
Apa hanya perasaan nya? Echa merasa dunia nya sekarang menjadi sempit, atau mungkin volume dunia memang tetap sama. Hanya saja, mata dan otak Echa sudah di sesaki oleh bayang kan Givan, jadi dari sudut pandang Echa, dunia ini penuh dengan Givan?
"Enggak." Echa menggeleng. "Gue masuh belum jatuh sewajarnya kok."
"Cha," panggil seseorang dari bawah saat Echa sedang melangkah di tangga. Echa berhenti dan melihat ke bawah, dia melihat Zia berlari di tangga untuk mendekatinya. "Gue lihat motor lo udah ada aja, eh tau nya jam segini emang lo beneran udah keluyuran di sekolah."
Echa mengangguk.
"Bawa motor sendiri? Gak bareng Givan?"
Tuh, kan. Givan di singgung lagi.
Echa menggeleng sambil menerus kan langkah nya.
"Takut di tinggalin lagi, ya?"
"Gak di tinggalin kemarin tuh." Echa berdecak. "Cuma gue harus menuhin apa yang udah gue janjiin aja sama Kak Kaivan."
"Halah, sok janji," cibir Zia. "Oleng-olengan gak tuh hati lo?"
Echa menggeleng. "Enggak lah, soalnya Givan tuh ...kuat banget."
Zia menutup mulut nya dengan tangan mendengar itu. "Anjir Cha, kuat-kuat. Lo bilang gitu di depan Angga habis lo." Lalu tangan nya yang menutup mulut itu, menampar punggung Echa dengan keras.
Echa meringis.
"Apa yang salah emang nya sih? Otak lo sapuin tuh, ngeres banget." Echa menggosok-gosok ubun-ubun Zia dengan kasar. "Gini loh, maksud gue tuh Givan kuat banget damage nya."
Zia terkekeh. "Iya, iya." Zia menyetujui. "Bikin ambyar sama hati lo apa?"
"Mencar-mencar."
Zia tertawa.
Mereka sampai di kelas, dan duduk di kursi masing-masing. Zia masih mengisi kursi dekat tembok, sementara Echa masih di kursi nya yang memiliki view Givan setiap hari.
"Btw, beneran martabak itu?" tanya Zia.
Ah iya, semalam, karena Echa berhasil di buat sedikit kehilangan kewarasan nya oleh apa yang di lakukan Givan itu, Echa tidak sadar menelepon Zia untuk mengeluar kan semua yang ada di kepala nya pada Zia.
Echa benar-benar tidak bisa menyimpan apa pun, terlebih kalau itu sudah di terasa terlalu memenuhi kepala nya. Dan akhirnya ya begitu, dia mencerita kan semua nya pada Zia, semalam.
"Seharusnya kalian pacaran gak sih?" tanya Zia dengan mata memincing. "Atau harusnya tuh lo nagih kepastian gitu. Karena kayaknya Givan tuh suka juga sama lo."
__ADS_1
"Bisa gak stop aja dulu, gitu, ngomonginnya? Gue sengaja berangkat pagi-pagi supaya gak deket Givan, malah lo ngajak menggibahin tuh anak."
Zia menghela napas.
Saat melihat Zia akan mengatakan sesuatu lagi, Echa mencubit mulutnya, menahannya tetap rapat. "Silent, please." Lalu, Echa menunjukkan rotinya pada Zia. "Mau sarapan dulu ya, karena menaruh harapan itu butuh banyak kekuatan."
Zia memutar bola matanya setelah menjauhkan tangan Echa dari mulut.
"Worry gue tuh ngeliat lo kalau udah bucin, suka almost kayak kepelet," kata Zia dengan jujur. "Padahal siapa juga yang mau melet lo."
JLEB!
Tidak salah kan kalau Echa merasa dia baru saja di ledek?
"Diem ya, gue bener-bener mau sarapan nih. Dari pada gue muntahin lo."
Akhirnya, Echa mendapatkan waktu tenangnya untuk menghabiskan roti cokelat itu saat Zia yang di sampingnya sibuk melihat series anime.
Meskipun Echa banyak mendengar istilah aneh yang asing, Echa merasa kalau itu jauh lebih baik dari pada mendengar Zia terus berceloteh tentang Givan.
Namun, waktu tenang itu tak berlangsung lama.
Sekarang gradag-grudug di koridor terdengar, Echa merasa tidak asing dengan langkah rusuh itu. Dia meremas plastik pembungkus rotinya yang tadinya akan di buang, menumpukkan tangannya di atas meja, kemudian menidurkan kepalanya di sana.
Zia menggeleng. "Gak mau, bilang aja sendiri."
Zia itu, memang ...tidak bisa di andalkan di saat-saat genting.
Dan Echa tau, itu adalah saatnya dia harus menolong dirinya sendiri. Echa memejamkan matanya kuat dengan kepala miring.
"Cha, Cha." Tubuhnya di guncang, dan suara Angga yang terdengar manja. "Cha, ceritain dong. Semalem siapa yang beliin Givan martabak, terus apa maksudnya 'Thanks for the kiss' itu? Kasih tau Angga, ayo kasih tau."
Echa benar-benar bahkan hanya dengan mendengar suaranya. "Cha, ayo Cha."
Angga Dharmawangsa, di waktu-waktu seperti ini Echa benar-benar memohon agar makhluk bisa hidup dalam ke-nolep-an.
Semakin diam, tubuh Echa semakin di guncang hebat. "Cha, yuk bisa Cha." Dan Angga semakin mengganggunya. "Dari lo ya? Dari lo martabaknya? Ciee ...tuwiw-tuwiw." Angga menusuk-nusuk pipi Echa dengan telunjuk dua jari.
Zia yang sudah melihat bertapa terganggunya Echa itu sudah tertawa ngakak. "Tuwiw-tuwiw?"
Lalu, entah karena apa Echa tidak tahu awalnya, Echa merasakan Si Pengganggu itu menjauh.
Dan terdengar suara yang membuat Echa membuka mata.
__ADS_1
"Jangan ganggu dia." Givan, suara Givan! Givan yang menyelamatkannya dari Angga.
"Siapa nih, siapa nih yang jangan di ganggu?"
Itu suara Angga yang terdengar lagi, menggoda Givan.
"Oca gue, jangan di ganggu," kata Givan.
Dan di pastikan, Angga tidak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi. Dia mengacungkan dua telunjuknya, menusuknya dan memutar-mutar dua telunjuknya di dada Givan, sambil berkata, "Iya, jadi gue ganggu lo aja ya. Tuwiw-tuwiw."
Echa yang sudah mengangkat kepalanya bergidik jijik melihat Givan yang hanya tertawa sambil diam saja -maksudnya tidak berusaha menjauh- saat telunjuk Angga bermain-main di dadanya.
Sampai Zia berbisik di telinganya. "Lo masih suka sama Givan, bahkan ketika lo ngeliat sendiri Givan ngebiarin dirinya di nistakan kayak gitu, Cha?"
Masih suka tidak Echa?
Di tanya tuh.
Dan Echa mengangguk dengan bibir manyun sambil melihat Givan yang masih tertawa-tawa dengan Angga.
Dia tidak bisa menerima Angga menistakan Givannya.
"Suka," kata Echa sambil berdiri. Dia menarik bahu Angga mundur sampai tangannya lepas dari Givan. "Jangan di touching-touching."
"Siapanya?" tanya Angga.
Echa melihat Givan, sambil menjawab, "Givan gue," katanya dan membuat Givan tersenyum.
Givan membenarkan tas yang tergantung di satu bahunya, lalu maju mendekati Angga dan ...tau apa yang di lakukan Givan? Tindakan yang benar-benar membuat Echa merasa nyes. Givan mengusap-usap kepala Angga di depan Echa.
"Jadi gue aja yang touching-touching lo, ya?" katanya pada Angga yang langsung kesenangan tersenyum lebar sambil menggerak-gerakkan bahunya naik turun.
"Boleh, boleh."
"Iuh." Echa memasang wajah jijik sambil melihat kedua laki-laki yang malah tertawa-tawa itu.
.
.
.
...BERSAMBUNG ... ...
__ADS_1