoleh ke tempat mereka, tetapi juga membuat Echa terlonjak di sana.


Tunggu, tunggu, apa ini?


"Anjrit, lo!" Echa akhirnya berhasil mengalihkan tatap, melihat Zia dengan mata melorot. "Lo, Zia. Bercanda lo sumpah, ya."


Zia balas melihatnya dengan senyum miring. "Udah gak nge-bug lo?" tanya Zia dengan sarkastis.


Echa tidak ada waktu untuk menanggapi Zia, karena dia mendengar suara langkah dan dari sudut matanya, dia juga melihat memang ada yang mendekat ke sana. Pemandangan indah yang tadi di lihatnya sedang bergerak ya ...


Lalu," Apa?" Suara itu sukses membuat Echa ingin menempelkan wajahnya ke lantai tribun.


"Silakan Cha, nikmati waktu nge-bug lo lebih lama. Gue cabut duluan, bye!"


Setelah mengatakan itu Zia benar-benar pergi meninggalkan Echa yang masih berjongkok dan tidak bisa melihat Givan, tapi juga tidak bisa pergi kemana-mana.


Seperti baru saja ada yang memakunya di sana.


'Aduh, ini gimana?'


"Oc---"

__ADS_1


"Givan lo jangan ngomong!" kata Echa dengan cepat.


"Ngomong, ngomong, ngomong, gue ngomong nih!" Givan malah sengaja lalu tertawa sendiri saat melihat Echa yang meringis sambil berusaha tidak melihatnya. "Echa lo mau lihat ke sana sampai kapan? Zia udah pergi, gak mau liat gue gitu?"


"Lihat lo yang berpotensi bikin gue kejang-kejang, maksudnya?"


"Hei, Oca." Givan bergerak, meraih wajah Echa dengan kedua tangannya dan membuat wajah Echa menghadapnya.


Dan Givan mengernyit, "Kok matanya merah banget, sih?" Laki-laki itu tertawa sendiri saat mendapati Echa yang seperti apa yang baru di bilangnya, matanya benar-benar di pejamkan kuat.


Semenolak itu Echa melihat Givan, tetapi Givan tidak berhenti.


"Ini gimana buka matanya, gue tiup-tiup ke buka gak? Fuh, fuh." Givan meniup kedua mata Echa bergantian.


"Givan plis, stop," kata Echa masih dengan mata yang terpejam. "Lo tiup sekali lagi, bisa-bisa jiwa gue yang ketiup sampe akhirat."


***


Masih belum ada dari satu usahanya yang berhasil membuat Givan baper.


Pertama, tadi pagi bersikap manis dan so lemah dengan tidak bisa membuka helm, tidak berhasil. Givan tidak tersentuh dengan itu. Reaksinya biasa saja.


Kedua, masih tadi pagi, yaitu melakukan sentuhan di area-area tertentu, tidak berhasil juga.


Ketiga, saat Echa hendak memberi perhatian kecil dengan minuman itu malah ...gatombyar alias gagal total dalam mode ambyar.


Padahal memberikan minuman itu sederhana dan sangat mudah. Echa juga sudah menunggu lama untuk itu. Tapi gara-gara melihat 'kepolosan' yang muncul tanpa di duga, Echa ...ya sudah lah.


Selama jam pelajaran yang tersisa, Echa benar-benar membuat fokusnya tertuju pada papan tulis di depan. Sedangkan Givan, laki-laki itu sebenarnya tidak tahu apa yang sedang Echa rasakan, dia hanya merasa lucu melihat Echa beberapa kali terlonjak sendiri dan mengerjap untuk menghindar dari tatapnya.


"Ola~," panggilnya dengan berirama setelah pelajaran hari ini usai. "Ayo pulang."


.


.


.


...Bersambung... ...

__ADS_1


LANJUT BESOK, HARI INI CUMAN 2 BAB 😊


__ADS_2