Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Cium Dulu, Gak?


__ADS_3

Alkana menghembuskan napasnya, mengambil spidol dari tangan Echa, melepaskan tutupnya dan memberikan contoh kecil di papan tulis. "Gini, terserah gayanya mau kayak apa," kata Alkana.


"Gaya pegas boleh?"


"Iya, boleh terserah," kata Alkana yang sudah lelah.


Akhirnya Echa mulai membuat Graffiti yang di inginkan Alkana. Sementara Alkana membereskan meja-meja yang berantakan bekas pakai tidur semalam.


Dia akan menulis tulisan kecil yang di minta Alkana di atas. Namun, melihat papan tulis yang tinggi, Echa merasa membutuhkan sesuatu untuk membuatnya lebih tinggi. "Alkana pengen kursi tolong."


Dan Alkana langsung memberikannya tanpa berlama-lama. "Simpen di mana, Tuan Putri?"


"Sini aja," kata Echa menunjuk ke sisinya.


"Terus, mau apa lagi?" tanya Alkana.


"Mau Starbucks boleh?"


"Ngelunjak."


Echa tertawa, lalu naik ke kursinya dan mulai mengisi papan tulis itu dengan coretannya.


Echa mungkin tidak begitu pintar di bidang akademik tapi dia kreatif. Bisa membuat scrapbook dengan kreativitanya, bisa meraut benang wol dengan syal yang cantik, dan membuat tulisan Graffiti seperti ini.


Dia suka hal-hal yang unik, sederhana, tapi menarik.


Dia suka hal-hal tak terduga juga, seperti saat Givan---


Bersama dengan pikirannya yang kembali menyinggung Givan, Echa tidak sengaja membuat coretan yang tidak di inginkan. Dia mendengus, lalu berusaha meraih penghapus tanpa bergeser atau turun dulu, malas gerak.


Dengan masih berdiri di atas kursi, tangannya terulur mengambil penghapus yang menggantung di sisi kanan papan tulis.


Dan karena jaraknya yang cukup jauh, Echa perlu lebih memiringkan badannya lagi. Miring, miring, miring, dan ke seimbangannya goyah. Echa terjatuh ke kanan.


Dalam seper-kian detik Echa merasa yakin sekali, kalau tubuhnya akan menabrak lantai kelas dengan keras. Namun, keyakinannya di patahkan saat tangannya menemukan tumpuan, dan ada tangan lain yang menahan pinggangnya sementara kakinya masih di kursi.


Jadi sekarang posisi tubuh Echa miring karena bertumpu entah pada apa.


Echa membuka mata dan terpaku saat menyadari apa yang di lihatnya adalah wajah Givan, dengan rambut yang basah serta ...tampan.


Ini mungkin yang Echa maksud aktivitas sesederhana napas dan kedip untuk melupakan kekesalannya. Napas dan kedip sambil memandangi Givan dari dekat, dia benar-benar lupa sekarang. Lupa semuanya.


Sebelum akhirnya, "WOW. ADA MENARA PISA MASUK KELAS SESAT!" Itu suara teriakan Angga, yang menyebabkan Givan mundur, melepaskan Echa hingga gadis itu.


BRUK!

__ADS_1


Terjatuh ke lantai dengan keras.


Echa meringis.


Tapi Angga, "Yah, yah, yah, kok jatuh sih? Ah, baru juga mau foto, yah gak jadi kelas SESAT punya menara pisa. Yah, Angga jadi sedih deh."


***


Echa duduk di salah satu kursi sementara Zia jongkok di depannya, sedang membantu mengolesi obat memar ke lutut dan sikut Echa, serta telapak tangannya juga.


Semuanya pergi ke lapangan karena upacara pembukaan untuk Fight 8 Fun di mulai, dan murid-murid di haruskan hadir. Jadi yang sekarang yang ada di kelas hanya Echa yang baru saja jatuh, Zia yang membantu mengobatinya, serta Givan yang hanya melihat Echa meringis sedari tadi.


Angga? Dia langsung kabur begitu melihat Echa masih bisa berdiri.


"Ada lagi gak Cha yang sakit?" tanya Zia setelah dengan lutut Echa. "Kenceng banget emang tadi jatuhnya, kok bisa jatuh sih?" Zia baru datang setelah Echa berdiri, berpapasan dengan Angga di pintu.


Echa melihat Givan. "Kenapa gue bisa jatuh ya?" Dia melempar pertanyaan.


Givan tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengalihkan tatap ke arah lain. Apa sih gunanya Givan di sana?


Echa mulai merasa risih.


Baru saja Zia berdiri dan berniat akan duduk di kursi, ponselnya berdering. Zia membuka mulutnya saat melihat nama Alkana di sana.


"Gimana Al?" Kemudian entah apa yang Alkana katakan, Echa tidak tahu, yang pasti Echa mendengar Zia berkata, "Oh iya, bentar, bentar, gue udah beres kok."


"Terus?" tanya Echa padahal sudah tahu maksudnya ke mana.


"Lo gak apa-apa?" Zia melirik sedikit ke Givan. "Atau mau ikut ke lapang?" Lalu tatap Zia tertuju ke lutut Echa, masih basah obat yang baru di oleskannya.


"Mau gendong gue gak?"


"Gue aja, gendong lo." Givan menyahut.


Echa menghela napas dan pura-pura tidak mendengar.


"Berapa lama sih satu babaknya Badminton?" tanya Echa dengan tatap yang tertuju pada Zia. "Kalah aja biar cepet selesai."


Mendengar itu Zia mengangguk. Artinya, Echa mengizinkannya pergi, hanya harus cepat-cepat. Masalah waktunya lama atau tidak bagaimana nanti saja, yang penting dia pergi dulu.


"Gue bakal kalah, dan balik ke sini secepatnya oke? Echa ku, cium dulu gak?"


Echa menggeleng tegas. "Gak. Cepet balik aja."


Zia mengangguk dan mengambil kaos olahraganya dari tas lalu buru-buru pergi.

__ADS_1


Hanya tertinggal Givan dan Echa di sana. Givan yang langsung mendekati Echa dan berjongkok di depannya.


"Maaf," bisik Givan yang akhirnya bisa mengatakan sesuatu yang ingin di katakan sedari tadi. "Gue kaget karena Angga, jadi gue lepasin lo."


"Lo gak lepasin gue, lo mundur Givan."


"Apa pun itu maaf."


Echa menatap Givan dari tempatnya, laki-laki itu benar-benar terlihat bersalah. Tapi, Echa terus bertanya, "Termasuk maaf karena lo gak mau makan gak makan roti dari gue tapi lo minum susu kotak dari Yuyun?"


Givan tidak menjawab.


"Gue sakit hati karena itu, lo tau gak? Enggak, kan?"


"Gue bukan gak akan makan roti dari lo, gue bilang nanti. Gue bakal---"


"Lo langsung minum susu dari Yuyun 'langsung' ya waktu Yuyun minta. Lo gak hargain gue."


"Cha---"


"Apa?" Echa mulai nyolot.


Givan tau, kalau dia minta maaf sekali lagi meskipun sangat ingin hanya akan membuat Echa semakin kesal, bukan? Jadi, Givan menyudahinya.


"Lo udah bisa jalan?" tanya Givan. "Gue mau nunjukin sesuatu ke lo."


Mendengar Givan berkata begitu, Echa jadi penasaran.


"Tunjukin apa?" tanyanya.


"Muralnya," jawab Givan.


Echa melihat ke belakang kelas. "Gue udah lihat. Mau minta di puji?"


"Ada yang belum bener-bener lo lihat," kata Givan lagi. "Atau mau gue gendong?"


Di tawari lagi, jangan sampai Echa keburu tidak waras dengan menganggukkan kepalanya. Echa segera mendorong tubuhnya dengan telapak tangan yang masih terasa ngilu. "Bisa kok."


Melihat itu Givan berdiri. "Ayo," katanya sambil berjalan duluan ke belakang kelas, pada gambar muralnya di sana dan Echa mengikuti dari belakang yang melangkah sambil meringis.


.


.


.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ... ...


__ADS_2