
Echa menyeruput minumannya lewat sedotan kemudian berkata. "Gimana Givan aja."
"Oke, nanti gue tanya ke Givan langsung. Kalau acc, berarti fixnya gue, kan?
"Iya---"
"Enggak."
Mereka menoleh ke arah sahutan barusan terdengar, ada Givan yang berjalan mendekat memakai kaos futsal dengan seragam putih yang tersampir di bahunya. Wajah dan leher Givan terlihat penuh dengan keringat.
Givan mewakili kelasnya menjadi salah satu anggota Tim Futsal SESAT, yang kelihatannya kegiatan itu baru saja selesai. Tidak ada capenya ya laki-laki itu, padahal semalem sudah bergadang untuk menyelesaikan mural.
"Enggak apa maksudnya?" tanya Yuyun setelah Givan berdiri di dekat mereka.
"Gak, acc. Lo gak akan gantiin Echa," jelas Givan tanpa ragu. Dia melihat Echa sekilas saat mengatakan namanya dengan mantap.
Yuyun menatapnya tak percaya. "Kaki dia, lututnya, dia habis jatuh, kan? Upacara pembukaan aja gak ikutan, apa lagi nanti mau---"
"Gue udah sembuh kok." Echa menginterupsi. "Mau nendang lo juga bisa, kalau misal lo gak percaya."
Yuyun mendesis kecil mendengar itu.
Sementara Givan tersenyum, dia suka Echa yang seperti ini, suka tatapan Echa sekarang pada Yuyun yang penuh peringatan kalau tidak ada yang bisa Yuyun ambil darinya, apa pun, kesempatan itu terutama.
"Kalau ada sesuatu yang terjadi---"
"Kalau ada yang terjadi sama Echa selama di G Hunters?" tanya Givan yang lagi-lagi berhasil membuat perkataan Yuyun terinterupsi. "Gue yang tanggung jawab, kalau Echa gak bisa lari, gue bisa tanggung jawab. Gue yang bakal gendong dia, kalau perlu."
"Woaahh!" Alkana dan Zia tidak bisa menahan decak kagumnya. "Gedong dong, gendong!" Alkana dengan senyumnya yang penuh arti menepuk-nepuk sisi lengan Zia saat mengatakan itu.
Echa senang sih, melihat itu. Melihat Givan yang berhasil membuat Yuyun kesal. Tapi juga bertanya-tanya, kenapa Givan tiba-tiba begini? Tiba-tiba terlihat seperti membelanya di depan Yuyun seperti ini?
Yuyun yang kesal, akhirnya menyerah. Dia pergi setelah menghentakkan kaki sekali tanpa mengatakan apa-apa. Dan setelah kepergian Yuyun, baru Givan duduk di yang kursi panjang di samping Echa, mengambil minuman milik Echa dari depannya dan menyeruputnya sambil melihat Echa dari samping.
"Gendong-gendong ya. So sweet sekali Givan, ada apa ini? Coba sini-sini lihat. Jidat lo kebentur gawang tidak sih?" tanya Echa sambil memerhatikan wajah Givan dari dekat.
Givan meraih tangan Echa di meja, dan menempelkan tangan gadis itu ke dahinya. "Gak ada apa-apa kan?" katanya.
Iya sih benar, tidak ada apa-apa. Tapi gara-gara itu, jantungnya jadi jedag-jedug tidak jelas lagi.
***
Atas perubahan sikap Givan yang mendadak, mendadak terlihat yakin dan tidak bingung lagi, Givan hanya menjelaskannya dalam tiga suku kata, "Gue akan coba." Itu saja yang Givan katakan dan berhasil membuat Echa over thinking seharian.
Akan coba apa maksudnya, Givan? Tester sosis?
__ADS_1
Atau akan coba membuka hati sekaligus bersikap baik pada Echa?
Jangan berpikir terlalu jauh dulu, Echa ya. Nanti kecewa.
Pukul delapan malam tepat.
Givan dan Echa baru mendapatkan gilirannya untuk G Hunters itu. Acaranya di adakan paling akhir di banding acara lain karena menggunakan seluruh penjuru sekolah untuk area permainannya. Dan sekarang mereka sedang berjalan membelah koridor yang gelap untuk menuju ke pos satu di dekat perpustakaan, kenapa ujung sekali ya?
Katanya, menurut anak-anak yang sudah melakukannya, perjalanan menuju ke pos satu belum ada apa-apa. Baru nanti setelah mendapatkan amplop, teror nya di mulai.
"Udah gak apa-apa?" Givan kembali mengkhawatirkan lutut Echa.
"Takut banget gedong gue, ya?" tanya Echa dengan tatap sinis, Echa masih belum memaafkan Givan kalau yang membuatnya jatuh itu ya Givan, karena laki-laki itu melepaskannya.
"Gue gak takut gendong lo." Givan menyangkal. "Gue takut lo jatuh."
"Halah, udah, udah kali. Udah jatuh guenya, lo mau coba gak sih jatuh kayak gue tadi? Ambruk dengan kaya Superman."
"Oca, dendam banget, ya?"
"Iya, den-dam bang-et."
"Maaf," kata Givan dengan penuh sesal.
Echa hanya mengangguk kecil.
Di coba sekarang tidak sih?
Echa sedikit memperlambat langkahnya, membiarkan Givan yang maju duluan. Di jarak yang tepat, Echa memulainya.
Ini paling sederhana, tapi, tidak ada salahnya di coba.
"Givan," panggil Echa membuat Givan berhenti dan menoleh.
Dan Echa memulainya.
Dia maju selangkah membuat jarak yang lebih dekat, kemudian melakukan kontak mata dengan Givan yang tampak melihatnya dalam kebingungan.
"Kenapa?"
Ini. Echa sedang melakukan kontak mata, Givan tidak menyadarinya? Tidak melihat sisi menarik dari matanya?
"Oca, kenapa melotot?" tanya Givan dengan senyum yang aneh.
Kok melotot sih?
__ADS_1
Echa belum menyerah, dia tidak melepaskan tatap dari Givan. Malah hatinya dengan percaya diri bertanya-tanya, apa Givan sudah mendapatkan getarannya?
Sudah belum sih?
Dan di saat yang sama, Echa melihat Givan mengambil satu langkah maju. "Echa?" panggilnya, satu tangannya terangkat mengusap pelan pipi Echa lalu ....
"Fyuuh." Givan meniup tepat di antara kedua mata Echa membuat gadis itu langsung berkedip sekali, dan mengucek matanya yang berair. "Gak kesurupan, kan?"
Kok jadi kesurupan?
"Lo melototin gue," kata Givan membuat Echa berdecak.
Echa sedang melakukan kontak mata, bukan melotot! Itu tidak bisa di bedakan? Atau cara Echa yang salah?
Setelah mengucek matanya, Echa kembali melihat Givan. Lalu menyadari satu hal, apa karena sekarang gelap? Jadi Givan tidak bisa melihat tatapan matanya.
"Oca?"
"Apa? Apa?" tanya Echa dengan kesal.
"Jangan gak kedit, itu nakutin," kata Givan dengan jujur membuat Echa meringis. Jadi tadi tuh, menakutkan? Bukan berhasil membuat getaran-getaran?
Tips apa sih yang di berikan Alkana padanya itu?
"Ayo ah," kata Echa sambil menyeret langkahnya untuk pergi, agar ini cepat selesai.
Echa berjalan duluan sekarang sementara Givan di belakangnya. Lalu, Givan berlari kecil, menyusul Echa, berdiri di samping Echa dan meraih tangan untuk menggamitnya.
Dan tiba-tiba saja ada yang melintas dengan cepat di antara mereka, sesuatu yang terlihat samar dan hanya setinggi setengah dari tubuh mereka, serta meninggalkan kesan hawa dingin.
Echa mematung seketika. Langkahnya berhenti, begitu juga dengan Givan.
"Givan." Echa memaksakan bibir kakunya berkata. "Tadi apa?" tanya Echa sambil melihat Givan di sampingnya.
"Ada yang lewat, ya?" Givan bertanya kembali. "Sambutan kali."
"Lo!" Sekarang Echa benar-benar melotot. "Jangan ngomong macem-macem."
"Yang barusan itu, kayak mustahil panitia yang bikin. Gak keliatan banget, halus, makhluk halus kali ya?"
.
.
.
__ADS_1
...BERSAMBUNG .... ...