Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Mana CPU?


__ADS_3

Lagian, bisa bisa nya Angga dengar apa apa yang di bilang Givan padahal jarak mereka tidak begitu dekat.


"Lo istirahat makan apa sih? Sayur otak kuda?" tanya Echa pada Givan dengan kedua alis tertaut dan wajah serius. "Omongan lo jingkrak jingkrak banget!"


Givan tersenyum sedikit. "Lo sendiri makan apa? Makan hati? Gue liat----"


"Stop!" Echa meletak kan jari telunjuk nya di depan mulut Givan. Menghenti kan nya sebelum Givan membahas tentang Kaivan atau Dita yang mengganggu waktu istirahat nya. "Ngomong lagi, CPU gue cabut dan jejelin ke mulut lo."


Mendengar itu Givan malah terkekeh.


Meski jelas terdengar seperti ancaman serius apa yang di kata kan Echa ini, dia tidak merasa terancam. Tidak sama sekali.


Mungkin bagi Givan, bacotan Echa adalah hiburan bagi nya.


"Gue ngomong lagi nih," Givan malah terang terangan menggoda. "Mana CPU?"


Echa berdecak keras keras.


Ah, sialan. Cowok ini, memang niat ingin membuat Echa terlihat seperti bagong ngamuk.


"Sana ah, balik ke tempat lo!" Echa menepuk nepuk sisi lengan Givan. "Heran deh. Seneng banget sih lo mancing jiwa lambe lambe nya Angga menggelora!" Echa bersunggut sunggut. "Suka banget ya lo di gosipin?"


Pertanyaan itu membuat Givan bertanya pada diri nya sendiri. Iya nih, Givan emang orang yang suka di gosipin? Tidak, rasa nya tidak.


Lalu, sejak kapan dia jadi begini? Padahal dulu yang selalu Givan lakukan di sekolah hanya belajar, dan sudah. Itu saja.


Givan tidak peduli dengan orang lain, tidak peduli dengan apa yang orang lakukan atau alami.


Tapi, sekarang? Lihat, dia sedang berjongkok, mengurusi atau menggoda? -gadis yang menunjuk kan jelas kerisihan nya.


Kenapa Givan melakukan ini?


"Oca."


"Apa sih?" Echa sudah fokus dengan komputer nya, membuka aplikasi dan mulai mengotak atik tools dasar.


"Kayak nya gue mulai aneh, berubah?"


Mendengar itu, Echa memutar bola mata nya. "Iya aneh banget. Baru sadar?" Setelah bertingkah seperti orang kesurupan dalam arti berubah dadakan. Sekarang ngomong nya malah melantur kemana mana, kayak kuda jingkrak jingkrak.


"Kenapa ya?"


Lah, pake nanya lagi. "Ya gak tau." Echa memberi tanggapan yang tidak membantu.


"Apa mungkin---" Perkataan menggantung Givan membuat Echa menoleh "Karena lo?" Givan ragu. "Lo ganggu banget, tapi kenapa gue suka di ganggu sama lo?"

__ADS_1


Apa? Apa ini makin melantur?


"Mau gak gangguin hidup gue?"


Aduh.


Tau tidak? Di situasi itu, alih alih menatap Givan lamat lamat, refleks arah mata bola Echa mengarah ke ... ke mana coba?


Ke Angga dong?


Echa langsung melototi Angga yang sedang menarik napas dan bersiap untuk---


"ANGGA DHARMAWANGSA! LO NGOMONG SEKALI LAGI, GUE INJEK MULUT LO YA!"


***


Echa sakit, jadi dia hari ini tidak masuk sekolah. Givan tahu dari Tante Maya tadi pagi, saat akan berangkat Tante Maya menghampiri nya sambil menitip kan surat izin.


Hanya Echa yang tidak hadir di kelas hari ini, tetapi entah kenapa kelas rasa nya seperti kehilangan beberapa orang di saat yang sama, terasa sepi.


Setiap ada kesempatan mata Givan selalu mencuri lirik ke belakang, ke bangku Echa yang kosong hari ini.


Dan hari tanpa Echa itu berlalu begitu saja.


Itu Zia, teman sebang ku nya Echa.


Givan tidak bertanya, hanya menatap nya.


"Rugi banget ya lo kalau ngomong sama gue? Tanya kek, kenapa?" cetus Zia yang sudah berdiri di depan nya.


"Kenapa?"


"Telat." Zia menghembus kan napas keras lalu memindah kan ke depan tas punggung nya, mengeluar kan beberapa buku. "Echa tuh bodoh, buat dia gak ada bedanya belajar sama enggak. Tapi, minimal ada yang lewat di otak dia kalau dia menulis materi yang kelewat hari ini."


Zia menyerah kan semua buku yang ada di tas nya ke Givan. "Tolong kasihin ini ke Echa, tolong banget. Di simpen di depan pintu nya juga gak papa." kata Zia yang sudah pesimis akan di tolak permintaan bantuan nya. "Nanti gue kasih tau Echa. Soal nya gue gak bisa ke Echa hari ini, kucing gue melahir kan dan Alkana, dia juga ada perlu. Sementara kalau gue fotoin materi nya satu satu dan di kirim di chat, pasti akan langsung dia delete. Jadi mohon banget, anterin buku gue ke Echa, ya? Lo kan rumah nya depan Echa jadi sekalian gitu."


Givan hanya melihat buku itu dan menggeleng. "Berat," kata nya menanggapi perkataan panjang lebar Zia.


"ASTAGA PELIT BANGET SIH LO?!" Zia tidak tahan untuk tidak berteriak lalu berdecak keras keras. "Catat aja kebaikan lo hari ini, nanti gue bales di akhirat."


Givan tersenyum sedikit. "Harus buku lo? Kenapa sama buku gue?"


"Hah?" Zia langsung mengerjap ngerjap.


"Tujuan nya supaya Echa tau apa yang di pelajari hari ini, kan?"

__ADS_1


Dengan wajah cengo, Zia mengangguk. Dia masih mencerna perkataan Givan sebelum nya mengartikan nya satu satu.


"Buku gue aja. Nanti gue ke rumah dia, sekalian ajarin cara jalanin rumus nya."


Zia berhasil di buat kehilangan kata kata oleh perkataan Givan yang tidak terduga.


"O, oke deh, " kata Zia sambil memasukan kembali buku buku nya ke tas. "Lo bisa di percaya, kan?"


Givan mengangguk. "Gue emang bakal ke rumah nya."


"Ngapain?" tanya Zia dengan tatap yang penuh curiga. "Gak lagi berniat PDKT sama Emak nya, kan? Tante Maya masih punya suami."


"Kalau sama Echa nya?" tanya Givan membuat Zia mengernyit. "Dia kan gak punya suami."


***


Di kamar yang terasa pengap karena tirai dan jendela nya tidak di buka seharian, di dalam selimut tebal nya, Echa masih meringkuk dengan jaket dan kaos kaki yang membalut tubuh nya. Dia memeluk boneka boba nya dan memejam kan mata.


Sejak semalam Echa menggigil ke dinginan, sementara kata Bunda suhu tubuh nya panas. Semalam juga Bunda tidur di kamar nya, dan tadi pagi Bunda bilang saat Echa bangun karena harus sarapan dan minum obat, kata nya semalam Echa banyak merancau.


Echa masih bermalas malasan bergelung di dalam selimut nya saat dia mendengar suara kamar pintu terbuka di ikuti suara Bunda.


"Masuk aja, kayak nya dia udah bangun."


Echa menebak mungkin Zia, yang biasa nya selalu datang ke rumah saat Echa sakit, untuk membantu nya mencatat materi yang tertinggal.


"Nanti aja catet materi nya, gue fotocopy." kata Echa dengan suara parau.


"Katanya, lo harus nulis sendiri supaya ada yang lewat di otak lo."


Tunggu suaranya.


Bukan Zia.


Echa langsung membuka mata, menyingkap selimutnya, dan bangun.


Dia benar benar terkejut -yang entah bagaimana bisa di deskripsikan lagi- saat melihat ada Givan di ... kamarnya. Sumpah?


.


.


.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2