Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Dedemit


__ADS_3

"Shhh." Malah bertanya lagi. "Gak lama, sekitaran tiga menit yang lalu?"


Mata Zia membulat, dan Zia menunjuk nunjuk Echa. Semula Echa tidak tahu penyebab nya di tunjuk, sampai Zia bilang. "Lo berarti liat penghuni UKS kasih tanda eksistensi nya?"


"Penghuni UKS apa sih?" Echa mengernyit.


"Dedemit penghuni UKS." Apa lagi ini? "Kata Pak Mahmud baru aja nunjukin eksistensi nya dengan bengkokin nampan stainless di meja itu! Heboh banget di ruang UKS."


Echa meringis, jadi sekarang dia menjadi Dedemit?


Tanpa tahu apa yang ada dalam pikiran Echa, Zia masih dengan bersemangat nya bertanya, "Lo udah lihat belum nampan nya yang di bengkokin Dedemit? Lihat dulu yuk. Ayo! Ayo! Kapan lagi ada fenomena Dedemit bengkokin nampan?"


Echa tidak tahu apa yang membuat Pak Mahmud -penjaga sekolah- kalau yang membuat nampan itu menjadi bengkok adalah Dedemit penghuni UKS. Di detik detik istirahat pertama tadi, Echa pergi menuruti ke inginan Zia untuk pergu ke UKS.


Selain memasti kan sampai tahap apa kata kata Pak Mahmud bisa di percaya, Echa juga meminta maaf dalam hati setulus tulus nya pada Dedemit 'asli' penghuni UKS -yang bentuk nya entah bagai mana- yang sudah di jadi kan kambing hitam pada kasus bengkok nya nampan itu.


Echa sebagai pelaku asli yang membuat nampan itu bengkok, tidak ada pilihan lain selain diam. Echa terlalu malu untuk mengakui kalau dia pelaku nya setelah foto foto nampan bengkok itu tersebar di semua grup chat setiap kelas.


"Jadi Dedemit UKS bisa naik motor sekarang?" celetuk Givan yang ada di samping nya -di tempat parkiran- saat Echa baru saja duduk di atas motor dan memakai helm nya untuk pulang.


Echa menatap nya dengan malas. "Tutup mulut lo atau gue sumpal."


"Sumpal pake?" Givan tidak naik ke atas motor nya, malah bersandar di sana menghadap Echa. "Pake mulut lo?" tanya nya dengan nakal.


Mulut? Mulut katanya? "Sepatuu."


Givan mengangguk angguk. "Nanti malem temuin gue."


"Gak." Buat apa? Echa masih waras untuk tidak jadi penurut dengan mengangguk.


"Atau gue bilang ke Lambe kelas kita kalau lo yang----"


"Wah, lo ngamcam gue?" Echa tidak percaya kalau dia harus sampai pada tahap memohon pada Givan, demi nama baik nya yang tidak berubah jadi Dedemit.


Kemudian Givan mengedar kan pandangan nya ke arah lain, lalu tersenyum penuh arti saat melihat Angga yang ke betulan sedang beejalan di dekat sana. Ke betulan yang membagong kan bagi Echa.


"Itu anak nya." tunjuk Givan dengan dagu nya. "Mau gue panggil?"


Echa melihat ke arah yang di tunjuk Givan.


"Kalau dia tau tentang fakta di balik berita yang udah viral hari ini, gimana kira kira? Gak cuma anak SMA Nusa Bhakti, alien di luar angkasa sampe nenek moyang lo kayak nya bakal tahu." Dalam arti lain, jika Angga sampai tau itu akan menjadi berita besar yang jelas imbas nya mempermalukan Echa.


Jadi akhir nya, tidak ada yang bisa di lakukan Echa selain menuruti apa yang di ingin kan Givan Sialan itu.


"Nanti malem? Gue harus ke rumah lo?"

__ADS_1


"Bukan rumah gue," kata Givan. "Deket rumah kita, ada taman."


Secara tidak langsung Givan bilang Echa harus ke sana?


"Ngapain sih? Nyari kodok?" Echa mendengus. "Malem lampu nya suka mati hidup." Itu benar, tidak ada yang bisa di lakukan di sana selain melihat lampu yang mati dan hidup dalam kurun waktu lima menit sekali.


"Jam delapan, jangan ngaret."


***


Jika bukan karena Givan, Echa tidak akan duduk di bangku taman malam ini sambil menampar tangan dan betis nya sesekali untuk membunuh nyamuk yang berlomba lomba ingin menghisap darah nya.


Setelah lima kali lampu mati hidup sejak Echa duduk di sana, sedang kan Givan? Belum datang juga.


Kata nya jangan ngaret, tapi dia sendiri yang tidak datang tepat waktu.


"Sekali lagi lampu mati dan anak itu belum dateng, gue kasih dia gelas cantik."


Dan tepat setelah Echa mengata kan itu, lampu mati.


Echa langsung berdiri sambil menghentak kan kaki. Dia baru sadar sudah menjadi sangat bodoh karena berhasil masuk dalam jerat tipu daya Givan.


"Terima kasih sudah menampung pantat gue di sini," kata Echa pada bangku taman sambil setelah membungkuk. Setelah melakukan hal konyol itu, Echa berbalik untuk pulang.


Echa bisa melihat Givan dengan jelas di atas hoverboard yang melaju ke dekat nya, laki laki itu berdiri dengan begitu santai dan stabil, bahkan saat kedua tangan nya tenggelam ke dalam saku celana, dia tidak terlihat goyah malah terlihat ... tampan. Eh, gimana?


Givan berhenti tepat di depan Echa, dia tidak turun dari hoverboard nya membuat tubuh nya jadi lebih tinggi dan Echa harus ekstra mendongak.


"Jadi tujuan gue ke sini?" Echa langsung bertanya. "Cuma buat di gigitin nyamuk?"


Givan menunjuk ke bawah. "Mau naik sama gue?"


Echa ikut melihat ke hoverboard nya. Menaiki itu bersama Givan? Agak nya sedikit ngeri ya.


Tidak sadar, Echa menyampai kan kegerian nya itu lewat raut wajah nya.


Givan berputar sekali, menunjuk kan kalau dia andal mengendali kan hoverboard itu.


"Ini seru loh," kata Givan. "Gue jamin lo gak akan jatuh, lo percaya sama gue?"


"Enggak," kata Echa dengan jujur.


Ya lagi pula kalau tidak akan jatuh juga, tolong dong liat dengan seksama. Di sana tidak ada ruang tersisa untuk Echa naik, kecuali benar benar memeluk Givan erat, atau ... itu maksud Givan? Supaya di peluk?


"Bye the way, gue udah punya kontak Angga," beritahu Givan yang Echa mengerti maksud nya apa, desakan halus kan ini?

__ADS_1


"Ayo naik," kata Givan yang sudah menurun kan satu kaki nya.


"Gue akan nuntut lo kalau sampe jatuh." Echa memberi kan peringatan nya dengan serius.


Dan Givan mengangguk, dia benar benar percaya diri kalau dia tidak akan membuat Echa jatuh.


Kemudian Givan menunjuk kan telapak tangan nya pada Echa. "Pegangan dan naik."


Echa menurut, dia meletak kan tangan nya di sana yang langsung di sambut dengan genggaman erat oleh Givan.


"Siap ya?" kata Givan.


"Kalau gue bilang gak siap lo juga tetep bakal lakuin apa yang mau lo lakuin, kan?"


Givan tersenyum, tepat sekali.


Setelah memasti kan Echa berdiri dengan benar, laki laki itu menaik kan kaki nya ke hoverboard. Sempat goyah selama beberapa saat sebelum akhir nya, Givan berhasil membuat nya stabil untuk di naiki oleh mereka berdua, sekaligus berhasil membuat tangan Echa melingkar di pinggang nya.


"Lo bisa buka mata," kata Givan pada Echa yang memejam kan mata nya erat. Gadis itu benar benar tidak percaya pada nya.


Selagi kelopak mata Echa terbuka, Givan membuat hoverboard itu berputar pelan.


Bagai mana menjelas kan nya ya?


Wajah Givan sekarang benar benar di atas Echa. Bahkan di lihat dari sudut ini, Givan terlihat tetap ... tampan -entah bagai mana bisa.


Ya memang pada dasar nya Givan sudah tampan, meski pun di pukul nampan seribu kali?


Echa jadi bertanya tanya, 'Bagai mana bisa ya ada manusia yang ganteng nya tuh ganteng banget. Banget nya tuh banget banget. Banget banget nya tuh, banget banget banget.'


"Lo gak jatuh, kan?"


Pertanyaan Givan membuat Echa sedikit mengerjap.


"Jatuh ke tanah? Enggak sih."


Echa mengata kan nya masih dengan tangan melingkari Givan, masih di atas hoverboard yang berputar pelan. "Tapi kayak nya gue bisa jatuh cinta kalau terus kayak gini."


.


.


.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2