Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Ada CCTV


__ADS_3

Atas apa yang Echa lakukan tadi pada Givan, di tangga itu, harusnya sekarang Echa segera mencari tempat terdalam di bumi, untuk mengubur dirinya sampai Givan menjadi kakek-kakek dan melipakan 'sosorannya' itu.


Bukan malah, mondar mandir di dekat jendela rumahnya mengawasi Givan seperti seorang penguntit.


Ada dua hal yang menjadi penyebab keresahannya.


Pertama adalah sikap Givan tadi, setelah mengatakan tentang Omnivioca yang memakan bibirnya itu, Givan tidak mengatakan apa-apa lagi sampai ... mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing tadi sore.


Apa Givan terkejut, atau ... marah?


Kedua, Echa resah karena melihat di halaman rumah Givan sekarang, motor Givan menyala, sedang di panaskan, yang mungkin mengartikan kalau Givan akan pergi malam ini, dengan -siapa lagi kalau bukan- Yuyun.


Echa tidak munafik, dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau Givan pergi bersama Yuyun.


Jadi, Echa sejak tadi berpikir apa yang bisa di lakukannya untuk menggagalkan itu. Berpura-pura datang untuk bertanya tentang PR? Itu terlalu tidak natural.


Sampai, setelah mengintip sekali lagi ke jendela dan melihat Givan keluar dari rumahnya sambil menenteng helm. Tanpa pikir panjang lagi, Echa berlari ke dapurnya, membawa dua bungkus mie pedas kemudian keluar dari rumahnya, untuk berlari ke rumah Givan sambil meminta maaf kepada harga dirinya yang baru saja hancur di geprek ketidak warasan nya.


"Givan," katanya setelah sampai di depan Givan dengan napas terengah, tidak peduli dengan Givan yang melihatnya dengan menahan senyum dan menatap nya aneh ke one set kaos celana pendek kuning yang di pakainya, dengan gambar telur ceplok di bagian depan.


"Iya, ada apa Oca?" tanya Givan sambil memerhatikan telur ceplok itu "Lucu banget sih?"


Echa merasa pipinya memanas mendengar itu, tersipu sekaligus lega Givan tidak marah.


"Lo lapar?" tanya Givan sambil melihat dua bungkus mie yang di peluk Echa.


Echa mengangguk cepat, lalu, "Kompor lo nyala?"


Givan mengangguk. "Nyala. Kenapa?" tanyanya.


"Kompor gue di rumah gak nyala," kata Echa sambil menunjuk ke rumahnya. Lalu, dia memegang perutnya sendiri. "Gue lapar dan ngidam banget pengen makan mie ini, boleh gue numpang bikin di rumah lo?"


Echa menunjuk dua bungkus mie yang di pegangnya, sambil menebalkan wajah untuk pura-pura tidak peka kalau Givan akan pergi, karena memang tujuannya menahan Givan agar tidak pergi menemui Yuyun.


Givan tampak berpikir, kemudian mengangguk dan membuka kembali pintunya, "Sebelum gue lagi yang di makan," katanya dengan kekehan ringan saat masuk. "Mending gue kasih pinjem kompor, kan?"


Echa meringis.


Echa mengikutinya sampai mereka tiba di dapur.


"Lo pake aja," kata Givan menunjuk kompornya. "Gue tinggal, ini kuncinya."

__ADS_1


Saat Givan menyodorkan kunci ke depannya, Echa menangkap tangan Givan dengan kedua tangan yang masih memegang bungkus mie.


"Jangan pergi," katanya sambil melempar tatapan memohon. Givan malah menatapnya lama-lama dan membuat Echa merasa kedua pipinya panas.


Kemudian Echa melepaskan tangan Givan dan memendarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. "Kalau gue di sini sendiri, terus ada yang hilang gimana?"


Givan menunjuk ke sudut kiri di atas, "Ada CCTV," katanya. "Ada Oca juga."


Echa menghembuskan napasnya, jadi Givan benar-benar ingin bertemu Yuyun?


Dengan kepala yang tertunduk, Echa berkata, "Ya udah gak jadi," katanya.


Saat Echa akan melangkah pergi, Givan menahan bahunya. "Satu jam cukup, gak?" tanya Givan.


Echa menoleh, dan menggeleng. Kalau setelah satu jam Givan akan tetap pergi, Echa merasa percuma.


"Gue gak jadi pinjem kompor lo," kata Echa berusaha mengatakannya dengan tulus. "Pergi aja. Yuyun, kan?"


Baru Echa akan melangkah lagi, Givan berkata, "Gue gak boleh pergi sama Yuyun, ya?" tanyanya. "Kenapa?"


"Gak ada yang larang lo," desis Echa.


"Oh, ya?"


Tanpa menjelaskan, Givan meraih dua bungkus mie yang ada di tangan Echa kemudian menyimpannya di pantry dengan keras dan membuka jaketnya. "Duduk," pinta Givan sambil menunjuk kursi.


Echa akhirnya menurut dan duduk.


Kemudian Givan pergi ke pantry, mengisi panci dengan air, memanaskan nya di kompor, memasukkan mie, sampai mengurus bumbu-bumbunya.


Givan yang akhirnya memasak sementara Echa diam di sana.


Sambil diam dan melihat Givan yang sibuk, Echa memikirkan apa yang sudah di lakukannya tadi.


"Gue minta maaf," kata Echa saat Givan selesai dengan menyodorkan sepiring mie di depannya. "Atas apa yang gue lakuin tadi, bibir lo."


Givan mengangguk sambil menarik kursi di seberang Echa dan duduk.


Apa Givan tidak mempermasalahkan itu?


Ada dua kemungkinan. Menerima atau tidak peduli karena itu tidak berarti apa-apa?

__ADS_1


"Jangan di lihatin terus guenya. Entar gue lagi yang di makan," celetuk Givan membuat Echa menunduk, membuat pandangan nya tertuju ke sepiring mie di depannya.


"Gue kalau makan mie ini, bakal jadi gak waras, mumpung gue masih waras, gue minta maaf dulu yang benar," kata Echa bersikeras. "Karena tadi. Gue benar-benar minta maaf."


Givan mengangguk lagi. "Oke."


"Bisa lo lupain?" Echa mengutuk dirinya sendiri saat mendengarnya mengatakan itu, dia sendiri tidak bisa melupakan aksi beraninya yang unfaedah. Dan dia meminta Givan?


Tetapi, di luar dugaan, "Bisa," kata Givan seraya berdiri, kemudian mendekat ke Echa.


Echa tidak tahu apa yang Givan akan lakukan sampai, laki-laki itu menempelkan dahinya ke puncak kepala Echa kemudian menggesek-gesekkan nya, sambil bilang, "Lupa, lupa, lupa."


Dan ... itu tidak bisa? Berkat itu, Echa merasa sebelum dia memakan mie pedas yang biasanya membuat dia tidak waras, kewarasan nya sudah tercabut duluan akibat apa yang di lakukan Givan.


***


Setelah Echa berlari pulang ke rumahnya dalam keadaan setengah tidak waras karena kepedasan, Givan menutup pintu dengan senyum yang tidak lepas.


Tidak sampai satu jam Echa datang, sekarang Givan merasa perasaannya penuh dengan perasaan bahagia yang luar biasa.


Echa dengan semua tingkahnya yang lucu, bahkan dengan kaos bergambar telur ceplok yang di pakainya, Givan menyukai itu. Dia menyukai Echa sebagai sesuatu yang selalu membuatnya bahagia.


Saat Givan hendak membereskan alat makan bekas Echa, ponsel nya berbunyi, nama Echa menyala-nyala di sana.


Givan mengurungkan niatnya untuk mencuci piring, kemudian duduk dan mengangkat teleponnya.


"Kenapa?" sahut Givan langsung saat panggilan terhubung.


["Givan, lo AAAAAAAAA gak jadi keluar sama Yuyun?!"]


"Enggak," jawab Givan. "Bukan gak jadi, emang gak niat keluar."


["Oh, AAAAAAA."]


"Iya, kenapa?" tanya Givan sambil menahan tawa. "Seneng?"


["Enggak, gak lah. Terus tadi lo, mau AAAAAApa manasin motor?"]


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung......


__ADS_2