Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Konferensi PERS


__ADS_3

Pengumuman ulangan dadakan itu membuat mereka sibuk untuk mengisi waktu nya dengan membaca buku, menghafal kan materi lalu berpikir untuk mengisi soal selam waktu ulangan.


Nah, setelah ulangan berakhir apa lagi yang membuat Echa selamat, dari ... introgasi Zia?


"Hasil nya nanti ibu umum kan di GC kelas ya? Yang merasa akan remedial, siap siap mempelajari kembali materi yang tadi muncul."


Sebelum keluar ke kelas Bu Dewi menghitung dulu lembar hasil ulangan yang di kumpul kan, dan selama itu Echa berpikir. Dan melihat ke jendela tidak ada tanda tanda ke datangan Pak Ridwan yang mengisi jam pelajaran berikut nya.


Jika ada waktu kosong, Zia pasti tidak akan melepas kan nya, ya?


"Oh ya, ada yang mau bantu Ibu ambil buku dari perpustakaan? Pak Ridwan bilan----"


"Saya Bu." Echa segera mengangkat tangan nya tinggi tinggi sampai berdiri. "Saya aja yang ke perpustakaan, ambil buku kan?"


Bu Dewi yang tersenyum, melihat betapa bersemangat nya Echa tanpa tahu kalau Echa memiliki tujuan lain. Tentu saja, Echa menawar kan diri karena ingin menghindari jam kosong yang membuat Zia mengintrogasi nya, tentang Givan.


"Oke, boleh. Tapi jangan sendiri, satu orang lagi. Siapa yang mau? Buku nya lumayan banyak dan berat."


Aduh, sial.


Echa yakin Zia pasti menyadari tujuan dari aksi nya ini. Jadi, begitu Echa melihat Zia akan berdiri, menahan agar tetap duduk di kursi nya.


"Zia boleh---- eh kenapa? Kok di dudukin lagi?" tanya Bu Dewi mengernyit melihat Echa begitu memaksa Zia untuk tetap duduk.


Echa mengusap ngusap kepala Zia dengan kasih sayang yang penuh ke dustaa. "Diem ya Ziziku. Bawa buku itu berat, nanti tangan kamu copot, susah lagi pasang nya. Biar aku aja."


Seketika gelak tawa pecah di kelas SESAT itu.


"Emang nya Ziziku itu barbie pasar malam yang harga nya gocap? Tangan nya bisa di copot copot dong," sahut Angga yang kembali tertawa paling keras, membuka mulut paling lebar memancing ke inginan Echa untuk memasuk kan sepatu nya ke sana.


"Jadi siapa yang mau bantu Echa ambil buku di perpustakaan?" tanya Bu Dewi di tengah kelas yang riuh itu.


Hanya satu orang yang mendengar pertanyaan Bu Dewi, dan baru saja orang itu berdiri lalu berkata, "Saya Bu, yang akan bantu Echa."


Sementara Echa menganga kan mulut nya, kaget melihat Givan berdiri dan baru saja mengaju kan diri, yang lain malah membuat suasana di kelas semakin riuh.


"Eh, Givan dong, Givan ... uhuy!"


"Ciaak ciaak gak tuh?"


"CCTV perpus mati loh."

__ADS_1


"Hati hati Vin, perpustakaan suka sepi."


Bentar.


Serius nih? Dalam situasi itu Givan yang di suruh hati hati karena Echa?


Dasar sialan.


Kalau harus di bahasa kan, bagai mana sih Echa di mata mata anak kelas SESAT? Mentang mentang nama kelas nya SESAT, semuanya jadi percaya pada sesuatu yang tidak benar, salah, keliru, dan sesat dalam definisi yang tepat sesuai dengan KBBI.


Echa merasa di lihat oleh anak anak kelas nya sebagai cewek yang agresif, yang mendekati Givan dengan sat set sat set.


Masih karena foto yang di ambil Angga di lampu merah itu?


Semua melihat Echa sebagai orang yang mendekati Givan padahal sebenar nya, misi Echa itu menghindar dari Givan. Jelas.


Dan kalau harus di sebut kan, seperti nya Givan yang mendekati Echa. Seperti sekarang, laki laki itu menawari bantuan menemani Echa ke perpustakaan untuk membawa buku.


Demi apa pun, bukan Echa yang minta, apa lagi paksa.


Di pintu perpustakaan Bu Dewi menghenti kan langkah membuat Echa dan Givan yang berjalan di belakang nya ikut berhenti juga.


Setelah itu Bu Dewi berbalik melihat mereka.


"Ibu di minta ke aula. Kalian bisa sendiri kan ambil buku nya?"


Givan dan Echa mengangguk, kemudian Echa merasa di tatap penuh arti oleh Bu Dewi, membuat Echa bingung sendiri.


Apa Bu Dewi sedang meragu kan nya? Karena Echa bukan anak perpustakaan garis keras.


"Aku rasa, aku tau tempat nya." kata Echa menjelas kan.


"Bukan itu. Hati hati Givan nya jangan di apa apain," kata Bu Dewi menggoda Echa sambil sedikit tertawa.


Echa mengepal kan tangan nya kuat kuat. Maksud nya 'di apa apain' tuh apa sih?


Setelah Bu Dewi pergi, Echa melangkah masuk duluan ke perpustakaan sambil menggerutu. Tidak teman teman nya tidak Bu Dewi, semua nya menista kan Echa terus.


Kemudian tanpa aba aba Echa berhenti dan berbalik, Givan yang tidak menyangka akan gerakan tiba tiba itu, tidak sempat menahan langkah, akhir nya menabrak tubuh Echa.


Nyaris saja Echa terjengkang ke belakang, jika kedua tangan Givan tidak segera menahan masing masing siku nya.

__ADS_1


"Hati hati," kata Givan sambik membantu Echa berdiri tegak.


"Hati hati apa lagi nih? Lo merasa ternoda karena gue touching touching?" Echa kepalang nyolot.


Givan tersenyum geli melihat itu, ekspresi Echa Echa yang tidak santai. Kemudian dia menggeleng. "Enggak bukan. Hati hati lo jatuh maksud nya, lo mau jatuh kan barusan?"


Ya, benar sih. Gara gara kata 'hati hati' yang banyak di dengar nya hari ini -yang mengonotasi kan Echa sebagai bahaya nya, dia jadi sensitif setiap mendengar kata itu.


"Perlu gelar konferensi PERS gak sih?" tanya Echa dengan raut wajah serius.


"Buat?" Givan balik bertanya sambil melangkah melewati rak rak buku yang tinggi di kanan dan kiri nya. Echa mengikuti nya di belakang.


"Buat klarifikasi membersih kan nama gue," papar Echa tidak ragu ragu.


"Membersih kan?" tanya Givan membuat Echa ingin menarik rambut nya sekarang.


Masih di pertanyaan kan lagi?


Supaya Echa lebih memperjelas nya?


"Bukan kotor lagi, kayak di guyur limbah masyarakat," ketus Echa.


Givan terkekeh pelan.


Melihat itu Echa tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Belum kelar lo kesurupan nya?"


Dan tebak Givan menjawab apa? "Belum," kata laki laki itu membuat Echa sedikit tersenyum. "Lo udah gak galau lagi?" tanya Givan yang sekarang menyejajar kan langkah nya dengan Echa.


"Mana ada waktu buat galau? Gue lagi di nistakan orang orang SESAR."


"Ya berarti bagus."


"Senang ya lo? Liat gue di nistakan?"


.


.


...Bersambung......


AUTHOR UDAH BIKIN GRUP AYOK GABUNG BUAT YANG MAU🤗

__ADS_1


__ADS_2