Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Fight 8 Fun


__ADS_3

Alkana sebagai ketua kelas memimpin diskusi itu di depan, bersama Sinta -sekretaris kelas- yang mendampinginya.


"Lombanya sama aja kayak tahun kemarin, di bagi dua kategori fisik-olahraga dan otak-cerdas cermat. Cuman yang beda adalah ada satu lomba baru yang melibatkan keduanya fisik-otak ini yang baru," jelas Alkana. "Mekanismenya gak di jelasin gimana, berikut waktunya juga. Jadi yang mau ikut benar-benar harus yang siap, kapan aja di panggil ke sekolah. Sampai sini dulu, ada pertanyaan?"


Echa mengangkat tangan.


"Iya, gimana Cha?" tanya Alkana.


"Yang ikut lomba cerdas cermat siapa aja?" tanya Echa membuat semua orang langsung melihatnya.


"Jangan bilang lo mau ngajukan diri jadi partisipan?" sahut Yuyun dari tempat dudu nya, pertanyaan itu cukup mewakili semua orang yang ada di sana. "Lomba Cerdas Cermat tuh penting bener gak sih? Menyangkut harga diri kelas."


Echa mendengar itu, tapi mengabaikan nya. Dia hanya fokus menunggu Alkana menjawab pertanyaan nya.


Alkana berdeham, dia menebak-nebak dan mereka sedikit bisa mengerti dengan maksud Echa. Sedikit banyaknya, benar apa yang di katakan Yuyun.


"Gue, Wina, sama Irfan." jawab Alkana, menjawab pertanyaan Echa menyebutkan partisipan dalam lomba cerdas cermat sekaligus menyebut tiga orang pemiling ranking teratas.


Echa menurunkan tangannya.


"Gak kasih kesempatan buat yang lain, gitu?" tanya Echa.


"Bilang aja lo mau," sahut Yuyun lagi. "Lo mau jadi partisipan lomba CC untuk jadi ajang pamer sama cowok incaran lo kalau lo---"


"Bisa diem gak lo?" Echa berdiri dan melempar tatap tajamnya. "Gue bukan nanya sama lo, tapi gue nanya sama Alkana."


"Gue bagian dari kelas ini dan gue juga berhak mengutarakan pendapat gue tentang siapa yang bisa di percaya untuk wakilin kelas kita di lomba nanti. Jangan sampai salah dengan kirim partisipan yang bodoh, yang cuma numpang duduk doang di kursi, yang bikin kita kalah dan kelas ini jadi terkenal kelas yang 'bodoh' karena udah terdepak dari babak pertama."


Mendengar penghinaan yang jelas tertuju untuk dirinya itu, Echa berdiri. Namun, sebelum melangkah ke kursi Yuyun untuk benar-benar menjambak rambut gadis itu, Alkana sudah lebih dulu menengahi.


"Bisa tenang dulu?" tanya Alkana dengan suara yang tegas, dia melihat Echa dan Yuyun bergantian sebelum akhirnya dia melihat ke satu arah, ke Echa. "Cha tolong duduk dulu."


Melihat Echa tak kunjung menuruti kata-katanya, Alkana membuat kontak mata dengan Zia, meminta teman teman sebangku Echa itu untuk membuat Echa duduk kembali.

__ADS_1


"Benar kata Yuyun, Lomba Cerdas Cermat ini penting. Tapi, bukannya kita gak bisa kasih kesempatan untuk yang mau berpartisipasi juga? Gue yakin siapapun orangnya -yang mewakili kelas kita- pasti akan lakuin hal yang terbaik untuk menang," jelas Alkana yang menunjukkan dukungannya untuk Echa.


Dia tidak melakukan itu sebatas karena dia yang memiliki wewenang adalah teman dekat Echa, tapi karena merasa berhak memberikan kesempatan juga.


Karena memang sejak daftar lomba ini ada, partisipan untuk Lomba Cerdas Cermat tidak pernah di diskusikan, di pilih begitu saja olehnya.


"Gue gak keberatan posisi gue di ganti," kata Alkana. "Siapa yang setuju? Atau gue bikin poling di Instagram kelas ya, yang setuju partisipannya tetap atau ganti?"


Saran Alkana untuk poling di setujui. Alkana meminta semuanya mengeluarkan ponsel dan memberikan suara di Instagram kelas, di kolom poling yang di buatnya.


Dalam waktu kurang dari lima menit semua suara sudah terkumpul. Dan Echa, karena menjadi orang yang terakhir memberikan poling, dia sudah tahu hasilnya sebelum Alkana bagikan.


Hampir sebagian bedar setuju untuk membuat orang yang berpartisipasi dalam lomba itu adalah orang-orang yang pertama di pilih, tiga peringkat teratas di kelas, Alkana, Wina, dan Irfan.


Tidak banyak yang mempercayainya untuk mewakili Lomba Cerdas Cermat.


"Oke, jadi partisipan lomba cerdas cermat tetap sama ya?" Sambil mengatakan itu, Alkana melihat ke arah Echa yang menunduk dan membuatnya merasa bersalah juga.


"Next, untuk yang mau berpartisipasi di bidang olahraga juga. Ada basket, voli, dan futsal."


Selama diskusi itu berlangsung, sampai orang-orang yang berpartisipasi untik lomba bidang olahraga di tentukan, Echa tidak bersuara lagi. Biasanya Echa yang selalu banyak berbicara.


Terlepas dari tujuan sebenarnya Echa mengajukan diri untuk Lomba Cerdas Cermat, Alkana tahu kalau Echa kecewa.


Setelah berbagai macam-macam lomba lainnya di tentukan, Alkana kembali membahas satu lomba yang menjadi lomba baru 'Fight 8 Fun' kali ini.


"Gue baru dapat pengumuman baru, katanya lomba tambahan ini ada namanya," kata Alkana.


"Misterius banget, emang asalnya enggak ada namanya?" sahut Rido. "Coba apa namanya?"


"G Hunters," jawab Alkana. "Setiap kelas harus mengirimkan dua orang sebagai hunters. Tak hanya kuat dan gesit, mereka juga harus cerdas karena akan ada banyak teka-teki yang harus di jawab."


Alkana sendiri merasa kalau G Hunters ini menarik, dia jadi teringat Echa. "Cha, karena lo belum ajuin diri untuk ikut lomba apa pun, mau ikut ini?"

__ADS_1


Echa mengangguk.


"Bukannya lo baru aja nyebut kalau orangnya harus cerdas, ya?" sahut Yuyun lagi-lagi. "Kok lo percayain gitu aja ke dia, kalau dia gak bisa pecahin teka-tekinya gimana?"


"Gak apa-apa," kata Alkana. "Lagian ini lomba baru, dan bukan lomba yang begitu di sorot, yang bakal nentuin harga diri kelas kalau---"


"Gue pastikan Echa menang di G Hunters ini." Givan yang sedari tadi diam dan menyimak akhirnya ambil bagian. Dia berdiri dari tempatnya, untuk melihat Yuyun yang memasang wajah kesal. "Kalau lo khawatir Echa kalah, lo bisa berhenti khawatir. Gue bakal ikut sama Echa dan back up dia," lalu Givan mengalihkan pandangannya ke Alkana. "Partisipannya, dua orang kan?"


Alkana mengangguk, kemudian membuka mulut. "Bagus."


"Eh, bentar deh." Angga ikut menyahut. "Namanya G Hunters?"


Alkana mengangguk. "Iya G Hunters," jelasnya sambil memeriksa pengumuman di Grup Chat perkumpulan ketua kelas SMA Nusa Bhakti.


"Kepanjangan nya Ghost Hunters gak sih?" tanya Angga.


"Ya kali G-String Hunters," celetuk Rido yang langsung di sambut ledek tawa seisi kelas. "Ntar jadinya eksplisit."


Kemudian Angga melihat ke Givan dan Echa bergantian. "UHUK!" katanya pura-pura batuk seolah baru tersedak bakso beserta mangkoknya. "Gue dukung dua makhluk ini jadi hunters dari SESAT!" kata Angga heboh sendiri. "Siapa yang sama?"


Di luar dugaan nyaris semua teman-teman nya mengcungkan tangan, memberi dukungan kecuali Echa dan Givan sendiri serta Yuyun dan Geng Centilnya.


"Uhhh, tidak sabar melihat ke uwuan ini. Ntah si Echa Givan, 'Ivan atut'." Sambil meragakan cewek ketakutan dengan centil penuh bersemangat. "Terus nanti Givan nya bilang gini, 'gak apa-apa ada aku' terus meluk." Angga tertawa karena apa yang ada dalam bayangannya dan seisi kelas tertawa karena melihat Angga.


"Eh boleh daftar jadi Kuntilanak-Kuntilanakan nya gak sih? Gue pengen liat langsung ke uwuw-uwuannya Givan, Echa."


.


.


.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2