
"Kak," panggil Echa pada Kak Kaivan. "Paru-paru kembang kempis tuh gimana?"
"Napas?" kata Kak Kaivan. "Kalau napas paru-parunya kembang kempis."
Echa berdecak keras. Astaga, Echa kira apa, taunya?
"Kenapa?" tanya Kak Kaivan yang melihat mulut Echa bergerak-gerak tanpa suara.
"Ini, ada yang minta di oe-oe paru-parunya," jawab Echa asal, dan berhasil membuat Kak Kaivan mengernyit kali ini.
Tidak mengerti sama sekali.
Echa tidak menjelaskan karena dia sendiri juga tidak tahu maksud yang di katakanya. Echa hanya berkata asal.
Kemudian Echa mendekati Abang penjual martabaknya. "Bang, mau beli martabak tapi topingnya pake kerikil bisa gak?"
Abang penjual itu tertawa. "Kerikil neng?"
"Iya."
"Bisa-bisa."
***
Givan masih ingat, tangannya mengepal kuat saat melihat ada laki-laki lain yang mendekati Echa di tribun saat istirahat tadi. Givan merasa kesal sampai ingin merobek celana panjang laki-laki itu dan membuatnya menjadi rok mini.
Givan merasa begitu, di pengaruhi perasaan buruk, tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya bisa bersikap dingin, menolak pemberian minum dari Echa dan itu saja. Oh iya, dan meninggalkan helm Echa di prakiran sebagai bentuk kekesalan yang bisa di perlihatkannya.
Namun, saat melihat Echa membuat postingan di instagramnya, mirror selfie menggemaskan yang menangkan sedikit kepalanya, dengan kata-kata caption yang manis, Givan merasa ...kalau dia bisa memaafkan Echa.
Lagi pula ...mereka teman kan? Tidak seharusnya seorang teman marah saat melihat temannya di dekati makhluk lain.
Kemudian, Givan yakin kalau dia benar-benar sudah memaafkan Echa ketika Echa melakukan usaha dengan menelefonnya. Dia menolak panggilan itu bukan karena dia marah, tetapi karena ...dia merasa seperti akan menanyakan Echa ada di mana sekarang -untuk benar-benar menghampirinya -jika dia mendengar suara Echa saat itu.
Sambil menunggu Echa pulang, Givan pergi ke minimarket untuk membeli sebatang cokelat. Rencananya begini, Givan akan menggunakan itu untuk memancing Echa, agar mereka bisa bertemu malam ini.
Sekarang di minimarket Givan menjadi salaj seorang yang antre di depan kasir. Tinggal satu orang lagi antrian di depannya untuk menyelesaikan transaksi, Givan merasakan ponsel di sakunya bergetar singkat lagi.
Givan mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah pesan, dari Echa.
[Gue di depan rumah lo. Lo dimana sih?]
Kemudian, sedetik kemudian tampilan layar di ponselnya berubah. Nama Echa menyala-nyala di sana, meneleponnya.
["Lo dimana sih? Lagi ngapain? Ini gue pencetin bel pintu lo dari tadi sampe merasa bisa menjadi komposer lagu."]
__ADS_1
Komposer lagu?
Givan tersenyum. Saat akan menjawab, tatap Givan tertuju ke etalase di depan kasir. "Lagi lihatin Kinder Joy yang baris-berbaris."
["Hah? Apa sih Givan, gaje banget ih, habis nelen lukisan abstrak, ya?"]
Ya ampun suaranya, suaranya yang merajuk-rajuk itu, membuat Givan ingin ...ingin segera menemuinya, "Oca, tunggu di sana. Gue pulang sekarang."
["Tunggu di mana?"]
"Keset depan pintu, jangan ke mana-mana. Jongkok aja."
***
Echa merasa sedikit tolol dengan menuruti apa yang Givan minta, berjongkok di keser depan pintu. Namun, meski merasa begitu, Echa melakukannya sampai akhir, Echa berjongkok di keset depan pintu rumah Givan sampai laki-laki itu pulang.
"Sorry lama," kata Givan yang sudah berdiri di depannya, memakai kaos hitam yang kebesaran, di tangan kanannya ada plastik putih sementara tangan lainnya sedang sibuk mengacak rambut bagian depannya, menghilangkan bulir-bulir air yang bersarang di sana dari gerimis yang turun saat Givan berlari pulang.
Echa berdiri, dan langsung memejamkan matanya karena terciprat air dari rambut Givan.
"Aduh."
"Eh, kenapa?" Givan merapat untuk memeriksa dan Echa, kemudian mengusap kelopak mata Echa dengan lembut, meniupnya, sampai akhirnya Echa membuka mata.
Pemandangan di depan langsung leher Givan, mendongak sedikit, langsung mendapati bibirnya.
Givan tersenyum, lalu memanggil namanya, "Oca, oca." Dengan suara yang ...menggemaskan.
HEI! Sejak kapan Givan begitu?
"Apa?" tanya Echa dengan suara lemah masih setengah bingung.
"Lo lucu," katanya, lalu melakukan hal yang membuat Echa semakin terdiam lagi melihat keanehan yang terjadi di depan matanya.
Givan mengulurkan tangan, dan menggaruk bagian bawah wajah Echa seperti tengah memainkan leher kucing. "Kucik, kucik," katanya.
Apa sih?
Apa sih ini Givaaan?
Echa merasa harusnya dia marah karena di buat menunggu lama sambil di buat berjongkok di keset, malah di kucik-kucik.
Lalu, seperti tahu titik lemah Echa, tangan Givan berulah lebih lagi. Berpindah ke atas, dan mengacak rambut Echa sambil menatapnya dengan senyum.
Echa hilang ingatan seketika, apa ya yang membuatnya inin menyumpahi Givan tadi? Semuanya sudah terhapus begitu saja.
__ADS_1
"Misi bentar, gue mau buka pintu," katanya sambil menggeser tubuh Echa sedikit. Setelah memutar kunci pintunya, Givan mendorong pintu sampai terbuka lalu mengedikkan kepalanya menunjuk ke dalam. "Lo mau masuk, kan?"
Echa mengangguk, dia masuk mengikuti Givan. Lampu di ruangan baru di nyalakan saat Echa duduk. Givan menyimpan plastik berisi makanan di meja, kemudian membuka dan mengambil sebatang cokelat dari sana, menyodorkannya pada Echa.
"Buat lo, gak boleh di bagi-bagi," katanya sambil tersenyum miring.
Echa menerima cokelat itu.
Givan melihatnya ternyata, postingan di akun instagramnya. Tapi, kenapa tidak memberi love sih?
Echa cemberut.
Lalu Givan duduk di depannya, alih-alih wajah Echa tatapan laki-laki itu malah tertuju pada plastik putih yang ada di samping Echa, yang sedari tadi Echa pegang, plastik berisi martabak.
"Itu apa?" tanya Givan menunjuk menggunakan dagunya membuat Echa melihat ke sampingnya.
"Oh ini." Echa memindahkan itu ke meja. "Sesajen buat lo."
"Dari Bunda?"
"Dari gue."
Givan menahan senyumnya, dia membelikan cokelat untuk Echa, dan membelikannya martabak?
"Kenapa? Lo mau minta tolong sama gue?"
Echa menggeleng.
"Gue inget sama lo begitu lihat tukang martabak," kata Echa sambil melihat Givan yang sudah senyum-senyum. "Inget sama lo yang ngajak gue jalan sambil modus mau beli martabak. Lo cuma mau ngajak gue jalan kan waktu itu?"
Givan tidak menjawab, dia hanya menarik martabaknya di meja ke dekatnya. "Thanks, martabak apa ini?"
"Martabak toping kerikil." Jawaban Echa membuat Givan menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka plastik.
"Kerikil?"
"Iya," jawab Echa. "Tadi tuh gue nelpon mau nanya lo suka rasa apa, tapi karena lo ngeselin ngereject-reject telepon gue, jadi gue lupa mau nanya."
"Terus harus lo isi kerikil martabaknya?"
.
.
.
__ADS_1
...BERSAMBUNG .... ...