
Ke heningan di pecah kan tanpa peringatan oleh suara -siapa lagi kalau bukan- Angga.
Tangan Angga terjulur mencolek dagu Echa. "Ciee ChaCha nya SESAT. Hati nya lo oleng olengan gak tuh di kasih minuman kaleng sama Si Ganteng?"
Echa menghembus kan napas keras dan melihat tajam pada Angga. "Gak tuh hati gue aman, yang ada tangan gue pengen banget olengin otak lo sekarang."
Echa ingin meraih tangan Angga untuk melakukan sesuatu apa pun, tapi Si Kampret itu keburu menghindar, dan membuat Echa hanya meraih angin.
Tapi sejujur nya, barusan itu ... hampir saja Echa terbawa perasaan. Sekarang pun kalau boleh di akui, Echa jadi tidak bisa menatap Givan langsung.
Tidak tahu kenapa, aneh sekali. Terasa seperti kalau melihat mata Givan langsung sekarang, bola mata Echa akan berputar dan mencar mencar tidak jelas. Maksud nya tidak bisa fokus.
Saat Echa berdiri dan hendak menarik rambut Angga -kalau perlu sampai lepas dari kepala nya, tangan Echa lebih dulu di raih oleh Givan yang membuat Echa mau tak mau jadi melihat nya.
Mata, tidak jangan.
Lihat alis aja, atau hidung?
Bibir ... eh jangan.
Echa tidak tahu mau memfokus kan penglihatan nya kemana.
"Mau gak?" tanya Givan sambil menunjuk kan minuman kaleng itu ke Echa. Kemudian Givan sedikit memiring kan tubuh nya melihat Yuyun yang masih berdiri tak jauh dari sana. "Boleh kan buat Echa?"
Dengan terpaksa Yuyun mengangguk dan menghentak kan kaki nya sambil pergi.
Echa akhir nya mengambil minuman kaleng dari tangan Givan. "Ini di kasih ke gue nih, jadi nya?" tanya Echa memasti kan tanpa benar benar melihat ke Givan. "Mau gue kumur kumurin buat sembur Angga."
Givan menahan tawa.
"Eh gak gitu dong Cha." Angga mulai ketar ketir saat melihat Echa sudah menggenggam erat minuman kelang nya.
"Pegangin Al, biar gak kemana mana." pinta Echa sambil menunjuk Angga dengan mata nya.
"Siap Kanjeng Ratu." Al berdiri dan memegangi badan Angga dengan memeluk nya dari belakang.
"Apaan deh, hahaha. Kan request nya pegang. Bukan peluk." Zia terkikik sendiri. Ke bahagiaan nya hari ini sesederhana melihat Angga meronta ronta.
Tak ingin melewat kan momen nya, Zia segera mengeluar kan ponsel dan menyala kan fitur kameran sambil beranjak berdiri, membiar kan Echa keluar dari bangku untuk menjalan kan aksi nya.
__ADS_1
Dan Givan dari tempat nya, memperhati kan semua itu tanpa melakukan apa apa. Sebenar nya lebih ke memperhati kan Echa sih. Dia selalu di buat tertawa dengan berbagai sisi Echa yang tidak biasa.
Selagi memperhati kan nya, pikiran nya mulai berseru. Bisa bisa nya ada cewek kayak Echa di dunia ini, ya? Yang aneh dan menggemas kan termasuk saat bertingkah bar bar seperti sekarang. Mau menyembur teman laki laki nya dengan Cola?
Sementara, Zia sudah siap di tempat nya dengan kamera yang menyala. "Ayo mulai Cha."
"Al, Al, parah lo lepasin gue!" Angga semakin panik saat Echa sudah meneguk isi dari minuman kaleng nya.
Echa mengernyit saat merasa kan soda memenuhi mulut nya. Setelah sensasi soda nya mereda, Echa mulai mengambil langkah maju dan siap untuk ---- menyembur.
Dia berhasil meraih dan menarik lengan baju seragam Echa membuat gadis itu tidak jadi mendekati nya, terseret ke pinggir, lalu JDAK!
Pinggang nya menabrak meja Givan.
Melihat itu Givan dengan sigap berdiri, melepas kan tangan Angga dari Echa dan memeriksa keadaan gadis itu.
"Lo gak apa apa?"
Echa tidak langsung menjawab, dia masih terbatuk batuk. Rasa nya seperti soda yang ada di dalam mulut nya tadi baru saja masuk ke dalam hidung nya, terasa perih.
Angga yang sudah lepas dari pelukan Alkana ikut mendekat. "Sorry Cha, gue gak sengaja narik lo kenceng." kata Angga yang merasa bersalah.
"Minum, minum, kasih minum air putih!" seru Alkana.
Hidung Echa yang memerah bisa di lihat oleh semua nya saat Echa mengangkat wajah nya. Kemudian, ada satu hal yang di sadari oleh Givan tapi tidak di sadari oleh yang lain.
"Cha, maafin gu---"
"Kalian berdua tutup mata," kata Givan pada Angga dan Alkana dengan tegas.
"Hah?"
Givan tidak menjelas kan, laki laki itu memutar tubuh Angga dan Alkana agar membelakangi Echa.
"Kok, kenapa?" tanya Zia yang bingung. "Kenapa Angga sama Alkana suruh balik kanan?"
"Dua kancing atas baju Echa lepas," jawab Givan.
"Oh." Zia mengangguk, belum menyadari apa yang salah.
__ADS_1
Sampai akhir nya, suara botol minum kosong menghantam punggung Givan terdengar.
BLETAK!
Di ikuti teriakan Echa. "Kalian berdua - kalian berdua kata lo? Dan lo?!" Echa merapat kan dua kancing bagian seragam atas nya yang tidak terkancing. "Lo suruh yang lain tutup mata sementara lo pelototin gue?!"
"Gak gitu---"
"Sana menghadap!" Echa melototi nya.
Maksud nya Givan itu dia mau mengaman kan Angga dan Alkana sementara dia mau meraih jaket nya dulu untuk menutupi dada Echa tetapi, "Oke, oke." Givan menurut, ikut memutar tubuh nya juga, membelakangi Echa.
"Ck, otak mesum!" Echa terdengar masih tidak puas. "Tutup mata lo."
Givan bingung. "Oca, gue kan udah belakangin lo, masih salah ya? Gue harus menghadap mana?"
"Mungkin lo di suruh nya bukan menghadap sana lagi," sahut Angga. "Tapi menghadap ke ilahi."
"Dan mungkin maksud nya bukan nyuruh lo tutup mata lagi," sahut Alkana sambil terkekeh. "Tapi suruh tutup apa Angga?"
"Tutup usia." Angga menangkap lemparan pertanyaan Alkana dengan tepat.
Parah.
***
Karena kancing lepas itu, istirahat kali ini Echa bersama Zia pergi ke UKS. Tempat tertutup yang jarang ada orang. Mereka di sana karena Zia akan memasang kan kancing untuk Echa, dan tentu saja selama proses itu Echa harus melepas kan baju nya lebih dulu, bukan?
Jadi karena itu, mereka ada di UKS, berada di sana -menunggu dengan sangat terpaksa.
Benang dan jarum nya sudah ada dari Alkana yang mendapat kan nya dari ruang seni, hanya tinggal mendapat kan kancing saja, yang mana itu menjadi tanggung jawab Angga. Karena sudah menarik seragam Echa, Angga harus menemu kan kancing di sekolah ini bagai mana pun cara nya.
Dan sampai sekarang penyebab mereka masih ada di sana karena Angga belum kembali bersama kancing itu.
"Di bawah meja gak ada gitu, lo udah cari?" Zia berbicara di telepon dengan Angga. "Lah, ngapain ke TU?... Oh iya, sih. Bener juga. Tapi gak ada? Di kunci?"
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung... ...