
Echa padahal sudah berniat ingin menunjukkan kekesalannya pada Givan, karena Givan malah berlaku menjijikkan bersama Angga, tapi di tengah jam pelajaran Givan malah menyodorkan sebuah kertas ke depannya.
Ada tulisan tangan Givan di sana. Begini isinya, [Mau istirahat ke mana?]
Dan Echa berhasil di buat kesulitan mempertahankan emosi kesalnya. Dia meraih kertas itu dan menulis jawaban di sana.
Yang Echa tulis: [Kenapa?]
Tepat hanya itu saja, supaya di anggap jutek.
Echa menusuk lengan Givan sekali lalu menyodorkan kertasnya ke Givan, catat ya tanpa senyum.
"Yaaa malah surat-suratan dua anak ini," cetus Zia sambil menggeleng-geleng. "Helloo, hp lo pada kentang banget gak bisa instal WA lagi? Atau gak ada kuota? Gue tethering deh."
"Apa sih Zia." Echa sok mendelik, wajahnya masih jutek dan masih tidak senyum.
"Apa sih? Apa sih? Padahal hati lo di dalam sana sudah ingin jingkrak-jingkrak, kan?" kata Zia lagi sambil tersenyum miring dan menunjuk ke dada Echa. "Perlu gue teropong pake sinar X?"
Givan tersenyum mendengar itu, dia melihat kertasnya dan melihat Echa, menjawabnya langsung, "Gue mau istirahat bareng lo," jawab Givan membuat Echa menggigit bibir dan menahan napas.
Givan yang selama ini se-la-lu menghabiskan waktu istirahat dengan bermain futsal, sekarang? Givan katanya mau menghabiskan istirahat bersama dengan Echa.
Apa Echa mengajaknya ke atap saja? Supaya bisa berduaan dan---
Tolong pukul kepala Echa dengan gayung lope dan bilang kalau dia harus SADAR!
"Oke," kata Echa sambil tersenyum sedikit. "Kalau lo mau."
"HALAH PADAHAL SENDIRINYA MAU BANGET!" Zia mencibir lagi. "Heh, Givan. Lo kasih pelet apaan sih ke temen gue?"
"Pelet ikan," jawab Givan sambil tersenyum dan menghadap ke depan.
"Denger tuh, pelet ikan ya, bukan pelet cinta. Jadi lo mangap-mangap aja kayak ikan kalau di depan dia, gak usah sok cantik."
Echa tidak menanggapi Zia, karena dia sudah jadi lebih bersemangat menyelesaikan tugas rangkumannya. Iya, harus lebih cepat menulisnya supaya dia bisa cepat istirahat bersama Givan.
Karena sekolah memiliki cukup banyak ruang terbuka hijau dengan bangku-bangku di setiap sudutnya, Echa membayangkan kalau akan romantis tidak sih kalau istirahat kali ini Echa duduk di salah satu bangku itu bersama Givan? Tak apa-apa kalau hanya minum Teh Kotak, yang penting bersama Givan. Begitu.
__ADS_1
Namun, saat jam istirahat berakhir, Echa melihat awan di luar jendela yang gelap. Lalu saat keluar kelas, Echa melihat rintik hujan yang semakin lama semakin banyak.
Jadi mustahil kan, untuk mereka menghabiskan waktu di taman sekolah? Masa mau hujan-hujanan?
Mereka istirahat di kantin duduk di meja, dan ...tak hanya berdua. Ada Zia, Alkana, juga ... Angga dan Rido yang tiba-tiba bergabung, dengan Angga yang duduk di samping Givan.
Di kantin itu tidak ada meja yang khusus untuk dua orang, tentu saja karena itu kantin sekolah bukan cafe untuk kencan pasangan. Ada tiga tipe meja, yaitu meja yang menyatu dengan gazebo di pinggiran, dengan lima kursi yang mengelilinginya, ada meja kotak dengan empat kursi yang mengapit, dan ada meja panjang yang menyatu dengan kursinya di dua sisi yang bisa diisi oleh enam sampai delapan orang.
Dan sesampainya mereka di kantin, hanya meja meja panjang yang tersisa, jadi mereka duduk di sana meskipun hanya berempat awalnya. Namun berkat kedatangan Angga dan Rido, mereka jadi berenam bukan? Dengan posisi begini, satu kursi di isi bertiga oleh Rido, Zia dan Alkana. Lalu, satu kursi di sisi lain, di isi oleh Angga, Givan di tengah dan Echa.
Ya, memang ekspektasi tidak sesuai dengan realita tuh begini. Niatnya ingin duduk-duduk di taman berdua dengan Givan, malah duduk berdesakan dengan makhluk yang kadar congornya tuh suka lentur-lentur.
"Ikut ya, ikut," kata Angga yang sudah duduk mepet-mepet dengan Givan.
Echa mencabut tissu dari meja, membukanya lebar lalu menyimpannya di atas kepala.
"Buat menyerap uap panas yang menguap," katanya sendiri sebelum di tanyai teman-temangnya yang ada di sana.
"Panas?" Angga sampai melihat ke sekitar. Hujan masih turun. Jadi panas kenapa? "Masih dendam Cha sama gue?" tanya Angga sambil memiringkan kepalanya sedikit melihat Echa.
Echa tidak menjawab, hanya menyendok bakso di mangkuk lalu melahapnya. "Um, yum-yum."
Givan kenapa sih?
"OH IYA!" Angga berteriak keras, dia merasa di ingatkan hal yang hampir terlupakan. "Itu apa captionnya? Kok belum pada klarifikasi sih?"
"Thanks for the kiss di bawah foto martabak?" tanya Rido sambil tertawa. Dia juga melihat postingan Givan. "Ciuman sama martabak atau sama yang ngasih martabaknya?"
Echa benar-benar meringis mendengar itu.
'Kutuk aja gue gak sih jadi liliput supaya bisa menyelam ke kuah bakso?' batinnya menjerit.
Givan sih, Angga sudah lupa malah di singgung-singgung lagi.
"Oh iya, iya. Lo belum cerita tadi keburu gue tuwiw-tuwiw."
Cerita? Penting banget ya Angga tau?
__ADS_1
Echa ingin mengabaikan, tapi semua orang malah melihat ke arahnya menunggu.
Echa melihat ke Zia dan Alkana yang duduk di depannya, dan kedua temannya itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan membantu, malah lebih kelihatan ikut menunggu juga, apa yang akan Echa katakan tentang itu.
"Jangan diem Cha, lo yang terkesan beli martabak buat Givan, sekaligus yang---" Zia tersenyum penuh arti. "Jadi tujuan 'terima kasih' dari Givan." Alias yang memberi 'Kiss'.
Di bawah meja Echa memanjangkan kakinya, sampai ujung sepatunya menyentuh tulang kering Alkana. Echa menendangnya beberapa kali.
Kemudian matanya berbicara. "Tolongin gue!"
Tapi, seolah tidak mengerti kode itu, Alkana malah berkata, "Cha, kok lo nendang-nendang gue sih?"
Yah ...malah di spill.
Memang tidak bisa di harapkan. Echa menarik kakinya lagi. Andai Echa duduk lebih dekat dengan Givan, pasti Echa sudah mencubit pinggangnya dengan keras.
"Jadi lo beli martabak kemarin Cha?" tanya Angga. "Beli martabak buat Givan?"
"Gak."
"Ngaku aja, apa dosanya sih beli martabak?" Rido menambahkan. "Ya gak? Ya, gak?"
Beli martabaknya gak dosa, postingan Givan yang membuat itu jadi dosa besar T.T
"Lo yang beli martabaknya kan? Martabak kacang? Apa perlu gue keliling tukang martabak se-kota Bandung buat tanya apa kemarin lo beli?"
Echa sudah mengambil ancang-ancang untuk mengambil sendok di tengah meja untuk di lempar ke Angga saat tiba-tiba saja ada suara yang menyahut dari belakangnya.
"Iya, Echa beli martabaknya semalem sama gue, kenapa?"
Echa membalikkan badan ke belakang dan melihat Kak Kaivan berdiri di sana.
'Si Kampret.'
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG .... ...