Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Kokoroyok


__ADS_3

Di kantin meja yang di duduki berdua oleh Echa dan Zia.


"Echa. Hahaha."


"Harus pensil banget tadi? Hahaha."


Zia masih tertawa kencang, menertawakan jawaban Echa saat pelajaran Bu Friska tadi.


Menurut Zia, itu adalah kata-kata yang paling konyol yang dia dengar hari ini.


Echa bercita-cita jadi pensil?


Saat memikirkannya, Echa juga meringis sendiri. Gara-gara melihat Givan memainkan terus pensilnya di dekat bibir? Dia berkata begitu.


Echa menghela napas dan meminum Ice Cotton Candynya.


Setidaknya, sampai saat ini Echa merasa aman meski dalam sedikit perasaan ketar ketir, karena tidak -atau belum- ada yang menyadari apa yang membuat Echa berkata begitu.


"Lo tuh ngebadut atau apa sih?" Lalu, Zia tertawa lagi.


Echa tidak menjawab.


Memang benar dia bersyukur Zia tidak tahu alasan sebenarnya, tetapi tidak di pungkiri kalau dia ingin mengutuk Zia karena ke-tidak tahuannya yang membuat temannya itu menduga-duga penuh ke-sotoy-an.


Mana ada orang yang berniat 'ngebadut' ketika satu kelas tertawa, dia malah terkejut sendiri dengan pipinya yang memerah.


"Lucu banget emang ya gue?" kata Echa sambil menahan diri untuk tidak meminjam pisau ke ibu kantin, buat robek mulut Echa.


"Banget lah!" jawab Zia dengan menatap Echa. "Gue kayaknya bisa ketawain ini sampe tahun depan."


"Sampe tahun depan juga lo keresekin kepala lo tiap ketemu gue," kata Echa dengan kesal.


Saat Echa hendak meraih cup minumannya, yang tergenggam telapak tangannya hanya angin.


Echa menoleh untuk mendapati cup minuman itu sudah di ambil lebih dulu oleh seseorang, yang duduk di sebelahnya tanpa berkata, dan meneguk minuman Echa tanpa izin.


"Enak juga, rasa apa ini?"


Echa di buat terdiam dengan ekspresi yang tidak terkondisi saat mendapati Givan ada di sana, dengan kaos futsal berwarna kuning, warna yang membuat Echa membayangkan jus jeruk.


"Oca?"


Givan sampai menjentikkan jadi di depan mata Echa untuk membuat Echa tersadar dari ... entalah. Rasanya hari ini bawaannya setiap melihat Givan, Echa ingin ngang-ngong ngang-ngong tidak jelas.


"Jadi rasa apa?" Givan mengulang lagi pertanyaannya.

__ADS_1


"Cotton Candy."


"Manis," kata Givan, membuat Echa kembali menatapnya. "Minumannya." Givan menunjukkan cup minuman itu pada Echa, menegaskan kalau yang manis itu benar-benar minuman bukan--- yang lain. "Buat gue ya?"


Echa mengangguk.


Akhirnya tawa Zia mereda karena pemandangan yang terasa aneh di depannya. "Tumben kok tidak ada kenyolotan di antara kalian berdua?"


Echa hanya menggeleng.


"Kok?"


"Kokoroyok," jawab Echa asal, membuat Givan yang ada di sampingnya tersenyum tipis.


"Kenapa lo tadi pergi pagi banget?" tanya Givan sambil memiringkan kepalanya.


Melihat Echa dari samping. "Gue ke rumah lo, kata Tante Maya lo piket, iya piket? Gue liat bukan jadwal lo."


"Lo ngapain ke rumah Echa pagi-pagi?" sahut Zia lagi-lagi.


"Di undang Tante Maya buat sarapan," jawab Givan, kemudian kembali melihat Echa karena pertanyaannya tadi belum di jawab. "Hei, lo kenapa?"


Jangan tanya, jangan tanya, jangan tanya.


Karena Echa tidak bisa menjelaskan kalau dia berangkat untuk menghindar dari Givan sendiri. Iya, laki-laki ini yang malah menempeli Echa seperti ini, dan tidak bisa Echa usir.


"Bukan lagi sariawan kayaknya," sahut Zia. "Emang gak mau ngomong aja sama lo."


"Oh ya?" Givan masih mancing-mancing. "Kenapa? Kayaknya semalem masih banyak ngomong."


"Uhuk!" Zia yang sedang menyeruput kuah bakminya langsung terbatuk. Dia segera maraih minuman lalu bertanya, "Kok semalem?" Matanya memincing memperhatikan mereka berdua.


Dan Echa menyadarinya, Zia yang melihat ke arahnya dengan tatap penuh desakan.


"Lo ngapain semalem sama Givan?" Zia menyuarakan rasa penasarannya.


"Beramal," jawab Echa, sebelum Givan menyebut banyak tentang apa yang mereka lakukan dengan hoverboard itu.


"Beramal?" Zia tidak puas dengan jawabannya.


Echa mengangguk, dan memberi penjelasan lebih. "Bagi-bagi makanan buat nyamuk."


Givan yang mendengar itu terkekeh sendiri. "Bener lagi," kata Givan sambil berdiri. "Thanks minumannya." Saat Givan hendak menyentuh kepala Echa dengan tangannya, Echa segera bergerak menghindar.


"Diem lo!" kata Echa yang akhirnya berhasil memberikan tatapan tajam penuh peringatan.

__ADS_1


"Oh ya lupa."


Tangan Givan yang batal menyentuh kepala Echa turun ke bawah, dan menarik pipi Echa. "Kayak squishy," ejeknya sebelum pergi.


Echa terdiam dalam posisi yang tidak berubah, ekspresi nya kosong. Zia yang melihat itu juga ikut diam dan bertanya-tanya, merasa aneh karena Echa hanya diam saja setelah Givan menarik-narik pipinya seperti itu.


"Cha," panggil Zia. "Gak lo kejar Givan terus smackdown, gitu?"


***


Sudah berapa hari ya?


Dua? Tiga? Empat?


Belum sampai seminggu Echa menghuni kursi barunya, tapi Echa merasa sudah menyerah. Dia tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk duduk di sana. Karena setiap hari matanya terus oleng ke kiri, curi lirik ke Givan, yang makin lama, ketampanannya tuh tidak bisa di jelaskan dan jelas meresahkan.


Sejak Echa duduk di sana, Givan lebih sering melihat ke belakang juga. Untuk ... ada tujuannya sih, tidak tiba-tiba menoleh untuk bakekok ke Echa. Jadi, jangan PD dulu.


Givan kadang menoleh untuk seperti ini,


"Oca, lo punya tipe ex? Punya gue habis."


Saat Echa memberikannya entah di sengaja atau tidak, sering kali terjadi skin-ship yang selalu berhasil membuat Echa merasa jantungnya berdegup keras.


Dan tak hanya tipe ex, alat tulis lain seperti penghapus, penggaris, atau pulpen ... selalu menjadi alasan yang membuat Givan dan Echa berinteraksi, selalu ada yang di pinjam Givan setiap hari setiap jam pelajaran.


Dan tak hanya itu. Setiap kali Givan mengembalikannya, laki-laki itu akan mengatakan, "Terima kasih." Dengan senyumnya yang selalu berhasil membuat Echa menahan napas.


Lalu, ada satu hal lagi. Janji ini terakhir.


Cahaya matahari dari jendela sekitar jam sembilan pagi juga ikut berperan, membuat Givan terlihat seperti karakter laki-laki biasa ada di komik-komik. Itu loh, yang tiba-tiba memancarkan cahaya dari belakang punggungnya.


Intinya, kursi itu menjadi spot yang berbahaya dari sekedar melihat-lihat punggung Givan dari belakang.


"Zia gue mohon, kita tukeran kursi lagi." pinta Echa pagi ini pada Zia yang duduk di kursi sambil merapatkan punggungnya ke dinding.


"Gue udah PW, jiwa gue udah menyatu sama kursi ini," kata Zia sambil menggeleng-geleng dengan mata terpejam, tidak ingin melihat wajah memohon Echa.


"Kursi itu kan asalnya tempat gue sampai akhir semester satu nanti," protes Echa.


"Mau gue keluarin surat kontraknya?" tanya Zia yang baru membuka matanya dan melihat Echa dengan senyum yang menyiratkan sesuatu.


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung... ...


__ADS_2