Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Minuman Kaleng Doraemon


__ADS_3

Atas ke mungkinan jatuh apa yang di maksud kan Echa, Givan hanya menanggapi nya dengan suara tawa yang renyah. Laki laki itu akhir nya berhenti dengan hoverboard nya setelah beberapa putaran


Mereka turun, dan duduk di bangku taman yang tadi Echa duduki sendirian sambil di kerubuti nyamuk.


"Mau minum gak?" tanya Givan memecah hening.


"Kalau gue mau?" Echa bertanya balik. "Gue harus lari ke minimarket gitu?"


Givan menggeleng seraya berdiri. "Gue yang beli, mau minum apa?"


"Apa pun," kata Echa.


Givan mengangguk dan pergi, meninggal kan Echa di sana bersama hoverboard nya.


Saat Echa melihat hoverboard yang sekarang dalam keadaan diam dan mati, Echa meraba dada nya sendiri yang bisa-bisa nya berdebang kencang.


"Hati-hati ya," peringat Echa sambil menepuk dadanya sendiri. "Gabutnya anak itu bikin jantung pengen awur-awuran." Echa menggeleng.


Sebelum Echa di kerubuti lebih banyak nyamuk, akhirnya Givan kembali dengan satu plastik yang berisi minuman berbagai rasa, tentu saja minuman kaleng dengan gambar Doraemon itu ada.


"Gue mau yang ini ya?" Echa mengambil yoghurt dalam kemasan botol dan menunjukan itu pada Givan yang duduk di sebelahnya, dengan plastik makanan di tengah mereka.


Givan mengangguk, tetapi kemudian mengambil yoghurt botol itu dari tangan Echa, membuat Echa mengernyit.


"Katanya iya, tapi di ambil lagi gimana sih?" Echa tidak mengerti. "Ada keikhlasan gak sih di hati lo?"


Terdengar suara 'trek' dari segel botol yang berhasil di lepaskan Givan. Setelah tutup botolnya setengah terbuka, Givan menyodorkan kembali minuman itu pada Echa.


"Lo gak bisa buka segel botol, kan?"


Benar sih. "Thanks." Echa menerimanya.


Oh, jadi Givan 'dengan pengertiannya' membukakan dulu tutup botolnya untuk Echa?


Sikap Givan makin lama, makin meresahkan yang kalau sedang berdua seperti ini? Setelah tadi jantungnya di buat awur-awuran, sekarang tidak tahu lagi. Sudah di buat Sambyar, mungkin? Alias sangat ambyar.


"Kapan gue boleh pulang?" tanya Echa pada Givan yang baru saja menyandarkan punggungnya ke bangku setelah meneguk minuman sekali di tangannya, minuman kaleng dengan gambar Doraemon.


Itu benar-benar minuman favorit Givan, ya?


"Lo gak suka habisin waktu bareng gue?" Givan malah bertanya begitu, dengan tatap dan raut wajah yang sebenarnya biasa saja, tapi berhasil membuat Echa merasa iba.


"Bukan gitu," Akhirnya Echa mengelak. "Tapi bukan suka juga," kata Echa sambil menggigit bibir bawahnya. Dia jadi merasa serba salah. "Gimana ya? Ya, gak tau." Dia menunduk.


Givan tersenyum manis melihat itu, lalu meneguk minumannya lagi.


Kemudian, Givan berkata setelah menelan minumnya. "Kemarin hari Minggu---"


"Gue tau kemarin hari Minggu."

__ADS_1


"Gue jalan sama Yuyun."


Pengakuan itu membuat Echa mengangkat wajahnya, melihat Givan yang sedang menatap lurus ke depan.


"Katanya lo bantu dia. Jadi bukan itu?" Echa ingat Yuyun menyebutnya begitu. "Jadinya jalan?" Echa tidak terdengar ngegas, kan?


"Bantuan yang di maksud itu, rekayasa yang Yuyun bikin," jelas Givan. "Gak tau cuma perasaan gue, tapi kayaknya gitu. Gue yakin sekitar ... tujuh puluh persen?"


Hah? Apa ini? Echa semakin penasaran.


Dia terus melihat Givan menyimaknya dengan fokus, tidak ingin melewatkan satu hal pun.


"Sejak gue masuk GC Sesat, dia terus chat gue cukup intens."


Wah, Echa baru tau kalau langkah Yuyun sudah sejauh itu. "Jadi, Si Yuyun beneran suka sama lo?"


Dan Givan mengangguki nya dengan mantap.


"Waw, percaya diri sekali." Echa sampai menyimpan botol yoghurtnya untuk bertepuk tangan.


"Bukan percaya diri, itu fakta," papar Givan. "Tadi Yuyun nembak gue."


"SERIUS?!" Echa memekik dengan mata membulat, dan mendekatkan wajahnya. Itu hanya pekikan kaget ya, bukan ngegas.


Echa menelan salivanya sebelum bertanya, "Nembak, minta lo jadi pacarnya, gitu?"


Echa hanya mengangakan mulutnya tanpa berkata apa apa. Lalu mengingat-ngingat, bukanya tadi di setengah akhir waktu istirahat Givan sedang bersamanya, ya? Di UKS?


"Sebelum gue nyamperin lo di UKS," jelasnya seolah membaca isi pikiran Echa.


"Wah! Jadi lo nyamperin gue, sebagai pacar Si Yuyun?"


Givan tersenyum aneh saat mendengar pertanyaan itu, "Gue bukan pacarnya."


"Jadi Si Yuyun di tolak sama lo?!" tanya Echa makin antusias.


"Bukan," kata Givan membuat Echa mengernyit. "Dia yang bukan di tolak. Gue yang gak di terima."


Eh gimana sih? Echa semakin tidak mengerti dengan apa yang Givan maksud. Bukanya tadi Givan yang di tembak Yuyun, kenapa jadi Givan yang tidak di terima?


"Pusing ah ngomong sama lo, gak nyampe otak gue."


"Ada yang lo gak tahu," kata Givan dengan senyum penuh arti. "Gak mau nanya gitu?"


"Gak."


"Kenapa?" Givan penasaran.


"Buat apa Dedemit tau urusan manusia kaleng kayak lo?"

__ADS_1


Givan tergelak.


Jadi gini, sesuatu yang Echa tidak tahu.


Kembali ke waktu istirahat di kantin, di salah satu meja tempat Givan dan Yuyun duduk. Tepat setelah Yuyun menyatakan perasaan -yang tidak begitu membuat Givan terkejut karena sudah menduganya, Givan bertanya, "Kalau gue terima jadi pacar lo. Apa yang akan lo lakuin kalau gue deket sama Echa?"


"Kok jadi Echa?"


"Jawab aja," kata Givan dengan tenang.


"Jelas, gue cemburu dan minta lo untuk gak deket sama Echa. Gak cuman Echa, cewek lain juga."


Givan mengangguk, dia paham dengan aturan dasar orang pacaran itu. "Lo gak terima dan larang gue deket sama Echa?"


Yuyun yang mendengar itu terkejut, karena kok masih di pertanyakan? "Ya jelas."


"Gue gak bisa untuk kayak gitu sekarang?"


"Gak bisa?"


"Gak bisa jauh dari Echa," jelasnya.


Yuyun benar benar tidak percaya mendengar ini. "Apa lo nolak gue karena suka sama Echa?"


"Gue gak nolak lo, lo yang gak terima gue." jelas Givan membuat Yuyun menggeleng-geleng, sama seperti Echa, dia juga tidak mengerti Givan dan maksudnya.


"Jadi kenapa Echa?" tanya Yuyun. "Kenapa bawa Echa untuk mempertimbangkan keputusan lo jadi pacar gue atau enggak. Lo sadar kalau ini jatuhnya kayak penghinaan buat gue?"


Givan menggeleng. "Gak ada yang menghina lo."


"Jadi apa yang ada di Echa yang gak gue punya?" Yuyun ingin tau.


"Echa bikin gue merasa jadi manusia yang benar benar hidup," paparnya.


Yuyun masih merasa belum jelas. "Apa di dekat gue lo merasa jadi mayat hidup? Zombie?"


Givan menggeleng. "Bukan gitu, jangan tersinggung."


Givan bingung menjelaskannya. Tentang bagaimana sejauh ini hanya Echa yang berhasil membuatnya meninggalkan Givan yang dingin dan kaku. Echa yang berhasil membuatnya banyak bicara saat dia menutup diri dari semua orang. Echa berhasil mengisi kosongnya, Echa yang berhasil meramaikan sepinya.


Saat Givan tidak memiliki alasan lagi untuk bahagia, Echa dengan apa yang ada dalam dirinya berhasil membuat Givan banyak tertawa.


.


.


.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2