
-gigit oleh Givan-
"Astogeng!"
Mendengar suara keterkejutan itu, Echa terkesiap dan langsung menoleh ke kanan, matanya tidak bisa untuk tidak membulat sempurna saat melihat Angga Dharmawangsa di sana. "Gue pikir tuh ya, yang mau ambil banner tuh kemana lama banget? Padahal bannernya itu di gudang, bukan di lubang hitam. Takutnya di kelerin Dedemit, taunya ~."
Angga menggeleng-geleng.
"Malah zombie-zombiean."
Echa menarik tangannya di waktu yang sangat-sangat terlambat.
"Apa sih lo?!"
Echa berharap ada kenyolotan di nada suaranya, tetapi sayangnya tidak kali ini. Malah suaranya terdengar seperti bentakan lemah karena dia sedang salah tingkah.
"Lo nanya gue apa?" tanya Angga sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Cuma manusia byasa. Bukan duta sampo lain. Manusia yang gak tau kenapa suka nge-gep--e, eh ayam-ayam lupa gue."
Angga kaget sendiri, menutup mulutnya sendiri, dan menjelaskan sendiri pada dirinya sendiri. "Gue kan lagi gak akan ngomong sama lo sampe Padang Mahsyar."
Echa memutar bola matanya.
IYA KALAU TIDAK NGOMONG KENAPA SEJAK TADI MEMBACOT SIH, ANGGA?
"Lanjutin aja zombie-zombiean nya ya Echa dan Givan," kata Angga sambil menatap keduanya bergantian dan menggerak-gerakkan tangan mempersilakan. "Tumbalkan saja manusia jomblo ini untuk ambil banner ke gudang."
***
Sedikit banyak karena ketauan Angga di koridor. Echa jadi mengurangi interaksi dengan Givan hari ini. Beberapa kali setiap Givan mendekatinya untuk alasan apa pun, Echa akan sebisa mungkin menjauh. Karena jika tidak, Angga akan bersuara.
"Zombie! Zombie! Awas ada virus Zombie menyebar!"
Dan beberapa kali saat dia dan Givan tidak berinteraksi pun, Angga akan tetap bersuara, tepatnya jika ada interaksi Givan dengan Yuyun. Tidak peduli seberapa keras usaha Echa untuk memperlihatkan ketidak peduliannya, Angga akan tetap berteriak jika ingin dan masih ada suaranya.
"Kebakaran! Kebakaran! Ada asap kebakaran!"
Seperti baru saja, saat Yuyun mendekati Givan yang sudah melepaskan atasannya di belakang kelas, Yuyun menyerahkan sekotak tissu ke Givan yang sejak siang sibuk membuat mural bersama anak laki-laki lain.
Jadi tadi siang, untuk dekorasi kelas ada tambahan mendadak, mendadak sekali. Panitia penyelenggara mengumumkan kalau bagian tembok belakang kelas bebas di dekorasi seperti apa pun, termasuk di gambar.
Awalnya Alkana hanya akan memasang banner yang di hias dengan kreatif oleh anak-anak kelas. Tetapi saat Angga -sebagai ahli mata-mata- berkeliling ke kelas lain dan melihat ada yang membuat Doodle Art di tembok bagian belakang kelas -dan ada izinnya, ketua kelas SESAT itu jadi kepanasan dan menyarankan 'Bagaimana kalau kelas SESAT juga mengisi tembok belakang kelas mereka dengan mural?'
Ada banyak yang setuju, dan sanggup melakukan itu. Givan salah satunya. Dia yang paling banyak berkontribusi dari mulai membuat konsep dan sketsa awal, Givan yang melakukan nyaris semuanya dan menjadi yang paling sibuk dengan proyek dadakan itu.
__ADS_1
Sampai pukul lima sore tadi, saat hari mulai gelap dan seragam serta kaos putihnya sudah semakin terasa tidak nyaman karena penuh dengan keringat, Givan melepaskannya.
Jadi, sekarang di belakang sana Givan hanya memakai celana abunya, tanpa atasan. Dan itu menjadi alasan Echa merasa kalau tidak berinteraksi dengan Givan adalah keputusan tepat selain karena Angga.
"Alkana, kayaknya gue gak bisa pulang lebih malem deh," kata Zia yang baru saja melihat jam tangannya dan mendapati waktu sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Alkana mengangguk. "Oh iya, udah malem juga," Alkana baru sadar. "Cewek kalau yang mau pulang, pulang aja. Siapa yang bawa motor sendiri?"
"Yang gak bawa motor gak di tanya?" sahut Echa.
"Bentar," kata Alkana sambil menekan tangannya ke bawah, menenangkan Echa. "Entar lo gue anterin pulangnya."
"Echa pulang sama gue," sahut Givan dari belakang.
"Oh oke, oke. Jadi siapa cewek yang bawa motor? Yang mau pulang gue ikutin dari belakang, sampai rumah."
Selain Zia, ada dua perempuan lain yang mengangkat tangan. Tidak banyak orang yang tersisa di sana, karena beberapa sudah pulang dari sore.
"Oke, gue anter. Dua orang lagi, ada yang mau nganter?"
Yang lain saling bertatapan, sebelum akhirnya Angga dan Rido bangkit.
"Gue mau sekalian pulang juga," kata Rido. "Ntar baleek lagi."
Hanya tersisa, Givan, Echa, dan Yuyun dengan tiga teman gengnya dan tiga anak laki-laki yang baru kembali setelah pulang dulu dari sore.
Givan menyimpan pekerjaannya kemudian menghampiri Echa yang sedang duduk di dekat sambungan listrik dengan charger yang terhubung ke ponselnya.
"Jangan mainin hp sambil di chager," kata Givan sambil mencabut kepala chargernya dari sambungan listrik.
Echa sedikit terkesiap mendengar suara Givan.
Dia lebih terkejut lagi saat melihat Givan berdiri di dekatnya, masih tanpa atasan.
"Lo mau pulang kapan?" tanya Givan tanpa menyadari kalau Echa sedang berusaha keras melawan untuk tetap memusatkan fokusnya ke wajah Givan, bukan menelusuri badan Givan dari mulai bahu sampai ---- tidak, tidak.
Untung Angga sudah pergi, jika tidak pasti akan lebih awur-awuran.
Echa menoleh ke belakang, melihat pekerjaan mural itu, dan tak sengaja bertemu pandang dengan Yuyun yang masih ada di sana, menatapnya dengan penuh perasaan iri dengki yang terasa nyata.
Mampus, deh. Ha. Ha.
Sebelum akhirnya Echa benar-benar memerhatikan muralnya di belakang sana, ada bagian yang belum di beri warna.
"Belum beres, ya?" tanya Echa. "Seberesnya lo aja." Karena Echa merasa, Givan dengan rasa tanggung jawabnya itu tidak akan meninggalkan pekerjaannya sampai sana. Jika kalau Echa bilang ingin pulang sekarang, Givan akan mengantarnya lalu kembali lagi ke sekolah untuk menyelesaikan.
__ADS_1
Itu pasti.
Dam Echa tidak mau karenanya Givan harus lelah dengan bolak-balik mengantarnya dan kembali lagi.
"Kayaknya gue bakalan nginep," kata Givan dengan santai.
"Nginep?" Tak sadar suara Echa meninggi mendengar itu.
"Jadi pulang besok pagi sama gue?" tanya Givan dengan senyumnya yang nakal.
Sekarang Echa mengerjap-ngerjap. "Lo serius mau nginep?"
Givan mengangguk. "Anak yang lain juga gitu, mereka bakal pada nginep. Alkana juga."
Sekarang Echa bingung.
"Ya udah pulang sekarang," putus Echa akhirnya.
"Oke, tunggu bentar di sini, gue mau bersih-bersih dulu."
Echa mengangguk.
Setelah Givan berlalu keluar kelas, Echa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas sekali lagi. Hanya ada teman-teman Yuyun sebagai cewek yang tersisa di kelas, jadi kalau semakin lama Echa berada di sana, rasanya akan semakin tidak nyaman. Dia pasti akan merasa tersisihkan sendiri.
Tak lama, Givan kembali dan Echa segera berdiri. "Ayo," kata Givan yang sudah terlihat lebih segar dengan rambut yang basah dan sudah membalut tubuhnya dengan kaos futsal dan jaket. Sementara baju seragamnya sendiri, Givan masukkan ke dalam tas.
"Gue duluan ya," kata Echa sebelum pergi, entah pada siapa. Mungkin siapa pun yang mendengarnya?
Meski pun kelihatannya di sana tidak ada yang peduli saat Givan dan Echa berjalan keluar kelas bersama.
Hening menyelimuti dan hanya derap langkah mereka yang terdengar saat mereka berjalan menuju ke tempat parkir.
Sebelum canggung menguasai, "Gue mau tanya," kata Echa.
"Soal?"
"Gue sama Yuyun cantik siapa sih?"
.
.
.
...Bersambung... ...
__ADS_1