Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Mau Ke Racunan


__ADS_3

Alkana melirik ke sebelahnya, tepatnya pada Givan, kemudian dia menekan tombol pengeras suara.


"Iya Cha, ini Givannya ada tinggal satu lagi, mau di paketin sekarang? Di tunggu pembayarannya ke Shopeepay ya." Alkana tertawa lagi setelah mengatakan itu, kali ini dengan Givan juga.


["Halah, mucikari lo?!"]


"Wust, bahasa lo gak di filter!" Alkana masih tertawa. Lalu, menggeleng-geleng. "Kenapa? Ada apa? Ini Givannya ada di sini mau apa?" tanya Alkana.


["Kenapa gue telepon gak di angkat? Eh jangan di tanya sama lo, gue aja, kasihin aja ke Givan hpnya."]


Alkana menurut dan memberikan ponselnya ke Givan.


"Pake aja, gue mau nerusin lagi dekor," kata Alkana sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Givan yang bertelepon dengan Echa.


"Iya gue kenapa?" tanya Givan begitu menempelkan ponselnya ke telinga. "Hp gue di charger, gue gak tau lu nelpon."


["Oh. Bisa VC gak?"] tanya Echa langsung.


"Sure." Givan menjauhkan ponselnya dan membuat panggilan mereka beralih jadi video.


Sekarang di layar ponsel Alkana tampak Niscala Rescha dengan background lampu kelap-kelip di belakangnya, serta yang membuat Givan tersenyum manis adalah bentuk nanas-nanas kecil di bandu yang di kenakannya.


"Kenapa?" tanya Givan lagi yang belum mendapatkan jawaban, alasan Echa meneleponnya.


["Gue mau tanya, ada berapa orang di sana?"] tanya Echa.


Sejenak Givan diam, dia merasa pertanyaan ini bisa di jawab oleh Alkana juga. "Tujuh," jawab Givan.


Echa tampak mengangguk. ["Bunda mau kirimin makanan ke sana. Buat cemilan gitu, di kirim pake kurirnya pengiriman nanti lo ambil di depan ya. Harus lo yang ambil."]


"Oke," kata Givan.


Lama Echa terdiam, melihat ke bawah entah sedang melihat apa. Lalu, bertanya lagi, ["Lo bawa jaket?"]


"Bawa."


["Selimut? Bantal?!"]


"Gak sekalian kasur?"


Echa berdecak. ["Bawa gak?"]


Givan tersenyum. "Cha, gue bukan mau kemah."


["Mm, oke terus---"]

__ADS_1


Echa melihat ke bawah lagi. Givan jadi curiga apa Echa sedang mengintip catatan di sana. "Lagi lihat apa sih?"


["Bentar,"] kata Echa masih asik menunduk, membuat Givan hanya bisa melihat nanas-nanas kecil yang ada di kepalanya. ["Udah sih itu aja."] Akhirnya Echa mengangkat kepalanya. ["Lo gak marah, kan?"]


"Bukannya lo yang marah sama gue?" tanya Givan.


Echa tampak menggigit bibir bawahnya. ["Enggak. Maksudnya udah enggak. Bukan udah gak marah sama sekali, enak aja!"]


Givan merasa terhibur dengan kejujuran Echa, cara Echa mengatakannya. Entah mengapa, itu menarik.


["Oh ya, ada yang mau gue tanya."]


Givan mengangguk.


["Tadi kenapa lo gak panggil gue ... Ola?"]


"Karena lo lagi marah, kalau gue di sembur muntahkan whiskas kan gak lucu."


Sebenarnya, bukan itu tepatnya, tapi karena Givan merasa bersalah.


["Oke, deh."] Echa tersenyum. ["Gue tutup, ya? Dadah."]


Setelah itu panggilan terputus.


Menuruti janjinya, Givan sendiri yang membawa itu ke gerbang. Dan dia mendapati dua paper bag dari kurir itu, satu besar berwarna cokelat dan satu lagi kecil berwarna kuning.


Sambil berjalan kembali ke kelas setelah menerimanya, Givan menelepon Echa.


"Paketnya udah gue terima, ada dua, kan?" kata Givan begitu panggilan terhubung.


["Yang cokelat itu buat ramean, yang kuning cuma buat lo. Jangan di kasih-kasih."]


Mendengar itu Givan jadi penasaran. Dia membuka paper bag yang warna kuning.


Isinya ada sekotak kue macaron berwarna kuning. Lalu, syal rajut berwarna cokelat susu, kemudian ada satu yang terpisah di plastik klip kecil, peralatan mandi, obat nyamuk, dan satu sachet lotion anti nyamuk dengan sebuah catatan kecil di sana.


Yang tertulis di catatan itu:


[Obat nyamuknya boleh di bagi-bagi, tapi lotionnya cuma harus di pake sama GIVAN!


Bukan pelit. Gue tadi beli ke warung, dan cuma ada satu. Jangan di minta yang lain, harus di pake sama lo aja. Gue cium besok buat periksa lo pake atau enggak.]


Givan terkekeh sendiri setelah membacanya.


"Oca?" panggilnya pada Echa di telepon yang masih terhubung. "Ini besok gue harus di cium lagi sama lo?"

__ADS_1


["EH?!"]


"Di catatannya, lo bakal cium buat periksa---"


["Eh, eh, maksudnya tuh gue cium wanginya di bakan bukan cium ituuu. Gue nulis catatannya buru-buru gak di baca lagi, gue kira drivernya bakal dateng lama, imi dateng cepet banget."] Echa memberi klarifikasi. ["Gue kasih bintang empat apa ya? Harusnya kan nyasar-nyasar dulu muter-muter dulu gitu di kompleks biar gue bisa baca lagi catatannya."]


Givan tertawa sendiri lagi-lagi hanya mendengar suaranya, tapi dia bisa membayangkan wajah Echa saat mengatakan itu.


["Ya pokoknya awas, aja kalau tangan kakinya besok gak ada wangi jeruk bekas lotion."]


"Kalau gue pakenya di bibir, bakal bibirnya juga yang di ciumnya?"


["AH GIVAN NGAPAIN PAKE LOTION NYAMUK DI BIBIR? MAU KERACUNAN?"]


***


Echa datang ke sekolah pagi sekali hari ini.


Hari ini adalah hari berlangsungnya "Fight 8 Fun," dan tentunya untuk memeriahkan acara itu, murid-murid di bebaskan dan kegiatan pembelajaran dalam ruangan. Namun, meski tahu kalau hari ini tidak ada kegiatan di dalam kelas, begitu sampai di sekolah Echa tetap pergi ke kelas untuk ...menemui Givan yang semalam menginap.


Dia menjinjing paper bag lagi di tangannya, yang isinya adalah makanan pengganjal perut seperti risoles, lontong isi sayur, dan susu dari Bunda untuk anak-anak yang semalam mengerjakan mural, katanya.


Saat memasuki kelas, bau khas pilox langsung tercium. Echa menutup hidungnya, dan masuk. Dia mengedarkan pandangannya, kursi-kursi dan meja sangat berantakan, beberapa meja di jadikan satu. Seolah kasur beberapa ada yang tiduran di sana, salah satunya Alkana.


Echa tidak melihat ada Givan tiduran di meja yang berubah fungsi menjadi kasur, dia berjalan ke belakang dan melihat ada yang berbaring di lantai, tanpa alas, tanpa atasan, dan wajahnya di tutupi sehelai syal rajut yang di kirimnya kemarin untuk Givan.


Ini ... Givan? Echa menyakininya karena syal itu.


Echa berjongkok dan menyimpan paper bag nya di sebelah, dan mengguncangnya. "Kok tidur di sini sih?"


Yang di guncang hanya mengeliat sedikit sambil menggaruk-garuk kepalanya. Saat tangannya terangkat, Echa tidak sengaja melihat kumpulan rambut-rambut hitam di ketiaknya.


Echa langsung memejamkan mata.


"Iuh," desisnya pelan masih dengan mata yang terpejam. Kemudian saat Echa membuka matanya lagi, dia mencubit ujung syal untu menggesernya agar menutupi bagian itu, agar tidak terlihat lagi.


"Bangun ih!" desis Echa lagi setelah itu. "Sarapan dulu. Terus gak akan mandi, gitu?"


.


.


.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2