Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Pembasmi Kutu


__ADS_3

Dan melihat keluar minimarket lewat dinding kaca di sebelah nya, benar hujan ternyata dan ...cukup deras.


Terima kasih Givan untuk perhatian nya, tetapi, "Harus banget emang di GC SESAT? Doyan banget mancing huru hara aja."


Setelah menerima struk dan kembalian dari uang yang di bayar nya untuk membeli ke butuhan nya itu, Echa melangkah keluar dari minimarket.


Di pintu, Echa benar benar terkejut dan nyaris mundur lagi ke dalam saat melihat Givan sudah berdiri di tempat parkir dengan payung kuning.


"Lo gak bawa motor, kan?" tanya Givan yang melangkah mendekat dan menarik Echa menjauh dari pintu kaca, saat Echa akan memberontak Givan menunjuk ke belakang dengan dagu nya. "Ada orang yang mau lewat, lo halangin jalan."


Setelah Echa berdiri di tempat yang lebih aman, Echa melepas kan tangan nya dari Givan.


"Ini hari Minggu, tolong bisa gak gue libur untuk gak liat lo?"


"Dari pagi sampai malem lo gak liat gue," kata Givan "Itu libur nya."


Dan itu memang benar sih. Seharian ini Echa tidak melihat Givan, yang emang harus banget gitu setor wajah ke Givan tiap hari?


"Lo mau balik sekarang?" tanya Givan yang masih memegang payung.


"Gak lah, lo liat galon air di sana?" Echa memujuk tumpukan galon air berwarna biru di dekat dinding. "Mau gue telen dulu semua nya, terus pulang."


Selagi Givan tertawa, Echa berjalan keluar dari minimarket. Givan mengikuti nya segera, sambil berusaha memayungi Echa.


"Kata nya mau nelen galon air dulu, kok malah ngeloyor aja?"


Ya kali serius, aduh Givan tuh! Echa menyikut perut nya.


"Deketan bisa," kata Givan sambil merangkul Echa, merapat kan ke dekat nya. "Payung nya kan kecil."


Kalau Givan tidak mau ke hujanan, kenapa laki laki itu datang juga ke sana? "Siapa yang minta lo jemput gue di minimarket? Kan gak ada?"


"Ada."


"Bunda?" tanya Echa.


"Bukan, diri gue."


"Ck." Sejujur nya di tahap ini, dalam situasi ini, Echa nyaring ingin meleyot. Tapi, tahan. Tahan aja dulu.


"Tadi gue ke rumah lo, cari lo. Tapi lo gak ada," kata Givan. "Ada yang mau gue tanya."


Echa sekarang menatap nya dari samping, Givan yang begitu dekat. "Apa?" tanya Echa. "Yang mau lo tanya."


Dalam kondisi hujan, berjalan berdua di bawah oayung yang sama, dengan posisi saling merapat seperti ini. Apa mungkin--- hei, tidak kan?


"Siap ya?" tanya Givan.


Kenapa Echa harus siap siap?


"Lo bisa jelasin gimana proses hujan terjadi?"


DOENG!

__ADS_1


Pertanyaan itu seperti menghantam telak apa yang baru akan menjadi dugaan Echa.


Wah, jadi Echa di cari hanya untuk menjawab pertanyaan random ini?


"Ayo jawab, pelajaran Geografi. Lo pasti tau."


"Proses terjadi nya hujan?" tanya Echa dengan malas, dan itu langsung di angguki Givan. "Gue pernah baca di buku catatan Geografi nya Angga."


"Oke, apa yang Angga catet?" tanya Givan, menyimak dengan serius.


"Hujan terbuat dari awan yang kebelet pipis."


Awan? Kebelet pipis?


Givan tergelak mendengar itu. "Bukan lah, Oca. Proses hujan itu dari---"


"Iya!" Echa menegas kan. "Hargai dong ke percayaan Angga."


"Yang SESAT?" Givan tertawa lagi.


Echa malas mendengar tawa Givan. Dia mengambil alih payung kuning nya saat Givan lengah. "Ketawa aja terus yang gede sambil liat ke atas sana. Makan tuh, pipis awan banyak banyak!"


Setelah berkata begitu, Echa berlari membawa payung nya meninggal kan Givan terguyur hujan di belakang.


Dan saat itu, karma bekerja instan. Payung kuning yang di bawa oleh Echa terbalik jadi mengadap atas, Echa akhir nya ke hujanan juga.


Givan semakin tergelak melihat itu, meliha Echa yang ke sulitan dengan payung nya yang tidak berupa.


Di tempat parkir pagi ini, Givan sengaja memarkir kan motor nya tepat di samping motor matic merah muda milik Echa -yang sudah kembali normal setelah selesai di servis.


"Pagi Oca Oca," sapa Givan yang baru saja memati kan mesin motor nya.


Echa yang masih memakai helm menjawab dengan senyum paling terpaksa. "Selamat pagi juga, Tuan Muda Givandra," katanya. Sementara tangan gadis itu masih sibuk di bawah dagu, berusaha melepas kan pengait helm. Kemudian Echa bertanya, "Gue punya hutang gak sih sama lo? Ngikutin terus perasaan, tadi di jalan lo di belakang gue banget, hampir gue nyangka lo begal."


"Gak ada Oca." Givan menggeleng. "Gak ada, hutang."


"Iya iya, terus kenapa lo---ah udah lah, lo bilang suka deket gue kan?" Echa teringat dengan apa yang di kata kan Givan di rumah nya, saat dia sakit. "Nempel aja terus hari ini suka suka lo, besok gue pasang tarif tiga ribu per jam."


"Wuih!" Givan tampak antusias dengan senyum penuh arti. "Satu jam nya bisa ngapain aja?"


"Lo pikir?" Echa mengata kan nya dengan nada tinggi. "Napas doang lah," jawabnya. "Sama bebas kedip."


Givan terkekeh geli. Echa dan apa yang apa yang selalu terlontar dari mulut nya selalu bisa membuat suasana hati Givan menjadi baik, sangat baik.


Sementara Givan sudah membuka dan menyimpan helm nya di motor, Echa masih kesusahan melepas kan kaitan helm nya sendiri.


Dan Givan? Bukan nya berinisiatif membantu, setelah turun dari motor nya dan mencabut kunci, dia malah asik melihat Echa.


"Bisa gak lo bantuin gue?" tanya Echa akhir nya, dia seperti nya sudah menyerah dengan kaitan helm nya yang entah kenapa sulit sekali di lepas kan pagi ini.


"For what?"


"Bantuin lepas."

__ADS_1


"Kepala lo?"


"Ya kali kepala gue di lepas, helm nya lah!" Echa tidak tahan untuk tidak nyolot. "Aduh lo itu, minta gue ngegas terus ya? Kutuk aja gue jadi setang motor!"


Masih dengan kedua sudut bibir yang tertarik, Givan berpindah dan berdiri di depan Echa, kemudian melepas kan kaitan helm sekaligus mengangkat helm nya dari kepala gadis itu.


"Gak makasih, gue nya kesel. Nanti aja makasih nya," kata Echa sambil merebut helm nya dari tangan Givan.


Laki laki itu hanya mengangguk.


Sebelum Echa pergi, Givan menahan langkah nya dengan kembali berdiri di depan Echa.


"Semalem lo minum obat flu?"


Semalem karena payung kuning yang di bawa Givan di buat terbalik oleh Echa dan jadi tidak bisa berfungsi lagi sebagaimana mesti nya, mereka jadi berlari lari menembus hujan untuk sampai ke rumah masing masing.


Untuk menjawab pertanyaan Givan, Echa hanya menggeleng kepala. Saat bergeser ke kanan mencari celah untuk menerus kan langkah nya, Givan malah ikut bergeser juga.


"Mau gue beliin obat nya? Lo suka minum obat apa buat flu?"


"Lo gak akan tau," kata Echa, dia kembali bergeser ke pinggir untuk menghindari Givan 'lagi'


Tapi, lagi lagi Givan ikut bergeser.


Echa melihat Givan sekarang. "Ini kita lagi main kepiting kepitingan apa gimana sih? Geser sekali lagi gue capit 'itu' lo ya!" Echa menunjuk ke dada Givan dengan mata nya yang melotot saat mengata kan 'itu'.


Tapi Givan lagi lagi malah tertawa mendengar ancaman serta melihat wajah serius Echa.


Tanpa menanggapi itu, Givan kembali berkata. "Sebutin aja merk obat nya, nanti gua tanya sama orang di apotek."


"Heu." Echa menyisir rambut nya dengan jari, melihat ke sembarang arah, kemudian kembali menatap Givan. "Tau gak, obat apa yang saat ini gue butuh kan lebih dari obat flu?"


"Apa?"


"Obat pembasmi kutu!"


"Serius Oca---"


"Gue juga serius nih. Kutu nya tuh lo." Echa menuding kan tunjuk nya ke Givan. "Kutu Givandra, kupret Galaxy."


"Gue bikin lo gatel gitu?" Givan malah menanggapi nya setengah tertawa.


"Iya, bikin gatel ginjal gue."


Please deh, sepagi ini percakapan mereka sudah ke mana mana.


.


.


.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2