Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Gemoy Cekuli


__ADS_3

Echa menghembuskan napaa kasar kemudian duduk di ayunan yang di samping nya. "Oca dua gak tuh?" cibir nya.


Givan tersenyum, masih sambil mengelus kucingnya, Oca kucing.


"Kenapa lo harus mikirin gue?" tanya Givan yang sepertinya sudah sangat sadar kalau Echa benar-benar membuat isi otaknya penuh dengan dirinya.


"Gak tau, kenapa ya?"


Givan tersenyum, lalu menunjukkan Oca kucing padanya. "Mau pegang?" tanya Givan, rupanya Givan memperhatikan arah tuju pandangan Echa sedari tadi, memperhatikan kucing yang ada dalam pangkuannya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


Echa menjulurkan tangannya dan Givan memberikan Oca kucing ke Echa.


"Uhuhuy, berat banget Bun dedeknya," kata Echa yang sudah menerima Oca kucing dan merasakan bobotnya.


"Peluk, jangan di biarin turun ke pasir," pinta Givan saat melihat Oca kucing tampak mau memberontak di dalam kendali Echa.


Setelah memberikan beberapa elusan lembut, akhirnya Oca kucing bisa tenang pada Echa manusia.


"Kenapa gak boleh di biarin ke pasir?" tan Echa, sebenarnya ingin dengan tambahan. 'Di saat Echa sendiri jatuh ke pasir dan Givan tidak berbuat apa-apa selain melihatnya.'


"Baru aja mandi, dan nanti dia tidur sama gue," kata Givan, penjelasan yang membuat Echa membuka mulutnya.


Kemudian Echa mengangguk. "Suka tidur bareng, ya." Kampret.


"Oca?" panggil Givan.


Echa manusia menahan diri untuk tidak menyahut.


"Oca," panggil Givan lagi.


Akhirnya Echa menoleh. "Siapa yang lo panggil?"


"Lo," jawab Givan menunjuk nya.


"Kenapa?"


"Gue manusia," Givan membuat pengakuan tiba-tiba, lalu terkekeh sendiri. "Gue bukan semua yang ada dalam pikiran lo, apa lagi Alien."


Echa mengangguk, dan meringis.


"Ada alasan kenapa gue bilang, kalau gue gak akan nikah." Kemudian setelah mengatakan itu, Givan terkekeh sendiri. "Emang masih jauh, tapi itu udah gue pikirin dan kayaknya bakal jadi keputusan gue sampai ... akhir."

__ADS_1


Sekarang, saat Echa menatap Givan dia menemukan sorot sedih dan putus asa di sana, seolah kalau dia juga tidak menginginkan, tapi terpaksa ada di sana, keputusan itu.


Nah, jadi kenapa? Kalau misal tidak mau, kenapa memilih begitu?


"Boleh gue tahu?" tanya Echa dengan hati-hati. "Alasan lo udah menetapkan hal sepenting itu, sekarang?"


Givan menggeleng. "Tapi gak sekarang," katanya sambil memaksakan tersenyum.


"Gak sekarang?" Echa mengutip kata itu Artinya, "Apa nanti, suatu hari lo bakal ceritain alasan itu ke gue?" tanya Echa dengan penuh harap, dia sangat ingin tahu. Bukan semata-mata hanya ingi, hanya karena penasaran, dia ingin tahu apa Givan memutuskan itu dengan baik-baik saja?


"Mungkin?" kata Givan. "Kalau ada satu orang yang harus tahu di dunia, kayaknya orang itu akan lo."


Givan menatapnya lembut, dan itu berhasil membuat Echa menahan napas terpaku dalam beku. Echa segera mengangguk sambil mengalihkan tatap ke arah lain.


'Kalau ada satu orang yang harus tahu.'


Kalau kalimat itu berhasil membuat Echa merasa seperti menjadi sesuatu yang special hanya dengan mendengarnya?


"Kenapa gue?" tanya Echa dengan suara yang sedikit tercekat.


Sebelum menjawab, Givan menundukkan kepala tersenyum, Echa memperhatikan nya. Jadi ketika Givan mengangkat kepala untuk melihatnya lagi, pandangan mereka langsung bertemu.


"Karena lo Bebek Kuning," kata Givan masih dengan senyumnya.


"Kalau gue bebek kuning?" Echa ingin tahu. "Bukannya itu ejekan buat gue? Lo selama ini nganggap gue jelek, kayak bebek?"


Givan menggeleng. "Bukan." Givan menatapnya lagi. "Bebek gak jelek, dan lo gak jelek." Dalam arti lain, Echa cantik.


Di samarkan saja Echa sudah merasakan sekujur tubuhnya ingin me-reog mendengar itu, apa lagi langsung di sebut 'Cantik'.


"Terus?" tanya Echa menahan diri mati-matian agar tidak salah tingkah. "Jadi kenapa lo manggil gue bebek kuning?"


"Lo tau gak sih kalau bebek itu hanya akan berwarna kuning bulunya kalau dia masih kecil?" tanya Givan.


"Jadi gue kecil di mata lo?"


Givan menggeleng. "Intro dulu, pertama gue mau lo bayangin bebek kuning yang kecil dan lucu."


Echa mengangguk, yang lucu bebeknya kan maksud Givan? Bukan Echa? "Udah. Terus."


"Alasan pertama gue manggil lo Bebek Kuning, adalah karena lo berisik, kayak Bebek Kuning," papar Givan. "Terus, lo selalu ada di tengah-tengah temen lo, kayak Bebek Kuning yang selalu ada di tengah temen-temennya yang lain. Terus, selain itu Bebek Kuning selalu di ayomi sama Iduknya, sama kayak lo, selalu ada Tenta Maya buat lo."

__ADS_1


Sampai sini, terdengar manis tidak sih? Echa baru tau kalau artinya sebagus itu.


Givan memerhatikan sedetail itu. Dan jujur saja, Echa merasa hangat mendengar semuanya.


"Gue gak tau apa Bebek selalu ceria, tapi lo gitu. Lo selalu kelihatan ceria di mana pun. Senyum lo, secerah warna kuning."


Echa mengangguk-angguk, dia tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. "Jadi itu Bebek Kuning di mata lo?"


"Iya, Bebek Kuning yang mewakili hidup lo," jelas Givan. "Dan faktanya adalah, itu semua yang gue mau. Kehidupan lo, semua yang ada di hidup lo adalah semua hal yang gak gue miliki."


Apa yang terucap dari mulut Givan, bagaimana Givan mengatakannya, membuat Echa merasa terenyuh dan membuat Echa ingin---


"Echa," panggil Givan. "Apa lo mau, izinin gue ada di deket lo?"


Echa menggigit bibir bawahnya.


"Supaya gue bisa sedikit merasa hidup sebagai Bebek Kuning?"


Echa terdiam, menelan salivanya. "Boleh gak sih, gue turunin Oca Kucing dulu?" tanya Echa.


"Kenapa?" Givan mengangkat sebelah alisnya.


"Karena sejak tadi, sejak lo ngomong tentang filosofi Bebek Kuning, gue jadi pengen meluk lo. Tapi," Echa menunjuk Oca. "Ini gimana? Gak boleh di kebawahin, karena gak boleh kotor, kan?"


Givan mengangguk sambil terkekeh, ekspresi Echa saat ini sangat lucu. Terlebih saat Echa kembali berkata dengan memelasnya, "Gimana ini Ocanya? Gue mau meluk lo."


***


Sebelum berangkat sekolah pagi ini, Echa melihat cermin rias yang ada di kamarnya. Dia tersenyum, lalu memanggil bayangan dirinya dalam cermin, "Bebek kuning?" Dan tersenyum lagi. "Aw."


Echa salah tingkah sendiri dengan apa yang ada di dalam kepalanya, tentang penjelasan Bebek Kuning itu dari Givan.


Jadi itu bukan ejekan, tapi -bisa di sebut- panggilan kesayangan?


"Gemoy cekuli," kata Echa sambil berjingkrak sendiri saat membawa tasnya untuk keluar dari kamar.


Tidak seperti biasanya dia suka misuh-misuh tiap melihat Givan sarapan di rumahnya, kali ini Echa merasa baik-baik saja dengan itu. Senang malah.


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung... ...


__ADS_2