Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Mamam Wajah Ganteng Ayank


__ADS_3

Sementara Yuyun, di waktu dan kesempatan yang Givan berikan untuknya. Yuyun belum berhasil.


Masih Echa pemenangnya, iya Echa. Gadis yang masih duduk di sampingnya sekarang dan baru saja memukul tangan nya sendiri sambil mendengus kencang.


Niscaya Rescha, yang tidak bisa Givan jauhi.


"Givan plis, kapan gue bisa pulang?" Echa terdengar frustrasi. "Capek gue di gigit nyamuk terus. Lo enak pake sweater panjang."


"Bentar lagi," kata Givan yang masih ingin bersama Echa.


"Gue udah bentol-bentol." Echa menunjuk tangannya yang penuh kemerahan. "Siniin sweater lo, gue pake."


Givan mengangkat ujung sweater nya sedikit dan memperlihatkan perutnya langsung pada Echa, "Gak pake baju lagi gue, Oca."


"Itu sweaternya oversize," kata Echa memperhatikan sweater yang di pake Givan. "Muat gak sih kalau gue juga masuk ke sweater lo?"


Echa yang kesal karena digigit nyamuk sepertinya mulai hilang akal.


Givan tergelak. Nah kan. Sedang kesal saja Echa visa membuat Givan tertawa.


"Muat kayaknya," kata Givan. "Mau coba masuk?"


"Mau! Mau! Mau!"


Entah apa yang merasuki Givan saat itu, Givan mengulurkan tangan nya, mengusap pelan kepala gadis yang masih duduk di samping nya, yang baru saja mengatakan hal yang terdengar bersemangat dengan wajah datar.


Dan Echa, saat tangan Givan hinggap di rambutnya, dia merasa seperti kadar oksigen baru saja menghilang dari sekitar, rasanya dia tidak bernapas atau memang hidupnya yang memutuskan tidak bernapas?


"You are like a rainbow that appears after the rain," gumam Givan masih dengan tangannya yang ada di atas kepala Echa. Senyumnya masih sama, dan tatapnya lembut, yang benar-benar membuat Echa merasa seperti ingin meninggoy.


Echa harusnya protes, Givan itu kenapa sih kalau sudah begini? Mau bikin baper? Setelah itu, wanti wanti lagi jangan suka karena Echa bodoh?


Tapi tidak ada protes, kenyolotan, atau semacamnya yang keluar dari mulit Echa. Malah pertanyaan yang di suarakan dengan pelan, "Gue, rainbow?"


Givan menganggukinya.


"Maksudnya, melengkung gitu?"


"Full of colour," jelas Givan dengan senyumnya yang lagi lagi membuat Echa tidak kuat hingga langsung mengalihkan tatap ke depan.


Dia menyingkirkan tangan Givan dari kepalanya.


"Jangan parkirin lagi tangan lo di sini," kata Echa setelahnya, tanpa melihat Givan. "Kalau gak ada tempat buat gue parkir di hati lo."

__ADS_1


***


Echa menatap pantulan dirinya di depan cermin pagi ini, wajah bantalnya yang belum di basuh sejak bangun tidur. Echa menatapnya lama-lama dalam diam, kemudian tanpa sadar tatapanya tertuju ke sisi kepala -yang kemarin di sentuh Givan.


"Bisa-bisanya karena itu gue jadi mimpi dia," kata Echa sambil menyalakan keran air dengan gerakan malas.


Motornya sudah selesai di servis, Echa tidak harus siap lebih awal lagi untuk order ojek online. Tetapi saat waktu baru menunjukkan pukul 06.15 Echa sudah terlihat rapi dengan seragamnya, sudah keluar dari kamarnya dan menjinjing tas.


Dia menghampiri meja makan untuk sarapan dan mendapati Bunda ternyata sudah menyiapkan tiga piring di sana.


"Papa pulang semalem?" tanya Echa pada Bunda yang sedang memanggang roti di toaster.


"Belum, kenapa?"


Jadi kalau hanya ada dua orang di rumah ini, kenapa Bunda menyiapkan tiga piring?


Apa Givan akan sarapan di sini?


Sepertinya iya.


Echa menyimpan tas nya di dekat kaki kursi kemudian berjalan ke dekat rak piring mengambil kotak bekal dari sana. Selanjutnya dia menghampiri Bunda, "Ada roti yang udah mateng?" tanyanya.


Bunda hanya menunjuk ke piring panjang dengan beberapa roti yang sudah selesai di panggang.


Echa meminum susu cokelat yang ada di meja dengan cepat.


"Bunda aku berangkat sekarang," kata Echa, menghampiri Bunda nya lagi untuk meraih tangan dan menyaliminya.


"Kok? Emang jam berapa sekarang?" Bunda kebingungan sendiri.


"Mau piket," kata Echa berbohong kemudian pergi.


Sebenarnya Echa hanya ingin menghindari Givan. Selama, lamanya? Atau mungkin sampai Echa membaik.


Semalem sesampai nya di rumah sepulang dari taman, Echa merasa kegelisahan yang aneh. Seperti ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dengan kepalanya yang terus memikirkan tentang--- dan puncaknya pagi tadi. Saat bangun dan ingat kalau yang muncul dalam mimpinya adalah ... Givan.


"Mungkin karena gue akhir-akhir ini cukup intens ketemu dia."


Itu dalih yang Echa buat.


Iya mungkin hanya itu, bukan apa-apa.


Tapi sesampai nya di sekolah, tepatnya saat melewati tangga untuk ke kelas, Echa malah terpaku lama-lama, berdiri di sana sambil mengingat apa yang pernah terjadi, bersama Givan.

__ADS_1


Kecelakaan di hari pertama Givan datang karena papan tulis itu.


"Ayo dong Echa," kata Echa pada dirinya sendiri yang masih belum bergerak. "Givan cuman usap kepala lo aja, bukan delete otak dari kepala lo."


Echa menghembuskan napas kemudian melanjutkan langkahnya -dengan sedikit dorongan yang penuh usaha.


Echa sampai di kelasnya dan melihat Zia yang sudah datang lebih dulu. Hari ini jadwalnya Zia yang piket, bukan Echa.


"Loh, udah datang lagi Mbak ini?" kata Zia masih sambil menyapu bawah meja, mengambil debu dari sana.


"Hm ke inget lo piket," Bohong banget. "Suka dateng paling pagi sendirian lagi. Takutnya di makan Dedemit UKS."


"Aaa Bestieku." Zia melepas sapunya untuk berlari dan memeluk Echa yang baru sampai ke samping bangkunya. "Baik banget cih, mamam apa hari ini?"


Hanya minum susu cokelat dan Echa belum sarapan apa-apa lagi pagi ini, tapi dia semalam cukup kenyang dengan, "Mamam wajah ganteng Ayank."


Zia melepaskan pelukannya dan melihat Echa sambil mengerjap. "Lo udah move on dari Kak Kaivan?"


"Maksudnya?"


"Udah punya Crush baru?"


Echa menggeleng.


"Gak ada?" tanya Zia.


"Gak tahu."


Zia tersenyum penuh arti. "Deket sama siapa sih akhir-akhir ini? Jangan bilang---" Echa membeku menunggu Zia menyambung kata-katanya yang menggantung. Kalau sampai nama itu do sebut--- "Angga?"


"WHAT?!" BUKAN ITU! Echa langsung mendorong Zia untuk menjauh. "Angga? Bisa-bisanya lo nyangka dia bakal jadi Crush gue?"


Senyum masih belum luntur dari wajah Zia. "Ngaku aja," kata Zia sambil mencolek dagu Echa. "Terharu kan lo kemarin? Karena Angga rela pergi jauh-jauh demi dapet kancing buat lo?


Wah.... Echa sangat berterima kasih untuk itu, tapi ya tidak sampai membuat Angga alias Si Lambe-Lambean itu jadi Crush nya juga. Echa masih sangat waras.


"Penyangkalan yang keras adalah penegasan yang kuat," kata Zia membuat Echa menghembuskan napas kasar.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung.... ...


__ADS_2