Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Itu Simba


__ADS_3

Echa diam, otak nya sedikit ngebug selama beberapa saat. "Lo bilang tadi notasi," protes nya.


"Notasi Sigma. Lo tau Sigma?"


Echa memaksa otak nya berpikir. Sigma, sigma, sigma. Terasa familiar. "Yang ada film nya, kan? Singa itu?"


"Itu Simba."


Oke di titik ini, Echa merasa benar benar bodoh. Tapi dia belum mau menunjuk kan itu ke Givan. "Iya. Gue bisa kok. Jadi, simpen aja buku buku lo dan balik, besok gue kembaliin buku nya kalau udah beres salin ke catatan gue."


"Oh ya?" Givan menyangsikan nya. "Kata nya lo bodoh."


"Kata siapa?" Echa nyolot.


"Teman sebangku lo."


Echa mengepal kan tangan nya diam diam sambil bibir nya bergerak, mengumpat tanpa suara.


"Gue jelasin apa yang di pelajari hari ini, nanti kalau lo udah bisa kerjain satu soal. Gue pulang."


Dan mendengar itu, Echa semakin merasa yakin kalau Givan bisa bisa menginap di rumah nya. Iya, jika patokan Givan pulang adalah Echa benar benar harus mengerja kan satu soal Matematika.


Begini masalah nya, Echa itu seperti mendapat kutukan dari pelajaran Matematika. Apa pun materi nya, di jelas kan sampai berbusa pun, Echa tidak akan mengerti dan Echa yakin sekarang akan seperti itu juga.


Kecuali kalau Givan berhasil membuat nya di rasuki arwah yang semasa hidup nya jenius Matematika.


"Gue mulai ya," kata Givan yang sudah membuka buku dan bersiap dengan pulpen di tangan nya. Dia menulis kan di sesuatu di lembar kertas putih dan menunjuk kan itu ke Echa. "Bisa lo baca ini?" tanya Givan.


Mata Echa memincing.


"Lima E? Satu sama dengan satu, di kali dua ...?! Di kurangi empat." Apa itu tadi? Soal nya juga sudah menbuat lidah Echa kejelimpet.


Givan tersenyum. "Ini bukan E, ini lambang Sigma."


"Sigma itu apa?" tanya Echa sambil mengangkat wajah nya melihat Givan, dan saat itu lah Echa menyadari kalau wajah nya begitu dekat. Tepat di depan hidung nya, benar benar dagu Givan. Tepat di depan mata nya, benar benar bibir Givan yang pernah ... ditabraknya.


Astaga Echa! Ayo fokus.


"Jangan liat gue, soal nya ada di sini." kata Givan sambil mengetuk ngetuk buku nya dengan pulpel.

__ADS_1


Echa langsung menunduk lagi, melihat ke buku dan menggeser sedikit menjauh untuk membuat jarak.


'Kalau ke deketan takut nya ke cium' kata Echa dalam hatinya.


"Jadi, Sigma itu apa?" Echa mengulang pertanyaan dengan sepasang mata yang kali ini tertuju ke tangan Givan yang memegang pulpen. Givan punya tangan yang besar, ya? Jari jari nya juga panjang.


"Sigma itu dari huruf Yunani, artinya penjumlahan."


"Oh."


"Jadi cara bicara nya, dari sini dulu." Givan menunjuk nilai yang ada dalam kurung. "Jumlah dua i, di kurang empat. Terus ini." Givan menunjuk yang ada di bawah simbol Sigma. "Untuk nilai i sama dengan satu." Dan menunjuk angka lima yang ada di atas Sigma. "Sampai dengan nilai i sama dengan lima."


Oh, ribet sekali ya?


Sampai sana saja Echa sudah puyeng, jika Givan meminta nya suruh mengulang baca, Echa yakin dia tidak bisa menyebut kan nya dengan tepat alias akan belibet.


"Jadi, cara dapet isi nya gimana?" tanya Echa lebih ke mendesak agar selesai dengan cepat.


Namun, Givan seolah tau apa yang Echa hindari, Givan malah meminta Echa melakukan ke balikan dari apa yang di ingin kan nya. "Coba baca lagi?"


Tuh kan.


Meski Givan sudah memberi kan banyak sugesti positif pada Echa dengan berulang kali bilang, "Ini gampang kok. Lo hanya perlu ...."


Tapi tetap saja, tetap. Echa tidak mengerti.


"Van, bentar deh," kata Echa menutup buku yang terbuka di depan mereka dengan dua tangan nya. "Istirahat dulu ya. Haus gak?"


Givan yang memang sejak tadi banyak berbicara baru menyadari nya, tenggorokan terasa kering.


Melihat itu Echa akhir nya berdiri dari tempat nya untuk ke dapur dan kembali dengan dua gelas es jeruk.


Ketika hening menyelimuti, arah tatap Echa tertuju pada semua yang ada di sekitar nya. Beberapa buku terbuka, alat tulis yang berantakan, dan Givan.


Givan, termasuk salah satu mm ... 'hal' yang dekat untuk Echa sekarang, maksud nya untuk saat ini, detik ini. Tidak pernah berpikir kalau orang yang Echa kira tidak akan memeduli kan nya, malah menjadi satu satu nya orang yang mendatangi nya saat dia sakit.


Oh iya dia sakit. Echa baru ingat, ke mana saja ya dia tadi?


"Lo kenapa lakuin ini?" tanya Echa tiba tiba dan membuat Givan menoleh. "Lo ajarin gue, di suruh Zia?"

__ADS_1


Givan menggeleng. "Bukan karena dia."


"Terus?" Echa penasaran, kalau bukan Zia kenapa lagi? Meski pun Echa juga tidak yakin kalau alasan Givan ke sini karena Zia menyuruh nya. Memang Givan sepenurut itu? "Apa untung nya buat lo ajarin gue?"


Givan menggeleng lagi, kali ini sambil mengangkat bahu, tatap nya tertuju lurus ke depan. "Gue juga gak tau."


Echa mencibir nya. Givan ini ya, banyak hal yang tadi Echa tanyakan tentang Notasi Sigma itu, dan Givan menjawab semua nya dengan percaya diri.


Giliran pertanyaan yang sederhana, tentang diri nya sendiri tidak butuh banyak rumus atau trik, malah tidak tahu? Jawab nya tahu?


"Gue cuma mau," kata Givan yang kembali menatap Echa, cukup lekat, melihat kedua mata nya bergantian. "Entah kenapa."


Terus saja 'entah kenapa' jawaban yang semakin lama mendengar membuat Echa agak jengkel juga. Ya bukan berarti Echa peduli dan sangat ingin tahu, atau berniat mengorek ngorek privasi Givan.


Hanya saja ini terkait dengan nya, kan?


"Lo tau nomor dua apa?" tanya Givan tiba tiba.


"Nomor dua apa? Soal?" Echa memujuk kertas penuh coretan yang sedari tadi Givan untuk menjalan kan soal.


Givan menggeleng. "Bukan, urutan nomor dua hal yang baru gue sadari dan berhasil masuk daftar kesukaan gue."


Apa sih? Echa tidak mengerti sama sekali dengan pembahasan acak yang di buat Givan.


Tapi untuk menghargai, anggap saja ada, daftar kesukaan Givan nomor satunya entah apa. Echa bertanya, "Oke. Apa nomor dua nya, yang lo suka?"


"Ada di dekat lo."


Nah, lo. Kenapa Echa jadi menahan napas hanya karena mendengar itu?


.


.


.


...Bersambung......


...Happy ReadingšŸ¤—...

__ADS_1


__ADS_2