
Givan tergelak mendengar itu dan Echa ikut merasa senang melihatnya, dia suka melihat Givan tertawa begini dari pada melihat Givan yang memaksakan senyum sambil menceritakan dirinya dan merasa rendah, merasa tidak pantas mendapatkan apa-apa.
Terlepas dari apa pun keputusan Givan di masa depan, Echa hanya ingin berusaha sekarang. Melakukan banyak hal untuk membuat Givan tidak bisa hidup tanpanya, memberikan getaran-getaran kalau kata Alkana itu.
Lagian, Givan menyukainya, kan?
"Gue cantik?" tanya Echa.
Givan yang tawanya sudah surut mengangguk, sambil mengubah sedikit letak spion kirinya agar bisa menangkap wajah Echa. "Cantik."
"Suka?" tanya Echa. "Suka gak sih sama gue?"
Givan mengangguk lagi.
"Bersuara dong."
"Bersuara dong." Givan malah mengulang rengekan Echa membuat Echa mencubit perutnya.
Saat mendekati sekolah, Echa sedikit menarik diri yang menegakkan tubuhnya. Bisa-bisa di pelototi Pak Satpam dan Guru-Guru kalau Echa tidak melepaskan pelukannya.
Ketika Echa sedang berdiri di samping motor Givan dan tangannya berusaha melepaskan helm dari kepalanya, dia malah mendapati pemandangan yang luar biasa tepat di depan mata.
Givan yang baru saja melepaskan helm, mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Dia tahu tidak sih? Di mata Echa sekarang itu seperti terjadi dengan gerakan slow motion.
"Ganteng banget sih, astaga. Heran." gumam Echa pelan.
"Gak bisa lepas helm?" tanya Givan yang menyadari kalau sedari tadi Echa hanya diam. Givan mendekat dan sekarang berdiri di depan Echa.
Echa menggeleng. "Bisa kok," katanya. "Tapi kalau mau di lepasin boleh." Echa mengangkat dagunya tinggi-tinggi agar Givan bisa membuka pengaitnya.
"Tapi kalau mau di lepasin boleh." Ada suara yang mengulang perkataan Echa dengan ada mencibir dari sebelahnya.
Setelah helmnya di lepas, Echa menoleh dan dia mendapati Angga di sana yang sedang menggerak-gerakkan kepalanya, sambil memasang wajah jelek.
"Ngereog lo?" tanya Echa sambil setengah tertawa. Di mata Echa wajah dasarnya Angga itu udah jelek, ini di jelek-jelekin makin bengek.
Apa lagi Angga malah mendekati Givan dan menyerahkan kepalanya sendiri. "Ayang, yang aku juga mau di lepasin boleh?"
"Boleh-boleh sini Ayangnya sini."
Givan malah membalas perlakuan menggelikan Angga membuat Echa yang ada di sana tergelak. "Sini gue lepasin sama kepala-kepalanya," kata Givan lagi.
Dan menepati perkataannya sendiri, Givan bukannya melepaskan helm, menempatkan tangannya di kedua sisi helm Angga kemudian menariknya ke atas.
"Anjir, anjir, kecekek gue!" kata Angga yang panik.
__ADS_1
Echa semakin tertawa melihat kepala Angga yang terangkat sampai Givan melepaskannya.
"Anjir lo mah mau lepasin jiwa gue dari raganya," kata Angga yang akhirnya melepaskan helmnya sendiri. "Jahat ya Chunky Bar lo Cha?"
"Jahat banget lah," kata Echa dengan bangga. "Sama lo doang tapi jahatnya." Lalu, tertawa lagi.
***
"Jadi lo mau ngelepasin harga diri lo?" tanya Zia. "Lo mau bersikap seolah lo pacaran sama Givan padahal Givan gak kasih lo kepastian apa-apa?"
Sekarang Echa dan Zia sedang duduk di tribun, tujuan Echa adalah melihat Givan yang sedang bermain futsal di bawah sana, sedangkan Zia menemaninya. Begitu.
Sambil matanya tak lepas mengawasi Givan, Echa juga menceritakan tentang keputusannya, bagaimana sikap dia ke depannya pada Givan.
"Givan juga gak larang, lagian, gue punya alasan kuat buat itu." Alasan yang membuat Echa bisa mengerti, apa yang masih belum bisa Givan damaikan dengan dirinya sendiri hingga dia tidak bisa memberikan kepastian apa-apa. Tapi tentu saja, Echa tidak bisa menceritakan itu ke Zia. "Gue juga perhitungan kok. Apa yang gue lakuin itu, akan worth it."
"Sok itungan, lo tadi aja jajan mie di kantin, harganya lima ribu, uangnya lima ribu, malah minta kembalian."
Echa meringis mengingat itu.
"Ya pokoknya gue ...gitu lah," kata Echa yang enggan menjelaskan panjang lebar. "Gue juga gak ngejar-ngejar banget, Givannya juga suka sama gue, cuma dia punya alasan gak bisa pacaran dulu."
"Yakin suka? Udah pernah denger Givan bilang, 'Gue suka sama lo?' dengan jelas gak?"
"Kok anggap?"
Echa menjejalkan sedotan ke mulutnya demi menghindari dari keharusan menjawab pertanyaan Zia. Dia menoleh sedikit pada temannya itu sambil tersenyum menunjukkan sedotan di mulutnya.
"Lo tuh kalau udah bucin suka agak bego-begonya gitu ya, Cha? Khawatir gue tuh kadang-kadang. Cuma ya usah sih." Zia menggeleng-geleng. "Yang penting lo bahagia aja sebadan-badan."
Kemudian saat Zia sedang mengedarkan pandangan ke seberang arah, dia menangkap sosok Kak Kaivan yang baru tiba di lapang indoor itu, dan sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapang seperti mencari sesuatu.
Lalu, dengan iseng Zia bertanya. "Jawab cepet. Givan atau Kak Kaivan?"
Echa dengan pandangan yang tertuju lurus ke Givan bawah san, menjawab, "Givan lah."
"Yakin?"
Echa mengangguk tanpa mengalihkan tatap, lalu dia terperanjat sendiri saat mendengar peluit di tiup yang menandakan kalau permainan futsal sudah berakhir. Echa buru-buru bergerak mencari botol minuman yang sudah di persiapkan untuk Givan.
"Kalau Kak Kaivan tiba-tiba deketin lo?" tanya Zia lagi.
Echa tertawa hambar mendengar itu, sesuatu yang terasa mustahil mengingat sample wajah yang pernah menjadi pacarnya Kak Kaivan, Dita yang cantik. "Gak mungkin lah."
"Kalau mungkin? Kalau lo jadi punya pilihan, lo bakal pilih siapa. Misal Kak Kaivan menawarkan lo kepastian dan Givan yang gak pasti?"
__ADS_1
Echa menggeleng-gelengkan kepala sambil berdiri dengan botol minuman yang sudah ada di tangannya. "Dah, Zizi, gue mau ke Giv---"
"Hai, Echa."
Echa yang baru akan berbalik untuk menuju ke tangga tribun itu terkejut saat melihat Kak Kaivan berdiri di dekatnya, hampir saja Echa akan menabraknya.
"Oh, Kak Kaivan?" katanya. Dia tidak tahu sejak kapan Kak Kaivan ada di sana. "Kenapa?" tanyanya sambil memeluk botol minuman yang akan di berikan pada Givan.
"Pulang sekolah ada waktu?" tanya Kak Kaivan.
Kenapa Kak Kaivan bertanya begitu? Seolah dia akan meminta waktu Echa untuk ...entah apa.
"Gak tahu." Echa tersenyum tipis. Lalu bingung, Kak Kaivan kok tidak pergi-pergi? Masih di sana, dan melihatnya.
"Kamu punya hutang untuk traktir Kakak, kan?" kata Kak Kaivan membuat Echa langsung membelalakkan mata.
Hutang?
Dan sepertinya ekspresi wajahnya menyampaikan dengan baik pertanyaan yang terlintas di kepalanya itu.
Kak Kaivan menjelaskan lagi. "Waktu Kakak anterin kamu, kamu bilang---"
"Oh, iya, iya." Echa ingat, dan dia ingat kalau dia mengatakannya karena merasa tidak enak saat itu. Jadi, itu beneran harus di bayar ya?
"Gimana pulang sekolah?"
Suara deheman kencang terdengar dari belakang tubuh Echa, itu Zia, yang sepertinya tengah tidak sabar menunggu jawabannya.
Echa merasa terdesak, dia tidak mungkin menolak, kan? Dia sendiri yang membuat janji itu.
"Mm. Oke deh," jawab Echa. Selesai dengan cepat, lebih baik, kan?
"Nanti Kakak tunggu di gerbang, atau mau di samperin di kelas kamu?"
Eh, kamu lagi?
Echa menelan salivanya, lalu menggeleng sambil melihat Kak Kaivan dengan ekspresi memohon. "Di gerbang aja, gerbang." Harus gerbang.
.
.
.
...BERSAMBUNG .... ...
__ADS_1