Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Sales Chunky Bar


__ADS_3

Apa tidak terlalu sesak? Saat Echa sudah mengungkapkan rasa sukanya pada Givan.


"Tapi ...lo tau?" tanya Givan.


"Berkat lo gue merasa kalau keputusan itu mungkin ...berubah, mungkin. Setelah nanti gue punya sedikit value, yang bikin gue merasa kalau gue cukup berharga untuk bisa di miliki sama lo," kata Givan terakhir yang berhasil membuat Echa merasa memiliki banyak harapan.


***


Setelah membuka pintu kamarnya, Echa berjalan dengan gontai untuk masuk. Tanpa menutup kembali pintunya, Echa duduk di sisi tempat tidur dan termenung.


Dia baru merasa lelah setelah sampai di rumah, ternyata berjalan-jalan di hutan pinus itu cukup lumayan juga, ya?


Echa menyambungkan ponselnya ke pengisi daya kemudian membuka pesan yang di kirim Givan, foto yang tadi Givan ambil bersamanya.


Echa mengembangkan senyum saat melihat mereka berdua di foto itu.


"Gue mau marah tadi tuh, mau kesel, sampe pengen nyabutin rumput tapi gak bisa," kata Echa masih sambil memandangi foto mereka berdua. "Gue harus ngerti lo, posisi lo, masalah lo sama diri lo sendiri."


Sekarang ibu jari Echa mengusap pelan bagian wajah Givan yang tampak di layar ponselnya.


Saat sedang asik memandangi itu, Echa di buat terkesiap dengan suara ketukan di pintu. Dia mengangkat wajah dan cukup terkejut saat melihat Bunda berdiri di sana, tersenyum dengan lebar ke arahnya.


"Cieee yang habis jalan," goda Bundanya sebelum masuk dan duduk di sampingnya.


Echa memaksakan senyum dan menyimpan ponselnya. Kemudian, memeluk Bundanya dari samping.


"Bunda," kata Echa di sana. "Aku suka sama Givan."


Sedikit terkejut mendengar pernyataan tiba-tiba itu, lalu Bunda tersenyum lebar mendengar itu. "Akhirnya, waras juga kamu, ya?"


Echa tersenyum tipis dan tidak berkata apa-apa.


"Udah pacaran?" tanya Bunda, dan di balas gelengan lemah oleh Echa.


"Gak akan pacaran," jelas Echa.


"Lah kok?" Bunda terkejut. "Bunda kira kamu tuh udah pacaran sama Givan. Mangkanya jalan."


Dan Echa juga mengira kalau mereka akan berpacaran hari ini, tapi ternyata tidak.


"Givannya, gak suka sama kamu, ya?"


Ah, mendapat pertanyaan iti Echa jadi semakin merasa ...tidak tahu. Givan belum mengatakan apa-apa yang jelas tentang itu. Tapi, mungkin bisa jadi? Bisa di katakan tujuh puluh persen Givan menyukainya?


"Bunda," panggil Echa. "Bunda tau gak kalau Givan itu ...anak dari wanita yang bukan istri sah Papanya?" Echa mengatakannya dengan setengah berbisik. "Bunda tahu?"

__ADS_1


Bunda tampak berpikir sebelum akhirnya bertanya, "Kenapa?"


"Givan kayaknya kesulitan terima itu," kata Echa dengan sedih. "Kayaknya Givan insecure sama hidupnya. Padahal Bunda, dia gak harus merasa kayak gitu, iya kan? Hidup Givan ya hidup Givan, terlepas dari orang tua seperti apa, Givan bisa punya hidup yang baik untuk me depannya."


Bunda mengangguk, merasa bangga mendengar Echa bisa berkata sebijak itu.


"Kapan Givan tahu itu?" tanya Bunda.


"Katanya, di ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun," kata Echa. "Itu sebabnya Givan pindah ke sini, dia ninggalin keluarganya di sana karena, ya itu."


Bunda mengangguk. "Udah Bunda duga." Kemudian, Bunda merangkul Echa dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. "Kalau Givan merasa insecure karena itu, kamu bisa bantu Givan untuk dapat kepercayaan dirinya. Kamu bisa kasih tahu pelan-pelan, lakuin sesuatu yang bikin Givan merasa berharga untuk di sukai, untuk di sayangi, untuk di miliki," kata Bunda.


Apa itu wejangan?


Caranya?


Bunda tak menjelaskan pada Echa di minta untuk memikirkannya sendiri.


Dari sore sampai malam, Echa berdiam diri di kamarnya untuk memikirkan itu, apa yang akan membuat Givan merasa berharga? Perlakuan baik apa yang bisa dengan jelas menunjukkan itu dan bisa Echa lakukan.


Kemudian, Echa teringat dengan foto mereka.


Echa melihatnya lama, lalu memutuskan untuk memposting itu ke instagramnya dengan wajah Givan yang di crop setengah.


Setelah mempostingnya, dia melihat hasilnya.


Ini, benarkan? Dengan itu, Echa secara tidak langsung menyatakan kalau Givan 'berharga', ingin Echa miliki sampai membuat Echa tidak ingin membagi-baginya.


Dan Echa benar-benar berharap Givan mengerti kode alam ini.


Namun, pesan pribadi dari Zia membuat Echa mempertanyakan kebenaran tindakannya ini.


Begini isi pesan Zia:


[Itu Givan atai Sales Chunky Bar sih, sampe bikin lo gak rela bagi-bagi?]


***


Setelah Echa yakin kalau dia wangi dan cantik hari ini, Echa keluar dari rumahnya lalu menyeberang ke rumah Givan, menghampiri Givan yang sedang memanaskan mesin motornya di carport.


"Givan, boleh gue ikut ke sekolah di motor lo?" tanya Echa setelah berdiri di depannya.


Givan menyambutnya dengan senyum, dia melihat Echa yang menata rambutnya hari ini, poninya yang mulai panjang di kepang di atas kepala melintang dari sisi kanan ke sisi kiri, seperti sebuah bando cantik.


" Kenapa motor lo emangnya, gak bisa starter lagi?" tanya Givan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, sehat dia." Echa menjawab dengan ringan. "Gue cuma mau berangkat sama lo aja."


Givan kembali tersenyum mendengar kejujuran yang manis itu.


"Oke," katanya.


Echa naik ke motor Givan setelah laki-laki itu naik. Setelah itu saat motornya mulai melaju, Echa mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, kepalanya sekarang berada di atas bahu Givan.


"Boleh gak?" tanya Echa setengah berteriak.


"Boleh apa?"


"Gue meluk lo?" Setelah mengatakannya Echa menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan senyum.


Begitu juga Givan yang mendengar itu. Dia juga tersenyum.


Givan tidak menjawab, tapi tangan kirinya bergerak ke belakang meraih tangan Echa dan menariknya ke depan untuk di lingkarkan di perutnya sendiri.


Dan Echa, tanpa menunggu Givan menarik tangan kanannya, dia sudah melingkarkan tangan kanannya di perut Givan.


"Oca," panggilnya.


Ah sekarang Echa merasa ada yang menggaruk-garuk lambungnya saat mendengar Givan memanggilnya dengan panggilan kesayangan itu.


"Iya, apa Vanvan?"


"Vanvan?" Givan mengulangnya dan merasa geli sendiri setelah itu.


"Iya, Vanvan," kata Echa dengan sambil tersenyum. "Kenapa? Kenapa?"


Givan nyaris lupa dengan apa yang akan di katakannya. "Gimana kalau ketahuan Angga?" tanya Givan. "Dia kan kayak CCTV, gak terlihat tapi mengamati. Terus bisa mendadak bunyi juga."


"Gak apa-apa," jawab Echa dengan ringan. "Justru pengen ke ciduk."


Lah, kok? Sejak kapan Echa ingin memberi asupan pada Angga?


"Kita gak pacaran, kan?" tanya Echa dia sedikit sesak mengingat perkataan Givan yang bilang mereka hanya akan berteman. "Ya gak apa-apa kalau enggak juga. Tapi gue mau bikin branding di depan yang lain---" terutama Yuyun. "Apa pun yang bikin mereka berpikir kalau kita ...in relationship, supaya gak ada yang deketin lo. Kalau Angga tahu, lumayan kan dia bisa jadi promotornya, bantu branding yang gue bentuk."


.


.


.


...BERSAMBUNG .... ...

__ADS_1


__ADS_2