Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Mm?


__ADS_3

"Apa yang belum gue lihat?" tanya Echa. "Dan harus gue lihat, gitu?"


Givan mengangguk dan berdiri sati titik, meminta Echa ke sana. Akhirnya Echa melangkah lebih dekat.


"Ini," kata Givan sambil menunjuk ke muralnya.


Semula Echa tidak mengerti, sebelum akhirnya dia memejamkan indera penglihatannya dan mendapat gambar Bebek Kuning di sana, dalam ukuran kecil.


"Semalem gue mikirin lo, dan gue gambar ini," kata Givan melihat lekat Echa yang salah tingkah.


Heu, baru mendengar itu saja, Echa merasa bisa memaafkan Givan. Bahkan saat Givan bertanya, "Apa lo benci gue?"


Echa malah bertanya balik, "Kenapa juga harus benci lo?" Karena tidak bisa menjawab.


"Karena semua yang gue lakuin gak jelas?"


Mendengar itu, Echa terenyak. Givan menyadarinya?


"Entah apa lo bakal mengerti atau enggak, gue sendiri bingung keputusan apa yang terbaik," kata Givan dengan jujur. "Gue butuh lo, butuh untuk ada di dekat lo. Di saat yang sama gue gak butuh lo untuk terlihat dalam banyak hal atau lebih dalam tentang kehidupan gue."


***


Definisi tidak jelas dari segala hal-hal tidak jelas itu ya Givan. Berkali di pikiran pun, Echa masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud Givan tadi.


Butuh? Dan tidak butuh?


Pukul dua belas siang, para murid di berikan waktu istirahat, rehat sejenak dari kegiatan 'Fight 8 Fun' itu. Echa, Zia serta Alkana sedang berada di kanting untuk mengisi perutnya.


Terutama Zia, dia terlihat mengisi perutnya dengan sungguh-sungguh untuk me dapatkan energinya kembali setelah perjuangannya.


Zia mengalahkan diri seperti janjinya untuk cepet kembali? Tidak, sebaliknya dia malah terus berjuang sangat keras sampai masuk semi final.


"Ngerti gak apa yang di bilang Givan?" tanya Echa setelah menceritakan semua keresahannya. "Bisa bantu translate gak?"


Zia sibuk makan, sementara Alkana tampak memikirkannya. "Butuh ya kosa katanya?"


Echa mengangguk.


"Oke Givan butuh ...pasti ada objeknya kan? Apa yang menurut lo Givan butuhin dari lo? Apa yang lo punya Givan gak punya?" tanya Alkana benar-benar mengurai perkataan Givan agar Echa mengerti.


Echa memikirkannya, ingatannya secara tidak sengaja tertuju kembali ke waktu di taman. "Semua yang ada di kehidupan gue, katanya semua yang Givan gak miliki. Dia pernah minta untuk ada di deket gue, supaya dia bisa ngerasain jadi gue."

__ADS_1


Echa masih mengingat, sangat ingat dengan kata-kata yang membuat perasaannya tersentuh itu.


Alkana mengangguk-angguk. "Dia butuh ada di deket lo, nah gak butuhnya ini, gak butuh lo terlibat. Artinya mungkin tepatnya, dia minta lo gak usah lakuin apa-apa buat dia."


Echa menghela napasnya kasar. "Emang gue lakuin apa sih untuk cowok itu? Bikin perahu, terus di tajong sampe balik? Enggak deh."


"Hal-hal kecil kayak, paper bag kuning yang lo kirim buat Givan semalem, itu yang lo lakuin untuk Givan, dan Givan gak mau itu, kayaknya," jelas Alkana. "Jadi biarin Givan ada di deket lo, dan lo diem aja."


Zia yang baru saja meneguk minum setelah menghabiskan makanannya menyahut. "Lo percaya anak ini bisa diem aja kalau udah bucin?"


Alkana menggeleng sambil nyengir. "Enggak ya."


"Gue dong, saksi di ajak tawaf keliling sekolah waktu dia mau modus-modus ke---" Zia mengecilkan suaranya. "Kak Kaivan."


Itu benar, Echa bukan tipe yang selalu mengatakan langsung, tapi dia selalu ingin melakukan sesuatu, menunjukkan apa yang di rasakannya. Tidak bisa menyembunyikan apa-apa. Tidak bisa memendam apa-apa.


"Jadi apa yang harus anak ini lakuin buat ngisi waktunya?" tanya Zia mengatakannya seolah sedang mengatakan pertanyaan untuk kuis. "Yang bikin Givan gak sadar kalau Echa 'melakukan itu' untuk dia. Tapi, Echa masih bisa 'melakukan itu'." Setelah mengatakan itu Zia mengernyit sendiri. "Ngerti gak sih? Gue gak ngerti juga apa yang gue omongin."


Tapi Alkana mengangguk. "Ngerti," katanya. "Lo goda dalam mode getar aja Cha."


"Gimana ceritanya menggoda dalam mode getar tuh?" tanya Echa setengah tertawa.


"Lakuin sesuatu yang gak keliatan kayak lagi lakuin sesuatu, tapi berhasil mengantarkan getaran-getaran ke Givan yang bikin dia gak kuat!"


Echa dan Zia yang pikirannya sudah travelling ke tempat sampah sudah tertawa keras. "Apa sih contohnya?"


"Nanti gue kasih tahu," kata Alkana yang sudah menebak isi pikiran kedua gadis ini.


"Oh ya," kata Echa saat teringat sesuatu. "Ada jawaban Givan waktu lo tanya semalem? Janji mau kasih tahu gue kalau gue bikin Graffiti, sampe jatuh. Catet sampe jatuh."


Mendengar itu Alkana menggaruk kepala bagian belakangnya. "Masih inget aja ya?"


"Jangan-jangan itu bohong?" kata Echa dengan penuh selidik. "Lo gaj tanya apa-apa, kan?"


"Gue tanya kok, asli banget gue tanya. Gue tanya apa Givan suka sama lo atau--- enggak dan dia jawab ... Mm."


Echa mengernyit. "Jawab apa?"


"Jawab Mm."


"Mm?"

__ADS_1


"Iya, jawab Mm doang."


Mendengar itu Echa membuka mulutnya. "Cuma untuk dengerin jawaban Mm yang GAK JELAS itu, gue harus jatuh dulu?"


"Parah!" desis Zia, setengah niatnya mengatakan itu untuk mengompori.


Dan berhasil.


Alkana sekarang terlihat ketar-ketir. "Gak gitu Cha, gue kan gak tau lo bakal jatuh."


"Tapi ya tetep aja kampret!"


Saat Echa hendak melempar tissu ke Alkana, seseorang mendekat ke mereka, mengedarkan pandangan kepada ketiganya kemudian benar-benar menatap Echa saat bertanya, "Lutut lo masih sakit?"


Echa melihat dengan penuh curiga. Apa nih Yuyun datang-datang langsung sok perhatian. "Hubungannya sama lo?"


"Jawab aja," desak Yuyun dengan senyum yang aneh.


"Masih kenapa?"


"Berarti, lo gak bisa ikutan G Hunters itu dong? Masa mau lari-lari nyari hantu sambil sakit lutut. Kalau gue yang gantiin, gimana? Gue sama Givan?" Lalu Yuyun melihat ke Alkana. "Boleh kan Alkana? Ya? Ya?"


Sambil melihat Yuyun dengan malas, Echa bertanya-tanya, 'Halal di tonjok tidak sih mulutnya Yuyun ituuu?'


Ingat tidak sih bagaimana Echa mendapatkan peran sebagai partisipan G Hunters itu dalam diskusi kelas? Itu karena Yuyun sendiri. Karena Yuyun merendahkan dirinya yang ingin berpastisipasi dalam Lomba Cerdas Cermat..


Sekarang Yuyun dengan mudah dan percaya diri ingin mendapatkan peran di G Hunters itu? Menggantikan Echa untuk bersama Givan?


Ingin sekali Echa mengocok-ngocok kepala Yuyun sekarang juga.


Alkana tidak bisa menjawab, dia hanya melempar tatap pada Echa yang ada di depannya. "Gimana Echa aja deh." Yang membuat Yuyun jadi menatap Echa lagi.


"ACC ya Cha?" tanya Yuyun mendesak halus membuat Echa bukannya menjawab, jadi menghela napas.


.


.


.


...BERSAMBUNG .... ...

__ADS_1


__ADS_2