Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Apa Givan ... Alien?


__ADS_3

"Hallo, Bestai," kata Angga menyapa keduanya. "Udah lama kalian tuh gak bikin huru-hara, ya? Eh udah lama gak sih?"


Echa tidak menjawab, dia berusaha mengambil tangannya dari kaitan tangan Angga. "Lepasin ih, gatel-gatel banget gue di tempelin lo, kayak ketombe."


"Jahat banget astaga mulutnya Nyonya ini," kata Angga terdengar seperti mengadu pada Givan, sambil Angga menggesek-gesekan pipinya ke tangan Givan. "Belain gak nih, Ayank?"


Geli tidak sih Givan di gituin?


"Jangan jahat cantik," kata Givan sambil menatap Echa lembut membuat Echa ingin meleyot.


"Jangan baper dong Cha, bisa aja cacar bintik-bintik."


Echa berdecak dan menginjak kaki Angga sekeras-kerasnya, kalau bisa sampai gepeng, kayaknya mau.


Dan sayangnya meski sudah di injak Angga tetap tidak melepaskan tangan mereka, masih ada di sana, nyempil di antara Givan dan Echa.


Setelah selesai melompat-lompat kesakitan, Angga kembali bertanya-tanya. "Udah pada jadian belum sih kalian? Udah pulang pergi bareng aja."


Nah, mendengar itu Echa jadi mereka terwakili, dia jadi tidak menyiksa Angga lagi, hanya melihat Givan menunggu jawabannya.


Iya nih, udah jadian belum?


"Jadi apa?" tanya Givan pada Angga tapi tatapnya tertuju ke Echa. "Jadi Dedemit UKS jadi-jadian?"


Echa menghembuskan napas kasar.


"Jadi pasangan lah, eh atau masih PDKT ya?" tanyanya sambil memasang raut sok-sok mereka bersalah. "Kalau gitu berarti gue mengganggu proses kedekatan ini dong?"


'Bangeeeettt.'


Sewot Echa dalam hatinya.


"Gak kok, gak PDKT an," sahut Givan membuat Echa yang mendengarnya menarik bibir ke bawah. Lemas.


"Masa sih?" Angga menyangsikannya. "Kok pulang pergi bareng?" tanyanya lalu dia melihat ke Echa. "Jangan-jangan lo se-memaksa itu ya sama Givan biar bareng lo? Sampai lo jemput-jemput?" tanyanya penuh tuduhan. Lalu, "Bucin lo!"


"Eh apa sih cocot lo, enak aja!"


Kemudian Echa melempar tatapan pada Givan. "Jelasin dong nih Van sama Ayank kampret lo."


Givan tersenyum. "Motor gue belum isi bensin kemarin," jelas Givan. "Rumah kita depan-depanan, jadi gue minta ikut dia."

__ADS_1


"Ooowwww." Angga membulatkan matanya. "Eh enak ya rumahnya depan-depanan. Jadi kalau nikah tuh gak usah sewa mobil ambulan."


"AMBULAN?"


Angga terlojak. "Eeh maaf-maaf salah, Cha!" Angga nyaris ingin sungkem ke Echa karena di teriaki seperti itu.


"Soalnya gue tuh kalau deket lo tuh cuma merasakan aura duka, kesedihan, terus kesakitan, kesengsaraan juga. Mungkin karena gue sering di siksa sama lo," katanya sambil memepet-mepet ke Givan, mengiri tidak Cha? "Maksud gue mobil pengantin."


"Apa sih, ah!" Echa memasang wajah datar, untuk menutupi tersipunya. "Gak jelas banget lo."


"Ya pokoknya tinggal loncat aja tuh, kalau mau nikah tuh."


Saat Angga sedang menyebutkan perintian tenda pernikahan dari tata letak meja prasmanan, tempat pagar ayu, sampai tempat pelaminan, tiba-tiba saja Givan menyahut.


"Gue gak akan nikah."


"HAH?!"


Echa dan Angga langsung menatapnya dengan mulut terbuka. "Ya, maksud gue gak sekarang. Lima atau tujuh tahun lagi," jelas Angga, takutnya Givan menanggapi ini serius.


Tapi, "Gue gak akan nikah," tegas Givan sekali lagi. "Sama siapa pun, sekarang atau nanti."


***


Meski pertanyaan itu muncul setelah banyolan Angga yang tidak bermutu. Tetapi bagaimana Givan menegaskannya membuat Echa merasa kalau Givan cukup serius dengan itu.


Givan tidak akan menikah, dengan siapa pun?


Itu sebabnya dia tidak merasakan apa-apa saat Echa menciumnya?


Benar tidak sih itu bisa di sambungkan?


Echa bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa ya?


Echa yakin ada penyebabnya. Sebuah rahasia yang sangat rahasia.


Sore ini di taman kompleks perumahan Puri Melati, Echa duduk di ayunan sendiri, menggoyang-goyangkan ayunan pelan maju mundur dengan kaki, sementara di kepalanya mulai muncul beberapa dugaan.


"Apa dia penyuka sesama jenis?" Echa memincingkan sebelah matanya.


Tidak sih, pasti tidak.

__ADS_1


Echa tidak akan bilang kalau dia berpendapat begitu karena melihat chemistry Angga tadi.


Lalu ada kemungkinan lain, agak drama, tapi mau dengar?


Begini, "Apa Givan sakit? Terus, dia gak punya banyak waktu. Seorang laki-laki yang gak mau mencintai di cintai seseorang karena takut meninggalkan rasa kehilangan?" Wah, Echa bergidik sendiri, dengan perasaan yang sedikit ngeri jika membayangkan itu nyata, terjadi pada Givan.


"Bukan, bukan," kata Echa setelahnya. "Dia sehat, dia masih suka main futsal dan pernah nembak gue pake bola futsal."


Echa menghembuskan napasnya. Jadi? "Apa Givan ... Alien ?" Echa menutup mulutnya sendiri saat mendengar dirinya mengatakan itu.


Dia melihat ke sekitar dengan waspada membayangkan kalau Givan benar-benar seorang alien yang mempunyai pendengaran sensitif lalu bisa membaca pikirannya.


Kemudian menyebutkan faktor apa yang bisa menjadi pendukungnya. "Dia bisa naik hoverboard dan seimbang! Bahkan, ketika bawa gue naik. Apa dia mungkin gak berpengaruh sama gravitasi?" Kemudian, Echa menyebutkan premisnya lagi. "Seorang laki-laki yang gak bisa tinggal lama di bumi karena harus kembali ke planetnya dan memutuskan gak jatuh cinta sama manusia, jadi gak nikah. Apa itu masuk akal?"


"Hhh. Ngga, enggak." Echa menggeleng menjawab pertanyaannya sendiri. "Dia tumbuh, dan gue tau dia dari kecil. Jadi mana mungkin." Echa menepis kemungkinan yang terlalu tidak mungkin itu.


"Terus..." Echa berpikir lagi. "Apa? Apa yang bikin Givan gak mau nikah? Gue tau kita masih SMA, tapi, kenapa? Kenapa dia bilang gitu?"


Lalu pikirannya bekerja lagi, membuat kemungkinan lain. "Apa di balik wajahnya yang ganteng, tubuhnya yang bagus, tersimpan koreng di pantatnya?" Echa bergidik sendiri. "Dia gak mau nikah, karena itu? Dia malu?"


"Cara kerja otak lo, Niscala Rescha."


Suara dari belakang membuat Echa menoleh lalu terlonjak. Echa kaget sampai benar-benar membuat dirinya jatuh dari ayunan dan bersimpuh di pasir, saat mendapati Givan berdiri di belakangnya bersama ... kucing itu -yang pasti bernama Oca- dalam pangkuannya.


"Sejak kapan lo di sana?" tanya Echa, dia yakin sekarang matanya membulat dan menatap penuh perasaan tidak terima Givan di sana.


"Sejak lo bilang gue Alien," jawab Givan membuat Echa meringis.


Echa berdiri, menepuk-nepuk floral skirtnya yang sedikit berpasir kemudian melihat Givan kembali.


Lalu, dengan sialnya, otaknya bekerja kembali, memunculkan satu kemudian baru melihat Givan dalam balutan kaos putih itu.


Echa menduga, apa Givan malaikat? Mengingat segala yang ada di laki-laki itu begitu sempurna, kecuali sifatnya.


Givan duduk di ayunan yang tadi di tempati Echa, masih sambil memangku kucingnya. "Hai, Oca," kata Givan sambil menggerak-gerakkan tangan kucing abu, Si Oca itu. "Kenalin itu Oca dua," kata Givan sambil menunjuk Echa yang masih berdiri.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2