Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Amplop Jackpot


__ADS_3

Echa memukul perut Givan lagi. "Emang gue koin gope?"


Karena Echa tidak kunjung melangkah, Givan menyeretnya lagi. Sampai gadis itu menggerakkan kakinya berjalan dengan benar.


Echa berpindah ke belakang tubuh Givan saat mereka memasuki lapangan. Dia memejamkan mata dan hanya mempercayakan langkahnya pada Givan yang dua sisi kemeja putihnya Echa genggam erat.


Sampai Givan menghentikan langkahnya saat sampai di tengah lapang, di dekat kuntilanak itu.


"Saya Givan dan Echa dari kelas sosial satu," kata Givan memberi laporan yang di balas dengan suara tawa khas kuntilanak yang langsung membuat Echa menutup telinganya.


Di dekat kuntilanak itu, ada sebuah meja dengan satu lilin dan tiga amplop yang berjajar.


"Pilih satu?" tanya Givan sambil melihat kuntilanak itu.


Dan suara tawanya terdengar lagi. Artinya, ya?


Givan mengambil satu dan membukanya sementara kuntilanak itu kembali berjalan memutari lapangan basket.


Echa buru-buru ke samping Givan.


"Kita harus ngapain? Cepet-cepet buka amplopnya sebelum dia ke sini lagi."


"Sabar Oca."


"Gak bisa sabar. Gue gak tahan denger suaranya."


Sudut bibir Givan tertarik, "Ngerasain, kan? Gak tahan karena denger suara?"


Echa mencebik, dia melongokkan kepala melihat tulisan di kertas yang Givan pegang.


Echa membacanya.


"Ada misi yang harus di kerjakan sebelum mendapatkan kunci. Salah satu dari kalian harus mencetak sebanyak-banyaknya poin dengan memasukkan bola basket ke ring dengan posisi membelakangi, sementara---"


Baru sampai sana, Givan menutup kertas, dan melihat Echa. "Lo bisa masukin bola ke ring sambil belakangin?"


Echa menggeleng. "Jangankan sambil di belakangin. Gak bisa sambil menghadap depan juga."


"Kalau gitu lo harus kerjain misi satunya."


"Apa?"


Givan membuka kertas yang di pegangnya lagi. "Pijitin bahu kuntilanak sambil nyanyi lagu Indonesia Raya."


WHAT?!


Echa benar-benar melihatnya untuk memastikan.


Dan benar, apa yang di katakan Givan dan apa yang tertara di sana benar-benar sama. Dan di tambah sebuah keterangan yang terasa seperti ancaman.

__ADS_1


"Jika tidak berhasil mencetak satu pun poin, kalian harus mengambil amplop ke dua dan kembali mengerjakannya."


Echa berdecih.


"Mau lo coba dulu masukin bolanya?" tanya Givan yang tahu kalau Echa takut mengambil bagian ke dua.


"Terus kalau gagal kita coba amplop ke dua?"


"Gue gak masalah," kata Givan.


"Gue masalahnya mau cepet selesai." Echa mengatakannya dengan frustrasi. "Jadi pastiin lo masukin bolanya dan jangan bikin kita harus ambil amplop ke dua."


Givan mengangguk. "Sana selamat mijitin dan nyanyi."


Ah iya, Echa harus nyanyi juga.


Sementara Givan pergi ke sisi lain lapangan untuk mengambil bola, Echa pergi mendekati kuntilanak itu dengan enggan. Dia tidak pernah membayangkan akan melakukan hal konyol ini.


Suara bola memantul terdengar saat Echa sudah berjarak satu meter dari kuntilanak yang masih berjalan-jalan itu. Mata Echa setengah terpejam setengah terbuka. Dia maju satu langkah lagi dan mengulurkan tangan untuk menggapai bahunya, tapi karena kuntilanak itu masih berjalan, tangannya tidak menggapai apa-apa.


"Ini mau di pijit gak sih?" Echa mulai kesal.


Tidak ada jawaban dan hanya ada suara tawa yang membuat Echa menutup telinganya, sekali lagi.


Jadi maksudnya apa sih? Echa harus memijitnya sambil mengikuti dia berjalan-jalan?


Memaksakan dirinya, Echa berjalan mengikuti sosok kuntilanak ini untuk memijat bahunya, sambil bernyanyi.


"Indonesia~ tanah airku~ tanah tumpah darahku~."


Kakinya terus melangkah, tangannya bekerja, sementara matanya melirik Givan yang mulai melempar bolanya menghadap belakang, percobaan pertama gagal. Givan mengambil bolanya dan mulai mencoba kembali.


Lihat saja sampai Givan tidak mendapatkan satu poin pu.


Sambil Echa terus berjalan-jalan dan memijit, serta bernyanyi jangan lupa. Givan terus mencoba, sampai akhirnya mendapatkan satu poin setelah Echa memasuki bait ke dua dari lagu Indonesia Raya yang di nyanyikannya.


Selanjutnya sampai Echa selesai dengan misinya sendiri, Givan mendapatkan total empat poin.


Eh, lumayan tidak sih? Mengingat tantangannya harus menghadap belakang.


Echa buru-buru menarik tangannya dan berlari ke arah Givan.


"Mana kuncinya?" tanya Givan pada Echa yang sudah berdiri di belakangnya dan memegang ke dua sisi kemejanya. "Belum di ambil?"


"Lo yang ambil."


Givan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melepas satu per satu kancing seragam untuk membukanya. Kemudian membebaskan tubuhnya dan berbalik menghadap Echa yang masih memegang dua sisi kemejanya yang sudah tidak di pakai.


"Lo tau kan itu manusia?" tanya Givan.

__ADS_1


Echa mengangguk. "Tetap aja, cepe!"


Givan pergi akhirnya dan kembali dengan kunci yang harus di serahkan pada Echa.


Setelah keluar dari lapang basket mereka mengikuti lilin-lilin kecil, melewati beberapa jumpscare di koridor, ampai akhirnya tiba di depan pintu lapang indoor.


Tidak hanya ada lilin, tapi juga ada sebuah panah yang mengarah ke pintu. Artinya, masuk?


Tangan Givan terulur untuk membuka pintu, tapi Echa menahannya. "Gimana kalau ada jumpscare lagi?" tanya Echa.


"Gak gimana-gimana, paling lo teriak lagi," balas Givan dengan malas. Namun, kali ini Givan tidak tinggal diam dan pasrah menerima teriakan Echa.


Kali ini, Givan melakukan usaha untuk melindungi telinganya. Satu tangannya berfungsi membungkam mulut Echa sementara satu lagi menekan knop pintu, mendorongnya sampai terbuka. Hingga ketika sesuatu yang putih jatuh ke depan mereka, teriakan Echa tertahan dan telinga Givan kali ini selamat.


Mereka melewati pintu, masuk ke lapang indoor dan menuruni tangga hingga tiba di bawah, di tengah lapangan dekat sebuah meja dengan lilin yang di jaga sesosok drakula dengan pita kuning di lehernya.


Lucu sekali.


Kali ini, Echa tidak begitu takut malah tertawa saat melihat drakula itu kesulitan karena taringnya.


"Seuyamat dayang."


"Pffft, dayang gak tuh?" ledek Echa.


Karena merasa tidak nyaman, akhirnya taringnya di buka. "Nyusahin ya?" katanya. "Siapa dari kelas mana?" tanya drakula itu.


"Givan dan Echa dari kelas Sesat," kata Echa. "Sebelas sosial satu. Ini Kak Hendry kelas IPA, kan?"


"Kok tau?" tanya Hendry yang identitasnya baru di bongkar.


"Tau lah. Ganteng nya masih kelihatan," jawab Echa sambil mengerling, melihat itu Givan mengusap wajah Echa dari atas sampai bawah.


"Kelilipan karbon?" tanya Givan dengan sinis.


Sementara itu, Hendry senyum-senyum sendiri saat mendengar itu. "Karena di puji, keluarin amplop jackpot deh."


Dan amplop hitam di tunjukkan pada Givan dan Echa yang masih tidak tahu apa untung nya mendapat amplop itu.


"Gak seneng?" tanya Hendry.


"Senengnya apa kalau dapet amplop jackpot?"


.


.


.


...BERSAMBUNG .... ...

__ADS_1


__ADS_2