
"Hai," katanya saat duduk, dia menyapa Givan tak hanya dengan perkataan, tapi juga dengan senyumnya.
Echa duduk di samping Givan dan mengambil roti panggang buatan Bunda dari tengah.
"Mau selain cokelat?" tawar Givan sambil mendekatkan selai cokelat di meja ke depan Echa.
Echa menggeleng, dengan senyum. Masih sambil melihat Givan. "Enggak," katanya. "Lihat lo aja udah manis."
Bunda sampai mengangakan mulut melihat itu. "Cha?" tanya nya dengan raut wajah tak percaya. "Semalem kamu pas tidur di tepok nyamuk apa gimana?"
Biasanya nyamuk yang di tepok, tapi ini di tepok nyamuk tuh gimana Bunda?
Givan terkekeh sendiri mendengar itu, sementara tangannya mengambil roti lain, mengolesinya dengan selai, kemudian menyimpannya di piring Echa.
"Kalian pacaran?" tanya Bunda semakin penasaran, dia merasa aneh dengan tingkah keduanya hari ini. Lalu, karena Echa tidak menjawab, Bunda bertanya pada Givan secara khusus. "Kamu pacaran sama Echa?"
Givan menjawab dengan gelengan kepala. "Enggak Bun."
"Bun?" Echa mengulang bagaimana Givan baru saja memanggil Bundanya. "Manggil 'Bunda'?"
Bunda mengangguk. "Baru tau."
Hah?! "Sejak kapan?" tanya Echa.
"Sejak lubang hidung manusia ada dua dan menghadap ke bawah," jawab Bunda yang tidak benar-benar menjawab pertanyaan Echa.
Gadis itu mencebik, dan menoleh pada Givan. "Sejak kapan?" Menanyakan pertanyaan yang sama pada Givan.
"Gak lama," jawab Givan.
Echa mengangguk-angguk, dia tidak sadar.
Tapi dia senang kok, berbagi Bunda dengan Givan.
Selesai sarapan, saat Echa hendak mengambil kunci motor tangannya di hentikan oleh Givan.
"Pake motor gue aja," katanya.
"Kenapa nih?" tanya Echa sambil senyum-senyum, kalau bilang karena kemarin mereka pergi dengan motor Echa, dan Givan hanya akan membalas budi, Echa kecewa.
Tapi ternyata, apa yang Givan katakan, bisa di bilang, cukup tidak mengecewakan.
"Hari ini dekor kelas, kan?"
Echa mengangguk. Ini hari H-1 sebelum acara Fight 8 Fun itu.
"Pulangnya bisa malem kata Alkana. Bunda khawatir kalau lo pulang malem-malem bawa motor," kata Givan yang berhasil membuat Echa senyum-senyum lagi.
"Bunda nih yang khawatir?" Echa menggoda Givan.
"Gak tuh!" Bunda menyahutinya. "Bunda percaya kalau Echa ketemu begal, begalnya yang takut sama Echa."
__ADS_1
***
Di sudut kelas bagian depan dekat papan tulis Echa, Zia, serta Angga sedang sibuk dengan balon-balon berwarna merah putih yang bertebaran di sekitarnya.
Balon-balon yang bertebaran itu hasil usaha tiupan mereka, sementara masih ada banyak balon-balon lain yang perlu mereka tiup untuk dekorasi di langit-langit kelas.
"Cha," panggil Angga dengan napas terengah setelah berhasil meniup satu balon lagi. "Lo mikirin gak sih?" Sekarang Angga sedang menalikan balon karetnya.
"Mikirin apa?" tanya Echa, dia baru saja menanggapi Angga tetapi fokusnya tertuju pada Givan yang ada di tengah kelas, sedang naik ke tumpukan bangku untuk menempelkan dekorasi pita di atas.
Dalam kondisi apapun, Givan ganteng banget. T.T
"Mikirin yang Givan bilang kemarin?"
"Tentang?" Arah tatap Echa masih sama, ke Givan. Belum teralih.
"Givan yang gak akan nikah itu."
"Oh~," kata Echa santai dengan irama. "Kemarin udah di pikirin," akunya
"Terus?" tanya Angga. "Kira-kira kenapa?"
"Gue kira dia penyuka sesama jenis, tapi kayaknya enggak. Mengira dia alien, sampai mengira dia malaikat. Udah gue kira-kira semua kemarin."
"Dan akhirnya?"
"Givan bakal kasih tau gue," kata Echa sambil tersenyum lebar, dia melihat ke Angga. "Gak sekarang, tapi nanti. Givan bakal kasih tahu gue, cuma gue." Echa mengatakannya dengan penuh kesombongan.
"Karena gue Bebek Kuningnya," kata Echa dengan bangganya. "Only the Yellow Duck can know Givan's secret." Lalu, Echa senyum-senyum.
"Sok Inggris ya, gue colok lak-lakan lo pake linggis," cetus Angga.
Angga bersama jiwa Lambenya yang menggebu-gebu, terus penasaran dan memaksa Echa bernegosiasi untuk membocorkan itu -saat Echa tahu nanti, tetapi Echa tetep tidak mau. Dia ingin dia yang tau tentang apa yang Givan rahasiakan ini.
Dan akhirnya Angga yang kecewa bergeser menjauh dari Zia dan Echa. "Gue gak akan ngomong sama lo lagi, meskipun nanti kita ketemu di Padang Mahsyar."
"Apa sih pikiran lo jauh banget."
"Ingat ya!" kata Angga.
Echa hanya mengangguk dengan malah. Halah Angga, emang bisa ya? Besok lusa juga dia cengi Echa lagi.
Sekarang hanya tinggal Zia yang ada di sampingnya.
"Cha jujur ya," kata Zia dengan serius. "Lo percaya semua yang di bilang Givan benar?" tanyanya. "Maksudnya, yang sebenarnya?"
Echa mengernyit sebentar, lalu mengangguk.
"Terutama tentang dia yang katanya gak akan nikah, kayaknya itu ... enggak deh."
"Kok lo bilangnya gitu, sih?"
__ADS_1
Zia menghentikan dulu aktifitasnya sebentar meniup balon, lalu menggerakkan kepalanya, memberi kode agar Echa mendekat. "Gini ya, pikirin deh, Givan bilang 'gak akan nikah' setelah Angga bilang nikahan tinggal loncat itu, kan? Sama lo?"
Zia hanya mendengar cerita dari Echa, jadi Echa mengangguk untuk memberi konfirmasi.
"Gimana kalau itu tuh, secara gak langsung Givan lagi bilang kalau ya emang dia emang gak mau sama lo. Bukan gak mau nikahnya."
Echa mengibaskan tangannya sambil mencubit mulut balon yang baru saja di tiupnya. "Gak deh, enggak gitu. Gue denger dia bilang juga dengan keterangan 'gak akan dengan siapa pun'," kata Echa dengan keyakinannya.
"Ya kali aja, bilang gitu cuma jaga perasaan lo." Perkataan Zia membuatnya over thinking. "Dia udah tau perasaan lo, tapi nolak halus. Dengan dia bilang gak akan nikah gitu, dia bawa lo ke masa depan cuma buat menyampaikan kalau lo harus mundur dari sekarang."
Echa jadi merasa tidak nyaman mendengar itu, emang bisa begitu ya? Tak sadar kedua alis Echa tertekuk.
"Gue tuh bukan lagi menghasut lo Cha, lo jangan gitu banget dong ngeliat guenya," kata Zia. "Gue sebagai bestai lo ini cuma ngerasain hal janggal. Dia bilang gak akan nikah, dalam arti lain gak bakal berkeluarga. Tapi, kemarin dia ayunan itu dia bilang apa sama lo? Dia butuh teman, butuh keluarga. Itu menurut lo, kayak gimana? Gak nyambung, kan?"
Nah, setelah di pikir-pikir iya juga. Bertolak ke belakang.
Echa melihat kembali ke Givan yang masih berada di tengah kelas, baru turun dari bangku setelah memasang-masangakan dekorasi di sana.
Dahinya terlihat gemerlap karena berkeringat dan Givan baru saja melap keringatnya itu dengan tangan. Kemudian saat Echa sedang menikmati pemandangan yang indah itu, dia Yuyun menghampiri Givan, sambil membawa sebotol minuman.
Yuyun menyerahkan botol minuman itu ke Givan, yang langsung di balas Givan dengan senyuman manis.
Senyum yang terasa sama, yang selalu Echa lihat, yang selalu membuat Echa meleyot.
Echa kesal melihat itu, dan dia jadi bertanya-tanya. Apakah Givan memang suka tersenyum seperti itu ke semua orang? Tak hanya Echa saja?
"E, E, Eh! Apa tuh ada asap! Ada asap!" teriak Angga dengan heboh sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk ke Echa.
Zia dan Echa ikut berdiri, kemudian melihat ke sekitarnya.
Rido mendekat. "Mana-mana? Kok gue gak lihat?"
"Itu asap, di kepalanya makhluk di samping Zia." Makhluk? Maksudnya Echa. Angga sedang enggan menyebut namanya.
Semua jadi berkerumun, dan mendekat untuk melingkari Zia dan Echa, termasuk Givan.
Sementara Zia yang ada di sampingnya melihat ke Echa, dia mengusap-usap puncak kepala Echa dan tidak menemukan apa-apa. "Asap apa sih? Gak ada. Halu kali, mata lo ketutupan asap tiga roda."
Setelah itu, dengan cengirannya. "Apa cuma gue ya?" tanya Angga pada dirinya sendiri. "Iya kayaknya cuma gue yang bisa lihat asap dari perasaan yang terbakar karena cemburu!"
Echa yang baru saja di nistikan tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara pada Angga, menyemprotnya. Persetan dengan perjanjian sampai ke Padang Mahsyar itu.
"YOGA, GUE KUTUK LO JADI BARONGSAI!"
.
.
.
...Bersambung......
__ADS_1