
"Betul banget, harus catet sendiri dia." sahut Bunda yang sedang menyingkap tirai jendela hingga cahaya matahari sore masuk ke kamar itu, memperlihat kan visual Givan semakin jelas.
"Bunda, kok bisa bisa nya si bawa Givan ke ... aduh!" Echa menghenti kan ucapan nya dan kembali masuk ke dalam selimut nya. Tak sengaja dia melihat pantulan diri nya di cermin dan melihat wajah dan rambut nya yang benar benar berantakan.
"Sengaja, biar liat kamu yang kayak gembel," kata Bunda yang seperti nya sudah berdiri di dekat Givan, suara nya tampak dekat. "Udah yuk Givan kita ke luar, lama lama di sini juga gak baik buat kesehatan. Menghirup udara yang bercampur dengan jigong naga."
Bunda, astaga. Echa sudah malu dengan penampilan nya, sekarang di perjelas lagi, dengan aroma nya.
"Cepet keluar Echa."
Setelah mendengar langkah suara menjauh, dan pintu tertutup, baru Echa keluar dari selimut nya. Sekali lagi Echa melihat pantulan diri nya di depan cermin yang terlihat ... buruk. Buruk sekali.
Dan Givan sudah melihat ini? Lengkap dengan wajah bantal nya yang terkejut.
"Jelek banget sih lo, ah!" Echa mencela penampilan nya sendiri. "Bukan gembel lagi, gembel jamet."
Echa memaksa kan diri nya turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok gigi, mandi?
Echa menatap shower nya lalu menggeleng. "Gak dulu, ya!"
Setelah itu, Echa keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Melesak kan kaos kaki serta jaket penuh keringat nya ke keranjang cucian, kemudian menyemprot kan banyak parfum ke sekujur badan nya, dari atas sampai bawah.
Bukan apa apa, supaya dia tidak insecure saat menghadapi Givan. Bukan mau mencuri perhatian juga, jadi, gimana ya?
"Supaya gak di sebut bau jigong naga aja, udah. Tok!" kata Echa memberi penjelasan pada diri nya sendiri.
Dia melihat Givan sedang duduk di karpet ruang tengah bersama Bunda nya. Dan Echa baru menyadari nya, Givan yang masih memakai baju seragam nya, masih membawa tas nya. Belum pulang?
"Eh, udah ada di sini bahan gibah kita." kata Bunda ketika melihat kedatangan Echa di sana.
"Apaan bahan gibah? Lagi ngomongin apa sih, Bunda?" tanya Echa yang ikut duduk di sana, di samping Bunda. Lalu tangan Echa juga mengarah ke Givan, yang ternyata sedang menatap nya dengan senyum yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran laki laki itu, pasti hal buruk tentang nya." Ngapain lo ke sini?" tanya Echa langsung menyemprot Givan.
"Jadi guru tutor lo," jawab Givan dengan senyum yang masih sama.
Omong omong ke mana bibir yang sering tersenyum miring itu? Echa jarang melihat nya.
__ADS_1
"Ya udah Bunda tinggal, ya." Bunda bangkit dari duduk nya. "Mau tidur bentar, ngantuk banget Bunda dengerin kamu ngoceh semalem."
Terdengar suara tawa tertahan dari Givan saat Bunda menyinggung itu. Apa ini? Givan tahu itu?
"Ada dendam kusumat apa kamu sama yang nama nya Angga? Di panggil terus semaleman, bilang mau injek mulut nya?" Bunda tertawa. Lalu tatap nya tertuju pada Givan. "Ajarin ya, anak ini biar pinter kayak kamu."
Givan mengangguk.
Bunda tersenyum dan berlalu pergi.
Sementara Echa ngesot ke dekat Givan, mengisi tempat yang tadi di duduki oleh Bunda, "Di suruh Zia ya ke sini?" tanya Echa basa basi. Sebelum keluar, Echa sempat mengecek ponsel nya, dan mendapati Zia mengirimi beberapa pesan.
[Cha, Givan mau ke rumah lo.]
[Hati hati aja sih, sosial distancing. Dia agak gesrek.]
"Heh!" Echa menjentik kan jari di depan wajah Givan yang tidak menjawab pertanyaan nya. "Lihatin aja terus, gue emang patung museum kok."
Bukan nya menjawab pertanyaan Echa, Givan malah bertanya, "Sehat?"
"Sekolah sepi tanpa lo," kata Givan tiba tiba.
Echa ingin memasti kan indera pendengaran nya masih berfungsi dengan baik. Tidak salah dengar ya, barusan?
Masih mempertanya kan itu, dia mendengar kan lagi Givan berbicara sambil menatap nya, "Atau gue yang ke sepisan karena gak ada lo?"
Jika Givan secara khusus punya daftar untuk hal hal di sukai nya, maka Givan baru saja mengisi nomor satu.
Iya, satu. Dia suka melihat Echa yang berhasil di buat tertegun karena kata kata nya, bungkam dengan pipi memerah seperti ini.
Suka saja, seperti ada sesuatu yang menggelitik di perut nya setiap kali melihat itu. Kenapa ya?
"Wow!" decak gadis itu dengan kedua pipi nya yang masih memerah, Echa sadar tidak sih pipi nya memerah begitu? "Kedengaran nya tanpa gue, mungkin lo adalah kuntilanak tanpa rambut. Pocong tanpa kain kapan. Angga tanpa bacot nya yang luar biasa. Orang yang lagi ee, tanpa gayung dan air. Begitu Sista?"
Givan menangguk, sambil menahan tawa karena perumpamaan Echa yang semua nya terdengar lawak. "Mungkin?"
__ADS_1
"Wow lagi!" Echa meraba dada nya, sok pura pura kaget. "Lo bikin gue terbang, lo liat gak itu hati gue lagi menabrak nabrak plafon rumah, itu itu liat gak?" Echa menunjuk langit langit yang sebenar nya sih tidak ada apa apa di sana.
Tapi, Givan tertawa melihat nya. Bukan hanya untuk menghargai, tapi karena memang Echa lucu di mata nya.
"Lupain kata kata gue," ucap Givan kemudian setelah tawa nya reda. "Gue gak serius."
Gak serius.
Ekspresi wajah Echa yang semula terlihat kesal sekarang berubah jadi sedikit kaku, tapi ke kakuan itu hanya tampak sekilas saja. Selanjut nya Echa berkata begini dengan acuh. "Ya lagian siapa yang anggap serius?"
"Bagus." Givan hanya mengangguk singkat tanpa menjelas kan apa apa. Dia mulai melakukan apa yang menjadi tujuan nya ke sini, dengan mengeluar kan buku buku dari tas nya.
Dan Echa, entah lah dia sibuk melihat ke sembarang arah. Melihat apa pun sambil merasa sedikit ada yang salah.
"Kalau yang lain materi nya cuman rangkuman, yang ketika lo baca, lo bisa pahami sendiri. Kalau matematika lo gak akan ngerti kalau gak di jelasin cara mengerjaan nya kan?"
Echa diam.
"Oca."
"Hah apa?" respon Echa sedikit telat, dia baru saja hanyut dalam lamunan nya dan tidak mendengar apa yang Givan katakan.
"Lo bisa paham materi Notasi Sigma tanpa gue jelasin?"
"Oh nyanyi?" kata Echa sambil mengangguk angguk. "Bisa lah. Ya udah sih. Gak perlu lo jelasin. Nanti gue baca baca di buku paket Seni Budaya nya langsung."
"Bukan Seni Budaya, tapi Matematika." Givan menjelas kan.
.
.
.
...Bersambung... ...
__ADS_1