Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Sampai Zimbabwe Saja


__ADS_3

"Bukan. Bagus lo gak galau lagi."


Plot twist tidak terduga.


Echa sampai berhenti setelah mendengar itu. Dia melihat Givan dengan tatapan aneh.


"Serius deh. Lo kenapa sih?" Echa ingin menanya kan lebih lengkap, karena Givan terkesan mengurusi ke galauan nya? Seolah itu menjadi bagian penting bagi Givan.


Dan Givan yang baru saja berhenti itu menggeleng pelan. "Gue gak tau gue kenapa," kata Givan, melihat ke sembarang arah awal nya. Lalu saat melanjut kan kata kata nya lagi, dia melihat fokus kepada Echa. "Tapi gue merasa baik baik saja, karena lo. Karena lo baik baik saja."


Echa mendengar kan CCTV perpustakaan mati. Lalu, apa AC juga? Mendadak suhu terasa panas sekali sekarang. Atau hanya tubuh Echa yang terasa panas? Terutama bagian pipi nya.


"Echa, Givan." suara seorang gadis terdengar membuat Echa mengerjap tersadar. Dia menoleh ke sumber suara dan mengernyit ketika melihat Yuyun berjalan mendekat. "Sumpah ya, lagi pada apa sih? Kok ambil buku aja pada lama banget?"


Echa melihat Givan lalu menunduk bingung.


"Jangan jangan bener lagi, lo lagi berbuat sesuatu sama Givan ya, Cha?" tuduh Yuyun.


"Echa berdecak sebal. "Iyain aja deh, biar cepet." kemudian Echa pergi duluan.


Rasa nya mereka belum lama masuk perpustakaan, Yuyun sudah menyusul saja dan bilang lama lalu menuduh macam macam?!


Kemudian yang membuat Echa semakin menyesal adalah dia mendengar Yuyun di belakang sana bertanya pada Givan. "Lo gak papa kan. Maksud nya gak di apa apain Echa kan?"


Entah apa jawaban Givan, Echa tidak dengar. Tapi karena kepalang kesal dia sengaja menyimpan setumpuk buku dengan keras ke meja dan berhasil memancing perhatian dua orang itu.


"Ribut banget sih?" ketus Yuyun.


"Lo kali yang ribut, ngapain ikut ke sini?"


"Lo kalau gak di ikutin nanti Givan----"


"Telat. Udah gue nodain juga tuh Givan nya." celetuk Echa asal tetapi berhasil membuat Yuyun menatap nya tajam.


***


Saat jam istirahat, Echa tidak bisa menghindar lagi dari Zia yang sudah bersiap ingin mengintrogasi nya. Pasti tentang cerita batu batu nya itu, dan juga pasti tentang kenapa dia bisa berangkat dengan Givan tadi pagi sekaligus memeluk nya.

__ADS_1


Sekarang di tengah suasana kanti yang penuh di jejali murid murid, di salah satu meja panjang, Echa duduk di depan Zia dan Alkana.


Meja itu terlalu panjang untuk hanya di huni oleh mereka bertiga, Echa jadi berharap ada siapa pun duduk di sana agar dia tidak jadi melakukan sesi introgasi nya.


"Dingin ya?" kata Echa sambil memeluk diri nya sendiri.


Zia memutar bola mata nya. "Gak usah ngeles deh Caca sayang."


"Serius, gue ngerasa dingin." Echa bersikukuh.


Itu tidak bohong, memang yang sedang di rasa kan Echa begitu. Dia merasa ke dinginan di cuaca yang cerah ini. Aneh, setelah tadi di perpustakaan dia merasa ke panasan, sekarang tubuh nya ke dinginan dan sedikit menggigil. Bahkan hidung nya berair juga, Echa mencabut satu lembar tissu yang ada di tengah meja.


Mungkin masuk angin karena keluar semalam?


"Jadi tadi pagi lo beneran berangkat sama Givan? Satu motor?"


Alkana membuka pembahasan.


Echa mengangguk angguk sambil menekan nekan tissu di hidung nya. "Iya, di suruh Bunda." atau lebih tepat nya di paksa.


"Terus meluk nya?" tanya Al sambil setengah ketawa.


"Kayak nya Si Givan naksir gak sih sama anak ini?" tanya Al pada Zia, meminta pendapat. "Dia sengaja gas-rem gitu supaya Echa meluk?"


Zia menatap Echa. "Gimana tuh di taksir Givan? Saingan sama si Yuyun dong."


"Ngapain gue saingan sama Ketua Geng Centil itu?" tanya Echa dengan malas, lalu menyeruput jus strawberry nya di meja.


"Kalau Givan itu hadiah utama di atas panjat pinang, misal sebut aja Ember----"


Al langsung tergelak mendengar perumpamaan Echa. "Harus banget Givan jadi Ember?"


"Atau gayung lope deh. Ibarat kan itu Givan. Kalau si Yuyun mau itu, ya dia tinggal panjatin tuh tiang, dalam arti berjuang dapetin dia. Gue gak mau, ya gue diem. Jadi gak ada saingan saingan."


"Al bilang kan di taksir bukan naksir." Zia melurus kan pemahaman Echa yang seperti nya sedikit bengkok. "Misal gini, si Yuyun dia manjat tiang buat dapetin Gayung Lope nya. Tapi, Gayung Lope itu malah menjatuh kan diri tiba tiba di tangan lo, lo mau apa?"


Al sudah tertawa terpingkal pingkal. "Sumpah! Absurd banget otak cewek cewek ini astaga." Tawa nya belum mereda. "Harus banget gibahin orang di samar kan jadi Gayung Lope?"

__ADS_1


Tak peduli dengan Al di sebelah nya, Zia tetap mendesak Echa untuk menjawab, dia penasaran. "Gimana? Mau lo apain?"


Echa malas membayang kan, malas berpikir kalau Givan akan naksir pada nya. Terlebih apa yang mendasari teman teman nya berkata begitu adalah cocoklogi dari satu kejadian ke kejadian lain.


Tapi meski begitu, pertanyaan Zia ini wajib hukum nya dia wajib jawab, kan?


Jadi ini lah tanggapan Echa.


"Kalau gue tiba tiba kejatuhan Gayung Lope nih?"


Zia mengangguk.


"Apain lagi? Pake aja buat cebok."


"Boleh kita gabung di sini?" tanya seseorang yang berdiri di samping meja mereka.


Alkana langsung menghenti kan tawa nya, karena -tentu saja- terkejut saat melihat siapa yang datang ke sana. Lalu tatap nya buru buru tertuju ke Echa, refleks. Begitu pula dengan Zia. Menyirat kan secara tidak langsung kalau yang berhak memberi izin hanya Echa.


Sedang kan Echa sendiri, merasa lidah nya kelu.


Seseorang yang baru minta izin untuk bergabung itu Kaivan, dan tentu saja tak hanya izin untuk diri nya sendiri. Tapi juga buat Dita, gadis cantik berambut bergelombang yang berdiri di samping nya, pacar nya.


Bagai mana dia bisa mengizinkan Kaivan bergabung di meja nya, bersama Dita?


Baru kemaren dia nangis kejer, gara gara dua orang itu.


Bohong kalau Echa merasa baik baik saja satu meja dengan mereka, melihat kedua nya bersanding di foto saja, Echa sudah merasa ambyar.


Apa lagi sekarang? Melihat langsung di depan mata.


Rasa nya Echa ingin menendang keras mereka supaya pergi. Jangan jauh jauh, sampai Zimbabwe saja.


"Boleh ya?" pinta Dita dengan wajah memohon yang menggemas kan. "Soal nya gak ada tempat lagi, semua meja kantin penuh."


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung......


__ADS_2