Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Halo. Halo. Halo


__ADS_3

Kemudian setelah itu, tatap nya tertuju ke tangan Echa. Givan meraih dan mengusapnya pelan.


"Echa."


Saat Givan kembali menatapnya lagi, Echa merasakan itu. Seperti ada banyak hal yang ingin Givan katakan, tapi di tahan, olehnya sendiri. Entah kenapa.


Kalau seperti ini kan, Echa jadi merasa bersalah karena sudah menyemprotnya.


Terlebih saat Givan tiba-tiba saja mendekat dan menjatuhkan kepalanya di bahu kiri Echa, gadis itu berhasil di buat tidak bisa apa-apa.


"Maaf," bisiknya sekali lagi. "Maaf, Echa."


***


Untuk jarak tempuh tiga kilometer dari sekolah yang di lewati Givan saat mengantar Yuyun, seharusnya tidak memakan waktu lebih dari setengah jam. Seharusnya Givan bisa kembali lebih cepat supaya dia tidak membuat Echa menunggu lebih lama.


Seharusnya begitu, jika saja Yuyun tidak salah menuduhkan arah ke rumahnya dan membuat mereka berputar-putar.


"Sorry, Van. Gue baru pindah rumah dan gue gak pernah pulang malem. Jadi agak rabun arah."


Itu yang di katakan Yuyun sebagai pembelaan saat Givan merasa sulit menerima kenyataan kalau ada orang yang lupa rute jalan pulang ke rumahnya sendiri.


Setelah Yuyun turun dari motornya, Givan kembali ke sekolah secepat mungkin untuk menjemput Echa.


Sesampainya di gerbang sekolah, rasa khawatir langsung menyergapnya saat dia tidak mendapati Echa duduk di depan pos satpam.


Berusaha tenang dan yakin kalau Echa baik-baik saja Givan mengambil ponselnya dari saku untuk menghubungi, dan kemudian baru menyadari kalau ternyata ponselnya sudah kehabisan baterai entah sejak kapan.


Dia pergi ke kelas untuk menyambungkan ponselnya dengan pengisi daya, dan sebelum ponselnya benar-benar menyala, Givan lebih dulu mendapat informasi dari Toni yang bilang kalau ternyata Echa sudah pulang bersama Kak Kaivan.


Entah Givan merasa tidak percaya kalau tidak memastikan sendiri, Givan kembali pergi untuk menyusul Echa. Dia akan pulang untuk memastikan sendiri Echa sampai di rumah dengan selamat.


Namun dia melihat Echa lebih cepat.


Saat dalam perjalanan Givan menemukan Echa di motor bersama Kak Kaivan. Helm merah muda milik Echa yang memberi tahunya.


Diam-diam Givan mengikutinya. Sampai di lampu merah, dia berhenti di sebelah kiri tidak jauh dari tempat mereka.


Ada perasaan aneh yang bergumul di dadanya saat Givan sedang melihat kedua orang itu, terlebih saat melihat laki-laki yang mengendarai motor di depan itu tertawa oleh entah apa yang Echa katakan.


Perasaan anehnya semakin jelas, seperti ada sesuatu yang memenuhi rongga dadanya, perasaan ... sesak? Cemburu? Yang entah apa pantas Givan rasakan atau tidak.


Semakin lama perasaan itu terasa semakin kuat, tapi seolah Givan menghukum dirinya sendiri, dia tidak membiarkan dirinya merasakan itu. Givan tetap menjaga jarak melaju di belakang, memperhatikan keduanya dalam perjalanan pulang sampai Kak Kaivan benar-benar menurunkan Echa di depan rumahnya.

__ADS_1


Givan merasa semakin konyol saat mendapati dirinya merasa tidak terima melihat Echa bersama orang lain.


***


Givan memejamkan mata dengan punggung yang bersandar pada tembok depan kelas.


Saat membuka mata, dia melihat mural yang ada di tembok belakang. Belum selesai sepenuhnya.


Givan sudah kembali ke sekolah untuk menginap sambil mengerjakan muralnya lagi, sekarang pukul sembilan malam dan Givan sedang mengambil istirahat sebentar.


Tangannya di senggol oleh Alkana yang langsung menyodorkan minuman kaleng dingin. "Biar seger," kata Alkana.


Givan menerima itu dan mengangguk, saat melihat minuman kaleng merah itu ada di tangannya, dia teringat Echa.


Echa dan minuman kaleng klubuk-klubuknya.


"Lo suka sama Echa?" tanya Alkana sambil meneguk minuman kalengnya sekali, dia memerhatikan raut wajah Givan sambil menunggu jawaban. "Gue bukan mau cepu kok, apa lagi sebar-sebar kayak Si Angga."


Givan tersenyum lalu mengangguk. "Siapa yang gak suka sama Echa?" tanyanya.


"Banyak," kata Alkana terkekeh, karena bagaimana Givan menyebutnya, terdengar seperti Echa itu makhluk gampang yang di sukai semua orang. "Echa itu berisik, sebagai cewek gak deh. Gampang kesel juga, astaga. Angga napas aja kesel kayaknya. Apa lagi kalau udah marah, dia suka nyumpah-nyumpah, gak banget mulut."


"Tapi lucu."


Givan terkekeh pelan.


"Jadi suka?" Alkana mengembalikan topiknya lagi.


"Mm." Givan mengangguk.


"As a girl or ... friend?" tanya Alkana.


Givan tahu apa jawabannya, tapi di saat yang sama dia juga tidak ingin dirinya tahu. Menolak tahu.


"Karena kayaknya Echa suka sama lo," kata Alkana. "Lo tau, kan? Gak mungkin gak tau."


Soal itu, tuduhan Alkana benar. Givan memang menyadarinya tentang apa yang Echa rasakan dan tunjukkan, sejak awal. Tapi, setelah itu? Givan bilang kalau, 'Iya Givan tahu Echa menyukainya,' akan jadi terasa jahat kalau Givan ... hanya membiarkannya sampai sana. Sementara untuk melanjutkannya, menaikkan hubungan mereka ke status yang sedikit lebih tinggi, berpacaran, Givan masih tidak bisa.


Jika itu terjadi, hanya akan jadi hubungan tanpa tujuan dan sia-sia, jika pada akhirnya nanti, Givan memutuskan untuk tidak akan menikah, tidak ingin membuat siapapun menjadi bagian dari hidupnya yang ...dia sendiri pun tidak ingin mendapatkan kehidupan yang seperti ini.


Itu yang menyebabkan Givan pura-pura tidak melihat, tidak tahu, tidak merasa apa-apa di depan Echa. Karena dia tidak ingin memberikan harapan apa-apa.


Oleh semua karena itu juga, sebab Givan meminta maaf.

__ADS_1


"Lo katanya tadi anter Yuyun, dan gak jadi anter Echa?" tanya Alkana.


Givan mengangguk, dia jadi ingat kembali kemarahan Echa.


"Lo gak maksud main-main sama Echa dan Yuyun, kan?"


"Enggak," jawab Givan.


"Terus lo kenapa kayak deketin dua-duanya?"


"Gue berusaha terbuka sekarang, berusaha berteman. Gue deket sama siapa pun yang deket dan mai berteman sama gue, itu alesan gue deket Yuyun, karena Yuyun deketin gue. Tapi Echa, gue yang deketin, gue yang mau."


Alkana takjub dengan jawaban itu. "Ulang lagi dong, mau gue rekam terus kasih ke Echa. Bakal seneng kayaknya dia. Hahaha."


Di tengah pembicaraan mereka yang akhirnya jadi kemana-mana, Alkana merasakan ponselnya bergetar, dia merogoh dan melihatnya.


Echa menelepon.


"Kayaknya tau lagi di omongin," kata Alkana sambil menunjukkan layar ponselnya ke Givan. Sebelum akhirnya mengangkat panggilan.


Suara cempreng Echa terdengar.


["Alkana di sana ada Givan---"]


"Aduh, sabar dong Mbak, bilang 'halo' dulu. Halo?"


Echa terdengar berdecak.


["Halo. Halo. Halo."]


Alkana tertawa mendengar perkataan yang penuh dengan keterpaksaan itu.


"Iya, halo, gimana Cha?" tanya Alkana.


["Alkana di sana ada Givan gak sih? Ih sumpah mau nanya itu aja harus banyak berbacot dulu."]


.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2